Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 13


__ADS_3

"Apa maksud dari ini semua?" gumamku yang tidak mengerti dengan maksud kekuatan Heypersex, sungguh sesuatu yang tidak masuk akal.


Hingga, suara pintu yang berdenyit dan terbuka perlahan. Menampakan Profesor Ruden yang datang dengan sebuah nampan, lalu menghampiri.


"Prof! Apakah aku bagian dari keluarga Lubis?" tanyaku seketika, dan membuat lelaki itu terdiam sesaat.


"Apakah, kamu masih belum menyadarinya?"


"Maksudnya?"


Satria masih belum mengerti dengan ini semua, tentang kekuatan yang dimiliki oleh keluarga Lubis yang pernah menguasai negara X.


Profesor Ruden pun meletakkan nampan yang berisi semangkuk sup hangat dan segelas air, diatas meja. Kemudian mengambil buku yang berada ditangan Satria.


"Apa kamu sudah membacanya sampai habis?" tanya Profesor Ruden dan mendapatkan gelengan kepala dari Satria.


"Kalau begitu? Lanjutkan!" perintahnya dan berlalu begitu saja.


Satria semakin bingung dengan keadaan yang tengah dihadapinya, hingga dia memutuskan memakan sup yang sebelumnya di bawa oleh Profesor Ruden dan mulai makan.


Setelah selesai makan dan perutnya terisi, Satria melanjutkan membaca buku yang diberikan oleh Profesor Ruden kembali.


Didalam buku tersebut, banyak hal yang menjelaskan tentang keluarga Lubis. Satria memeprlajari smeua hal, karena dia yakin. Bahwa, ada terkaitannya dengan kejadian dirinya berasama Dewi Haurna dan alice. Kecuali Put, karena Satria tidak pernah menyentuh secara langsung tubuh Blogger tersebut. Kecuali, naik ke atas tangannya.


Bukan hanya satu, namun Satria mulai membaca beberapa buku lainnya. Bahkan, dia tidak tahu. Hari sudah malam atau siang, hanya Profesor Ruden yang datang dengan memabwa semangkuk sup hanggat dan tidak banyak berbicara.


Hingga, Satria menemukan sebuah buku yang berjudul 'Dewi Haruna.' Sontak saja matanya terbelalak dan segera membaca isi yang ada di dalamnya, Satria snaagt terkejut. Setelah mengetahu sebuah fakta yang sanagt mencengangkan.


"Tidak m,ungkin!" pekiknya dan segera berlari keluar dari ruangan tersebut, keadaan kastil gelap. Mmebuat Satria bingung, kemana mencari keberadaan Profesor Ruden. Samp[ai Satria kembali masuk ke ruangan sebelumnya.


Keanehan muncul, dimana ruangan yang Satria tempati sangat terang. Berbeda dari yang ada di luat, dimana lorong-lorong yang sangat gelap.


Hingga, Satria merasa kelelahan dan tertidur. Di alam bawa sadarnya, dia masih mencari keberadaan Haruna dan berharap. Bisa bertemu dengan Dewi tersebut.


"Haruna!"

__ADS_1


Satria berteriak dengan keras, keadaan di sekitarnya terlihat gelap. Tidak ada cahaya sama sekali, hingga dia mendengar suara sang ibu yang terus memanggil-manggil namanya.


"Satria! Kembali!"


"Ibu tidak marah padamu! Ibu akan menejlaskan semuanya!"


Satria yang mendengar, apa yang disampaikan oleh sang ibu. Segera mencari asal suara tersebut, sampai sebuah cahaya kecil mulai mendekatinya.


"Alice!" pekik Satria tidak menyangka dengan kedatangan Alice dengan membawa sebuah lilin kecil. Mata Satria terpaku seketika, melihat perut Alice yang membesar. Sama persis dengan Dewi Haruna.


"Tidak mungkin!" teriak Satria dengan sekuat tenanga.


Blurr


"Bangun!"


Satria tersadar, dari mimpinya. Setelah, setelah seluruh tubuhnya basah terkena air dan dia menatap pelakuknya yang kini tengah berkacak pinggang di hadapannya.


"Ibu!" pekik Satria merasa kesal, lalu mengusap wajahnya dnegan kasar.


Kini, wanita itu di lepas tugaskan oleh keluarga Cooper dan di beri sebuah misi rahasia. Dimana, dia harus membuat Satria menjadi pemburu keluarga Cooper yang baru.


"Bu, dimana Alice?" tanya Satria yang teringat gadis tersebut. Apalagi, sebelumnya dia snagat marah kepadanya.


Raut wajah Victoria berubah dingin, dia pun memerintahkan Satria untuk tidak mencari keberadaan Alice.


