
Tiba-tiba saja ada serangan entah dari mana dengan kekuatan yang begitu dahsyatnya, bahakan kilatan cahaya yang mampu membuat semua mata menjadi buta.
Ledakan demi ledakan terus terdengar, Satria tidak bisa melihat siapa pelaku dari penyerangan di hari pernikahannya. Namun, dia bisa merasakan sebuah energi yang begitu besar dan kuat.
"Bahkan, seorang Dewa sekalipun tidak bisa berbuat apa-apa! Ketika di serang secara mendadak?" teriak seseorang yang begitu familiar di telinga Satria.
Bum
Satria menghentak energinya dan membuat keadaan sekitar menjadi rata dengan tanah, semua orang yang berada di tempat tersebut seolah ditelepotasikan ketempat lain.
Sungguh, kekuatan yang dimiliki Satria bukan hanya sebuah isapan jempol belaka. Dia begitu kuat dan bisa berbuat apapun yang diinginkan.
"Apakah, kamu mengambil sebuah keuntungan dari kematian seseorang? Atau ... sengaja menjebakku?" tanya Satria dengan tenang dan memilih untuk mengangkat tubuhnya lebih tinggi agar bisa melihat orang yang telah membuat onar tersebut.
Wajah lelaki paruh baya yang tersenyum aneh menyambut pemandangan mata Satria, dia tidak menyangka. Kalau orang yang telah membawanya pada ke adaan saat ini, merupakan orang yang ingin menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
Apa keuntungan orang tersebut, hingga bersedia melakukan hal tersebut. Tidak ada perasaan melakukan tindakan yang bisa membunuh banyak orang, andaikan saja saat tadi Satria tidak segera bertindak.
"Hahaha ... aku adalah orang yang akan mengambil sesuatu darimu. Karena, kamu tidak pantas memilikinya," terang lelaki itu dan langsung melompat dengan cepat.
Dengan kekuatan penuh dia menyerang Satria, namun semua serangannya tidak berdampak apapun pada seorang Dewa.
Hingga Satria menghentikan serangannya dengan sekejap mata, membuatnya terpaku di tempat dan menatap tajam Satria yang begitu tenang.
"Kenapa kau tidak membunuhku saja sekarang?" teriak lelaki itu dengan lantang, di saat Satria memegang tangannya dengan erat.
Satria melangkah dengan begitu pelan, rintihan dari lelaki tersebut tidak membuat dia merasa kasihan. Melainkan semakin penasaran, sampai Satria berdiri tepat di tubuh lelaki tersebut.
"Profesor Ruden, apakah anda benar-benar ingin membunuhku?" tanya Satria dengan aura yang mengelap.
Profesor Ruden merupakan lelaki yang membawanya dan mengajarkan semua hal, sampai Satria bisa dan mampu untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
__ADS_1
Namun, apa yang hari ini di lakukan oleh lelaki paruh baya itu tidak bisa di benarkan dengan mudah. Tindakannya begitu nekat dan bisa membahayakan orang lain. hal itu tidak Satria suka.
"Hahahah ... ."
Profesor Ruden tertawa seperti orang yang kehilangan kendali, seraya menatap ke arah Satria dengan sorot mata yang sulit di artikan.
Sesekali lelaki paruh baya itu terbatuk dan mengeluarkan darah, namun sikap keras kepalanya. mmebuat Profesor Ruden enggan untuk mengakui kekalahannya.
"Apa kamu pikir, saat ini sudah menjadi yang terkuat dan tidak terkalahkan? Ksmu memang Manusia yang lemah dan tidak tahu berterimakasih!" teriak Profesor Ruden.
Apa yang di sampaikan oleh Profesor Ruden semakin membuat Satria tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki paruh baya tersebut, hingga sebuah serangan tiba-tiba yang di lakukan oleh Profesor Ruden membuatnya tersentak.
"Profesor!" teriak Satria dengan begitu nyaring. Cairan merah dengan bau amis memucrat begitu saja.
"Apakah ini sudah berakhir?"
__ADS_1