
"Apa yang telahku lakukan?" pekik Satria merasa begitu khawatir dengan ke adaan yang tengah terjadi saat ini.
Satria benar-benar bisa menghentikan Alex, kekuatan yang dia miliki memang besar. Namun, Satria takut melukai putranya yang telah lepas kendali.
Malang memang nasib Satria, di hari pernikahannya dia harus mengalami kejadian yang tidak terduga seperti saat ini.
"Aaaaa ... ."
Alex terus melepaskan energi dan emosi yang ada pada dirinya, seakan tidak ada yang ingin di tinggalkan lagi.
Dunia yang baru saja dibangun, seketika itu juga harus runtuh. Monster Eminem dengan berbagai bentuk turun dari langit, Alex telah menciptakan sebuah mahkluk secara tidak sengaja.
Di dalam pikiran bocah tersebut hanya ada dongeng yang selalu di ceritakan oleh sang Nenek dan di saat iniah dia bisa mewujudkan semua makhluk yang ingin dilihatnya itu.
Keadaan yang semakin tidak terkandali mendesak Satria untuk mengambil sebuah tindakan, air matanya meleleh bagian eskrim yang terkena panas.
Dadanya bergemuruh dengan hebat, bahkan nafas Satria mulai memusatkan energinya dan serangan kepada tubuh mungil Alex.
Haruskah dia membunuh putranya sendiri? Namun, jika Alex di bairkan seperti ini. Dunia benar-benar akan hancur dan tidak tersisa.
"Aku sudah pernah membunuh ayahku sendiri! Kali ini ... aku akan membunuh putraku!"
Satria berteriak dengan begitu kencangnya seraya melepaskan energi yang telah disiapkan, bagaikan cahaya matahari yang terpusat pada suatu titik.
Kekuatan Satria menembus tubuh Alex yang kecil, perlahan cahaya dan energi putranya memudar. Diiringi dengan isak tangis Satria yang harus membunuh putranya itu.
Cibta-cita dan harapan yang tinggi, telah membuat Satria terjatuh ke dalam jurang yang begitu dalam dan tidak bisa kembali.
Apa yang dikatakan dengan Dewa terhebat, jika dirinya harus merasakan rasa sakit yang amat menyiksa.
Perperangan telah memberikan luka, sekarang dia harus merasakan luka setelahnya. Tidak ada yang abadi dan indah di dunia ini, semuanya semu.
"Hentikan!"
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang begitu menggelegar, Kekuatan Satria telah surut bersama dengan keadaan Alex yang mulai menghilang seperti awan.
Tubuh Alex memudar bersama cahaya yang melekat pada tubuh bocah tersebut, wajahnya terlihat muram. Penuh akan kebencian dan kekecewaan yang mendalam.
__ADS_1
Satria telah menghentikan Alex dan membunuhnya secara bersama, keadaan sekitar mulai di selimuti oleh awan gelap.
"Alex! Alex!"
Kembali Satria mendengar suara teriakan seseorang, dia pun mencoba mengedarkan penglihatanya dan mencari asal suara tersebut.
Dari kejauhan Satria melihat ada seseorang yang tengah berlari ke arahnya, semakin mendekat dan terlihat dengan jelas.
"Put," gumam Satria pelan.
Dia melihat sosok wanita yang dikira tidak akan pernah ditemuinya lagi, dengan nafas yang terengah-engah Put menghampirinya.
Namun, tatapan wanita itu beralih. Seolah tidak ingin melihatnya, Put malahan melangkah menjauh Satria dan mendekati Alex.
Tubuh Alex perlahan mulai turun, seperti melayang pelan dan menyetuh tanah. Put menyambutnya dengan penuh perasaan yang sulit untuk di jelaskan.
Wajah Put muram dan terlihat cairan bening yang terus menetes di pelupuk matanya, Satria merasakan perasaan Put yang begitu sedih.
"Bunda," kata Alex dengan pelan.
"Alex, maafkan Bunda yang datang terlambat. Bunda—" Put tidak mampu meneruskan ucapannya.
