
"Put! Lepaskan aku!" teriak Satria dengan marah.
Put tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Satria dan terus berjalan, hal itu membuat Satria geram. Lalu, mengucapkan mantra andalannya.
"Evalus!"
Namun, tidak terjadi apapun. Put tersenyum sinis kearah Satria, sebenarnya dia amat kesal akan mantra Satria yang membuatnya sempat kesulitan untuk bergerak.
"Mantra apapun, tidak bisa berguna di sini!" kata Put dengan nada mengejek.
"Bohong!" pekik Satria.
Dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Put barusan, kemudian mencoba lagi dan lagi. Namun, hasilnya sama. Mantra Satria tidak berfungsi disini.
Sis yang melihat dan mendengar apa yang Satria lakukan, menegur pelan. Karena, ini tujuan mereka ke sini. Dimana, semuanya menjadi netral dan tidak ada yang berkuasa.
"Satria! Berhentilah menggunakan mantramu! Sekarang, pikirkan kembali. Apa tujuanmu ke sini?" terang Sis.
Satria hanya mampu bungkam, dia bingung harus menjawab apa? Hingga, ia menyadari. Jika, sangat ingin menemui Haruna.
"Apakah, Dewa tertua memang tinggal disini?" tanya Satria ragu-ragu.
Sis ataupun Put tidak menjawab, apa yang Satria tanyakan. Mereka terus saja berjalan, menuju tempat pemujaan. Untuk meletakan telur, sebagai generasi Blogger.
"Kalian memang keterlaluan!" pelik Satria yang meluapkan kekesalannya. Tetapi, tetap terus mengikuti Put dan Sis.
Satria menatap keadaan sekitar, sampai hatinya kembali damai. Dia tidak menyangka, jika ada tempat yang begitu indah. Seperti disini, hingga tidak terasa. Mereka telah sampai, di tempat yang dituju.
Ada sebuah pure kecil, Sis segera meletakkan telurnya di sana dan berdoa. Put jiga mengikuti, apa yang dilakukan oleh ibunya.
Sedangkan Satria, hanya memperhatikan dengan seksama. Tidak bisa dia bohongi, kalau hatinya tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh kedua Blogger tersebut.
Hingga, sebuah cahaya turun dari langit. Membuat Satria menatap seseorang yang berada di antara cahaya tersebut, sampai cahayanya hilang. Membuat Satria, kini melihat sosok yang sangat tampan dan penuh karismatik.
"Aku akan mengabulkan keinginan kalian! Namun, ada yang harus dikorbankan."
Sis memilih untuk maju terlebih dahulu, tetapi tangannya di cekal oleh Put. Mata Put berlinang dengan air mata, dia menggeleng kepalanya pelan.
"Jika, ada yang keberatan? Maka, aku tidak bisa memberikan ... apa yang kalian pinta."
__ADS_1
Satria merasa muak dengan apa yang diucapkan oleh orang tersebut, terlebih ukurannya yang seperti manusia biasa. Membuatnya geram dan berteriak, menantang.
"Jika kamu tidak bisa membantu? Maka ... tidak usah membuat orang lain menderita!"
Sis dan Put menatap tajam ke arah Satria, mereka sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Padahal, saat ini. Merupakan hal yang paling penting untuk mereka. Namun, bisa dihancurkan oleh Satria.
"Satria! Namamu, Satria. Bukan?"
"Bukan urusanmu!" balas Satria dengan ketusnya.
Lelaki itu pun mendekati Satria dengan perlahan, ternyata. Kakinya tidak menyentuh tanah, dia melayang di atas. Membuat Satria yang melihat hal itu. Hanya bisa menelan silvernya kasar.
Seolah, ada hal buruk yang akan terjadi. Ketika, orang didepannya ini. Seperti, bukan manusia biasa. Hanya bentuk dan rupanya saja yang sama.
"Apa kamu ingin mengetahui tentang Haruna dan H? Wanita dan putramu?"
Hampir saja, jantung Satria ingin melompat keluar dari tempatnya. Ketika, mendengar hal tersebut. Apa yang ingin diketahui, sudah bisa ditebak oleh orang dihadapannya.
"Aku bisa memberitahumu, tapi ... ada yang harus dikorbankan."
"Aku tidak memiliki apapun! Aku ... juga tdiak percaya dengan apa yang kamu bualkan!" balas Satria merendahkan. Padahal, didalam hatinya meronta-ronta.
