Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 52


__ADS_3

"Ayah!"


Berulang kali Satria memanggil nama ayahnya, namun tidak digubris oleh lelaki itu. Kini hanya mereka berdua yang bertarung, yang lainnya sudah tidak ada di sana. Langit yang mulai menghintam, disebabkan cahaya matahari yang telah padam. Membuat Satria terdesak, hingga tanpa senjata melepaskan kemampuan Heypersexnya.


"Tidak mungkin!"


Suara teriakan Satria menggema, bagikan suara guntur ketika hendak hujan. Ditambah keadaan sekitar yang sunyi dan mencekam, kemampuan Heypersexnya terlepas begitu saja tanpa bisa ditahan dan mengenai tubuh sang.


Awalnya Penus hanya terkejut, dia belum mati. Namun, sesat kemudian tubhnya mengalami perubahan yang sangat signifikan.


Perut Penus membesar dengan cepat, tidak bisa terkendali dan hal itu membuatnya merakaan rasa sakit yang sangat luar biasa.


"Apa yang kamu lakukan!" teriak Penus dengan nada yang merintih.


Satria segera menghampiri ayahnya dan menggenggam erat tangan lelaki itu. Bukan hanya perut sang ayah yang membesar, bagian tubhn yang lainnya tidak luput. Kini tubuh Penus membulat dengan danging yang sangat tebal, seperti kerbau bule yang siap untuk dikurbankan.


"Ayah, maafkan aku." Air mata Satria menetes dengan sendirinya, dia tidak kuasa melihat keadaan sang ayah yang seperti saat ini.


Ketika yang lain terkena kemampuan Heypersex miliknya, hanya membuat perut mereka membesar. namun ayahnya, tidak. Tubuh lelaki itu kesaktian, penyesalan terus dirasakan oleh Satria.


"Ajalku sudah dekat, maafkan Ayah Satria. Ayah lepas kendali."


Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba saja tubuh Penus meledak. Seperti balon yang meletup, hancur berkeping-keping. Tangis Satria semakin deras, dia berkali-kali memanggil nama ayahnya.


"Ayah!"


"Ayah, maafkan aku."


Namun tidak ada yang bisa Satria lakukan, sang ayah telah mati dengan cara yang sangat mengenaskan. Hingga Satria menatap tangannya yang sudah dipenuhi oleh darah dari sang ayah, lelehan air mata yang deras membasahi tangannya.


Penyesalan yang paling mendalam yang pernah dia rasakan, apa artinya sebuah kekuatan dan menjadi Dewa? jika, dirinya hanya membuat sebuah petaka di dalam hidupnya sendiri. Disaat Satria menangis, kesalahan fatal yang baru saja dilakukan olehnya. Tiba-tiba saja sebuah cahaya yang begitu terang turun dari atas langit, membuat Satria mengangat kepalanya dan menatap cahaya itu.

__ADS_1


"Dewa Tertinggi?" gumam Satria yang melihat wujud Dewa yang mengatakan dirinya Dewa diatas Dewa, dialah Dewa Tertinggi.


"Sebutkan, apa yang kamu inginkan?"


Satria tersenyum miris, dia mengedarkan penglihatannya. Seolah memebritahukan keadaan yang tengah terjadi, dimana beberapa mayat yang hancur dan darah yang tumbah di atas tanah. Membuat Satria tertunduk lemas, bahkan danging dari potongan sang ayah menambah rasa sakit di dalam dadanya.


"Ambil semuanya, ambil kekuatanku," pinta Satria dengan nada putus asa. Untuk apa dirinya menjadi seorang Dewa, jika harus membuat suatu bencana dan membunuh orang lain. Apalagi orang itu adalah ayahnya sendiri, anak macam apa dirinya ini.


Tangan Satria menggenggam tanah, dia berlutut dia atas Dewa Tertinggi dengan keadaan kepala yang menundukkan. Tidak ada yang diinginkan olehnya lagi, dia hanya ingin keadaan dunia menjadi aman seeprti sedia kala dan dirinya akan kembali kedunia manusia.


"Apa kamu yakin?"


Pertanyaan itu membuat Satria merasa muak, dia menggelengkan kepalanya. Sebagai jawaban atas pertanyaan yang Dewa Tertinggi itu tanyakan barusan. Hingga Satria merasakan kehangatan di atas kepalanya, ternayta Dewa Tertinggi mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


"Wahai anak manusia, didunia ini tidak ada yang abadi. Semunya akan musnah, dan kembali kepada awal."