"Bun, jaga diri ya. Alex akan begitu merindukan Bunda P."
Tangis Put pecah seketika, Satria yang melihat semua itu pun tidak bisa menyemunyikan rasa saat yang ada di dadanya.
Dia tidak memiliki pilihan lain, Satria tidak berdaya. Tidak ada yang bisa dia lakukan, kecuali membunuh dan menyerang Alex.
"Alex!" teriak Put dengan begitu keras.
Tubuh Alex benar-benar menghilang dibawa oleh angin, bocah itu pegi tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Hilangnya Alex bagaikan asap yang ditiup angin, lenyap seketika. Put hanya bisa menangis dan terduduk lemas di tempat terakhir dirinya bisa melihat Alex.
Satria mencoba mendekati Put, dia juga bergitu kehilangan putranya. Namun ada keanehan yang dia rasakan, kenapa Put berada di sini.
"Put," panggil Satria dengan pelan membuat wanita itu menatap ke arahnya dengan sorot mata penuh akan kebencian.
__ADS_1
"Kamu memang kejam!" teriak Put dan memukuli dada bidang Satria.
Keadaannya yang telah lemas dengan apa yang sudah terjadi membuat pukulanya begitu tidak berarti, bahkan Satria tidak bergeming sama sekali.
Setelah melihat Put puas memukulinya, barulah Satria menanyakan sesuatu yang membuat wanita itu semakin terisak.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Put benar-benar tidak menyangka kalaun akan melihat Satria membunuh Alex dengan begitu keji, cukup lama dia mencoba mengendalikan dirinya.
"Put," panggil Satria lagi.
"Aku terlemapr oleh energi yang begitu kuat, ada portal yang terbuka dan menyeretku begitu saja," jelas Put.
Satria hanya bisa membuang nafas panjang, dia berharap hanya dunia yang terbuka. Jangan sampai alam lain ikut terbuka, kalau dunia bawah tanah ikut terkena nampak dari tragedi ini? Maka para arwah akan naik ke permukaan.
Membayangkan semua itu saja membuat Satria bergidik ngeri, dengan kekuatannya saja tidak mampu mengembalikan keadaan dunia. Sekalipun dia adalah Dewa.
Namun, untuk beberapa saat Satria terdiam dan kembali mencerna ucapan Put. Dia yakin sekali ada kalimat yang tidak wajar, Satria mengingat-ingat kembali apa yang terlah terjadi kepada Put.
Sontak saja Satria melangkah mundur, ketika dia menyadari hal yang sebenarnya. Dia pun dalam mode waspada dan siap menyerang, kapan pun Put akan melakukan sesuatu.
"Hahahaha ... apa seorang Dewa bisa merasa takut?" nada ejekan yang diucapkan oleh Put membuat Satria semakin yakin dengan ansumsinya saat ini.
Put yang berada di hadapannya adalah roh yang terlepas dari alam bawah, bagaimana Satria akan melawan seseorang yang telah mati.
Keadaan ini membuat keringatnya mengucur deras, untuk pertama kalinya dia merasa takut setelah menjadi seorang Dewa.
"Apa yang mau kau lakukan, Put?" tanya Satria.
Derasnya anging yang menerjang tubuhnya, tidak membuat Satria merasa sejuk. Tubuhnya semakin memanas terbakar oleh perasaan yang tidak menentu, haruskah dia menyerang Put atau memilih untuk pergi.
Namun, disisi lain. Satria juga ingin mengetahui sebuah informasi dari Put, karena dia yakin bahwa bias menemui Alex dan membawa putranya kembali berada di sampingnya.
"Tujuanku saat ini hanya satu! Yaitu ... mengambil alih dunia Albiru," terang Put dengan kilatan kemarahan.
Dunia Albiru terlalu berharga, dunia yang menjadi tempat di manamakhluk metalogi dan monster hidup. Dunia yang dulunya begitu damai sebelum keadatangan Manusia, membuat Put ingin mengambalikan keadaan dunia Albiru seperti sedia kala.
__ADS_1
"Put, kamu benar-benar sudah mati atau ... masih hidup?"