Tiba-tiba saja, Sis berkata demikian dan dengan sorot mata yang memohon. Membuat Satria merasa iba, tetapi detik kemudian. Dia menyadari, panggilan yang disematkan oleh Sis.
"Dewa ketua," gumamnya pelan.
"Iya, aku adalah Dewa ketua! Petinggi diantara para Dewa! Aku bisa memberi, apa yang diminta. Namun ... aku meminta, apa yang akan kalian berikan."
Satria menggeleng kepalanya, setelah mendengar hal itu. Seolah, sedang dilakukan transaksi. Sungguh, membingungkan.
Membuatnya sempat berpikir, jika memang benar. Didunia ini tidak ada yang namanya gratis, semuanya harus bayar. Sekalipun, masuk ke dalam toilet.
Apalagi, sampai meminta bantuan. Kepada seorang Dewa lagi, hingga membuatnya memiliki ide gila dan paling aneh.
"Kamu mengatakan! Jika, akan memberi? Apa yang kami pinta? Dan ... akan meminta? Apa yang kami beri?" tanya Satria memastikan.
"Tentu saja! Semuanya ada hukum timbal–balik. Jika, meminta? Maka, harus memberi. Sebagai, bentuk keseimbangan alam."
Satria menatap kearah Sis dan Put, kedua Blogger itu sama-sama menggeleng kepala. Menolak, apapun yang akan diucapkan oleh Satria.
__ADS_1
"Demi para Blogger," batin Satria. Dia memejamkan matanya, mencoba mengatur frekuensi energi dalam tubuhnya dan berharap ini akan berhasil.
Setalah merasa yakin, Satria maju ke depan dan menatap Dewa Ketua dengan tatapan mata yang serius.
"Aku meminta satu hal! Dan akan ... memberimu hal yang lainnya! Tapi ... beritahu aku dulu! Sampai, dimana kesaktianmu?"
Dewa Ketua tersenyum kecil, dia menatap Satria dalam. Kemudian, menatap ke arah Put dan Sis berganti.
Dirinya seorang Dewa dan ada yang menanyakan, tentang kesaktiannya? Maka, itu merupakan kesalahan yang sangat fatal.
"Aku akan mengabulkan! Apapun yang kamu pinta? Dalam sekejam mata! Ketika, kata itu keluar dari bibirmu!" jelasnya dengan kesungguhan.
Kali ini, Satria tersenyum dengan puas. Karena, bisa mendapatkan jawaban yang membuatnya yakin. Kalau, bisa merubah sebuah takdir.
"Jadikan aku Dewa yang paling kuat! Maka, aku akan memberimu sebuah keturunan!"
"Apa!" pelik Dewa Ketua yang tidak percaya dengan apa yang baru saja, Satria katakan.
Namun, sesuai dengan janji. Tubuh Satria mulai terangkat, dia melayang dengan perlahan. Serta, sekujur tubuhnya. Mulai mengeluarkan cahaya terang.
Kini, Satria berubah. Menjadi, seorang Dewa dalam sekejap mata. Sama persis, dengan yang diucapkan oleh Dewa ketua.
"Kamu penipu!" teriak Dewa Ketua dengan marah dan kemudian menyerang Satria dengan kemampuannya.
Brus
Buar
Perkelahian pun tidak bisa terelakkan, permintaan Satria menjadi kenyataan. Dirinya kini, merupakan Dewa yang paling kuat. Dia bisa mengalahkan Dewa tertua dengan kemampuan yang dimilikinya.
Sekali hentakan, Satria membuat angin yang santha kencang dan mampu menerbangkan. Apa yang ada di hadapannya, tetapi Dewa tertua belum menyerahkan.
Dia kembali menyerang Satria lagi dan lagi, hingga Satria membuatnya kewalahan. Sampai terdesak, namun masih belum mau mengakui. Jika, dirinya kalah.
"Apa masih ingin melawan?" tanya Satria dengan angkuhnya. Sekali sentakan lagi, dia bisa menyumbang Dewa tertua.
"Jangan sombong! Karena, merasa hebat. Setelah menjadi Dewa dengan cara menipu!" Dewa Ketua sangat kesal dan marah kepada Satria, dirinya tidak menyangka. Kalau, bisa tertipu dengan begitu mudahnya. Apalagi, kepada manusia biasa seperti Satria.
"Menyerah! Atau ... aku akan membatalkan perjanjian kita!" kata Satria dengan sorot mata serius.
__ADS_1
"Perjanjian?"