"Kamu jangan pernah menanyakan Putri Alice, atau mencarinya! Paham!"


Satria hanya mengagguk kecil, perubahan snag ibu yang sangat nyata. Membuat Satria yakin, bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak diketahui olehnya.


"Habisakan sarapanmu!" perintah Victoria dan segera berlalu. Namun, ketika di ambang pintu dia berbalik badan dan menatap ke arah Satria.


"Setelah makan? Kamu mandi, dan temui Ibu di ruangan kemarin!" perintahnya dan menutup pintu ruangan tersebut.


Satria hanya menatap bingung denagn sikap sang ibu, yang terkadang bersahabat. Namun, bisa berubah tegas dan mengerikan.

__ADS_1


Akan tetapi, Satria masih memikirkan Alice. Bagaiaman pun, dia bermimpi. Jika, gadsi itu tengah hamil dan hal yang paling Satria takutkan adalah Alice melahirkan seoarang anak yang ternayat adalah anaknya.


"Aku akan mencari cara, untuk bisa menemuinya, nanti," batin Satria. Dia segera menghabiskan sarapannya dan meninggalkan ruang tersebut.


Satria mencari kamarnya, ternyata lukisan yang berada disamping setiap pintu. Memudahkan Satria untuk mencari kamarnya, dimana ada lukisan sebuah pemandangan yang berwarna biru.


Lelaki itu pun segera masuk ke ruangan tersebut dan menganti pakaiannya, tanpa berniat untuk mandi. Karena, Satria tidak menegtahui. Dimana dia bisa mandi, tidak mungkin. Jika, Satria harus keluar kastil dan terjun ke laut lepas.


Setelah menganti pakaian, Satria pun membawa langkah. Menyelusuri lorong-lorong kastil dan memperhatikan setiap lukisan yang berada didinding. Hingga, dia menemukan ruanganyang dicari.


Dimana, ada lukisan seseorang yang menunggangi seekor kuda dengan memegang sebuah pedang yang panjang. Lengkap dengan rompi, diamana ruangan tersebut merupakan tempat dia bertarung dengan Alice sebelumnya.


Dengan perlahan, Satria memutar kenopi dan mendorong pintu. Hingga, pintu telah terbuka dengan lebar. Satria bisa melihat sang ibu yang tengah bermain pedang dan melawan Profesor Ruden.


Satria yang melihat kemampuan dari snag ibu, merasa takjub. Gerakan wanita itu sangat lincah, ditambah caranya dalam memainkan pedang samnatlah mahir.


Sampai, sekali hentakan. Victoria mampu, membuat Profesor Ruden kualahan dan meelpaskan pedang yanga da ditangannya.


"Kamu memang hebat, Vic! Tidak salah, jika menjadi Bubu," puji Profesor Ruden, seraya bertepuk tangan.


"Kamu juga hebat Prof! Tidak ada yang mampu mengalahi, ilmu ilmiah dan sihirmu," balas Victoria.


Satria yang mendengarkan, apa yang kedua orang itu bicarakan. Menjadi tertarik, dimana sang ibu yang memuji Profesor Ruden dengan kemampuan ilmu ilmiah dan sihirnya. Mmebuat Satria, yang ingin mempelajari ilmu sihir. Merasa, bahwa Profesor Ruden bisa menjadi gurunya.


"Ibu! Profesor!" panggil Satria dan membuat kedua orang itu menatap kearahnya, tiba-tiba saja. Profesor melemparkan pedang kearah Satria dan langung ditangkap olehnya.


"Lawan, ibumu sendiri!" perintah Profesor dan mulai menjauh dari arena.


Satria merasa tertantang akan hal itu, lalu mengayunkan pedang yang sudah berada ditanganya. Namun, suara sang ibu. Membuat, ayunan pedang Satria terhenti.


"Jangan pengang Ibu, seperti kamu meyerang Putri Alice kemarin!"


"Ayolah, Bu! Aku tidak akan bermain curang lagi!" ternag Satria yang paham. Siapa yang tengah dia hadapi saat ini, dan tidak mungkin Satria melakukan hal yang tidak senonoh. Kepada ibunya sendiri.


Satria pun segra menghunuskan pedangnya kearah sang ibu, namun bisa ditangkis dengan mudah oleh wanita itu. Satria tidak meyerah, dia menggunakan kakinya. Untuk menyerang Victoria lagi dan dengan sekali hentakan, satria bisa menjatuhkan snag ibu. Kemudian mengarahkan pedangnya, kewajah Victoria.

__ADS_1


"Ibu kalah!" kata Satria dengan penuh kemenangan.


__ADS_2