"Bhakan, didunia ini, tidak ada yang gratis. Ketika kamu menginginkan sesuatu, maka kamu harus memberikan yang lainnya."


Satria tersenyum kecil, saat mendengarkan kalimat terakhir yang Dewa Tertinggi itu ucapkan. Namun, semuanya benar. Tidak ada yang salah, dari apa yang dikatakan olehnya.


"Apa yang bisa aku lakukan? Aku lelah, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi?" tanya Satria dengan keputus asaannya.


Apa yang selalu dilakukan olehnya, selalu mendatangkan bencana dan berakhir dengan sebuah masalah yang besar. Membuatnya tidak menginginkan apapun untuk saat ini, kecuali kehilangan kekuatan Dewa yang membuatnya membunuh sang ayah.


"Hidup merupakan sebuah proses dan perjalanan, dimana kamu tidak bisa kembali. Menyerah dengan keadaan yang kamu hadapi, merupakan sebuah kesalahan yang akan berujung pada penyesalan."


"Kehilangan memang sanagt menyakitkan, tetapi ... itu merupakan sebuah keadaan yang setiap orang harus rasakan."


"Aku akan mengabulkan, apa yang sebelumnya Dewa Lubis pinta. Sebelum dia meninggalkan alam dunia dan kembali ke alam roh, dia mengorbankan tubuhnya untuk kedamaian."


Satria tersentak dengan apa yang baru saja Dewa tertinggi katakan, Dewa Lubis sangat menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Apa yang para Dewa lakukan, ketika kembali ke alam roh?" tanya Satria dengan penasaran.


Dewa Tertinggi tersenyum dan menjelaskan semuanya, kalau tubuh seroang Dewa mungkin saja hancur dan tidak memiliki bentuk. Namun, berbeda dengan rohnya yang langsung terbang ke alam roh dan akan menetap di sana.


Bahkan, seroang Dewa bisa meminta sesuatu sebelum kembali ke alam roh. Sebagai transaksi terakhir yang mereka tukarkan dengan tubuh yang ditinggal.


Satria mengusap air matanya dengan cepat, lalu menatap serius kearah Dewa tertinggi yang masih berdiri di hadapannya tanpa menyentuh tanah.


"Jadi, Ayahku telah terbang ke alam roh?" tanya Satria dengan rasa penasaran dan mendapatkan anggukan kepala kecil dari Dewa tertinggi.


Tangis Satria kini berubah menjadi senyuman yang indah, dia perlahan bangun dari posisi berlututnya. Dia telah membuat sebuah keputusan yang tidak akan pernah disesalinya suatu hari nanti, setelah mengumpulkan oksigen dan merasa lebih tenang. Satria pun ingin menyatakan permintaan terakhirnya.


"Aku tidak menginginkan hal lainnya, kecuali ... sebuah keluarga yang saling menyayangi."


Dewa Tertinggi menggelengkan kepalanya, setelah mendengar apa yang diminta oleh Satria. Menurutnya otak Satria sudah salah kabel, dari apa yang sedari tadi dia coba jelaskan. Bahwa di dunia tiak ada yang abadi, apalagi yang namanya sebuah kebersamaan. Dimana mereka akan terpisah oleh sebuah kematian yang pasti akan menjemput.


"Aku tidak bisa mengabulkannya," jawab Dewa Tertinggi.


"Sialhkan, minta yang lain saja," tambanya.


Satria mencibir, dia merasa transaksi ini tidak bagus. Padahal, dia hanya meminta sesuatu yang paling mudah baginya dan sederhana. namun, tidak bisa di kabulkan.


"Kalau begitu, biarkan aku menjadi untuk selama-lamanya dan ambil saja kemampuan Heypersex ku. Karena, hal itu sangat merepotkan."


Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba saja tubuh Satria terpacu dengan cepat. Dirinya seolah dibawa kepada suatu tempat dengan kecepatan yang sangat tinggi, bahkan Satria sampai menutup kedua matanya. Dia berharap, apapun yang akan terjadi nanti. Dirinya tidak menerima masalah yang berat.


"Buka matamu, Satria"


Satria tertegun dengan suara yang tidak familiar itu, perlahan dia membuka kedua matanya dan melihat seroang wanita cantik tengah berada dihadapannya. jarak mereka begitu dekat, sampai hembusan nafas wanita itu bisa Satria rasakan.


"Dimana aku?" gumam Satria pelan.

__ADS_1


__ADS_2