
"Apa kamu masih belum tahu? Jika V? Rela menjadi Bubu keluarga Cooper, hanya demi menyembunyikanmu."
Profesor Ruden tidak menjelaskan dengan signifikan, tentang apa yang baru saja diucapkannya. Menambah rasa penasaran.
"Menyembunyikanku? Anda jangan bohong! Saya sangat mengenal Victoria! Dia wanita yang penuh akan kelicikan!" balas Penus. Dia hidup dan besar bersama dengan Victoria, tentu saja sangat hapal dan paham akan beranggai wanita itu.
Profesor Ruden hanya diam, dia tidak membalas apa yang dikatakan oleh Penus dan memilih untuk beristirahat. Sedangkan Satria yang masih penasaran dengan keluarga Lubis, kembali mencerca sang ayah dengan beberapa pertanyaan.
"Apakah Ibu tahu? Akan kemampuan Heypersex milik Ayah? Lalu, kenapa aku tidak memiliki saudara!"
Penus agak terkejut dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Satria, dia menetralkan perasaan dengan mengatur nafas dengan perlahan.
Dia tidak bisa menutupi semuanya lagi, mungkin ini merupakan saat yang tepat. Untuknya, menceritakan tentang kemampuan Heypersex keluarga Lubis.
"Ibumu tentu saja sudah tahu akan hal itu! Tapi ... tidak semua anggota keluarga Lubis memiliki kemampuan Heypersex termasuk Ayah."
Penus mengatakan hal itu dengan nada yang sendu, hal ini tidak pernah dia ungkap kepada siapapun. Kecuali Victoria, karena wanita itu merupakan istrinya.
Kehamilan Victoria, merupakan anugerah yang paling besar untuk Penus. Pernah terpikirkan olehnya, jika dia tidak bisa memiliki keturunan. Tetapi, siapa angka. Kalau dirinya, bisa membuat Victoria hamil.
"Dulu, Ayah berpikir. Kalau telah mengalami mutasi genetik, karena telah lama tinggal di dunia Manusia. Namun, ketika Ibumu dinyatakan hamil? Semuanya berubah."
Ingatan Penus pun kembali pada masa itu, dimana dirinya selalu di sudutkan. Karena, tidak memiliki asal–usul yang jelas.
Namun Victoria selalu memberinya dukungan dan terus menemani, sampai mereka berada di titik terendah dalam kehidupan.
Dimana keluarga Victoria mengalami kesulitan ekonomi, di saat itulah. Ibunya Satria mulai membanting tulang, bekerja keras. Demi mencukupi kebutuhan keluarga.
"P! Aku pergi bekerja dulu, ya," ucap seorang wanita cantik dengan setelah baju yang rapi.
Suaminya yang masih terlihat muda dan tampan menghampiri, lalu tersenyum dengan manis. Seraya melambaikan tangan.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau Victoria harus menjalani hidup yang begitu berat. Padahal, keluarga mereka merupakan salah satu pemilik saham yang terbesar di negara Z.
__ADS_1
Namun, setelah kepergian ayahnya Victoria. Semuanya berubah, bagikan sebuah kapal yang kehilangan Nahkodanya. Maka, kapal pun seolah tidak memiliki arah lagi.
"Dasar! Lelaki tidak berguna!"
Penus berbalik badan, ketika sebuah suara yang sangat nyaring terdengar memaki. Dia bisa melihat dengan jelas, wajah ibu Victoria yang tengah memerah padam.
Ibu mertuanya itu, terlihat sangat kesal. Bagian lainnya, dia akan menjadi tempat pelampiasan kemarahan wanita itu.
"Apakah Ibu mau makan?" tanya Penus dengan sopan. Mau bagaimana pun juga, wanita yang berdiri dihadapannya. Merupakan ibu mertua yang harus dia hormati, karena telah merawat dan membesarkannya selama ini.
Tiba-tiba saja, Penus di tarik dengan kasar dan di bawa ke dalam kamar. Di saat itu, Penus sudah tahu. Apa yang diinginkan oleh ibu mertuanya.
Penus pun melakukan, apa yang wanita itu perintahkan. Dengan hati yang berat, dirinya harus melayani ibu mertuanya dengan baik.
Sejak kepergian ayahnya Victoria, Penus lah yang menjadi landasan nafsu birahi sang ibu mertua. Dia tidak bisa menolak, sebab memiliki hutang Budi. Ditambah, dirinya yang tidak bisa melakukan apapun di rumah. Kecuali, melayani keluarga Victoria.
Hal itu telah lama berlangsung, hingga Victoria mengetahuinya dan merasa kecewa. Sampai memutuskan untuk bercerai, dan memberikan Penus kebebasan.
"Jadi, Ayah dan Ibu bercerai? Karena Oma?" tanya Satria tiba-tiba.
"Ayah mendapatkan kompensasi, atas perceraian. Tapi ... Ibumu meminta, agar Ayah menjagamu. Hingga besar, dan ... kamu lebih tahu kelanjutannya, bukan?"
Kini Satria mulai memahami, apa yang terjadi kepada kedua orangtuanya. Tidak ada yang bisa disalahkan, karena semuanya diluar kemampuan mereka.
"Tapi ... apa hubungannya dengan Ayah yang tidak memiliki kemampuan Heypersex?"
Satria masih belum bisa memahami, cerita sang ayah dengan berkaitan dengan kemampuan Heypersex. Karena, Penus hanya menceritakan sebagian dari kisah hidup mereka. Bukan tentang Heypersex itu sendiri.
"Entahlah! Ayah tidak yakin, makanya ... Ayah ingin mencari tahu. Dulu Ayah hanya berpikir, karena sering melayani wanita lain. Membuat kemampuan Heypersex Ayah tidak bisa bekerja dengan normal."
Penus tidak yakin dengan apa yang dia perkiraan, hanya sebuah praduga yang belum miliki kepastian. Membuatnya, masih berusaha untuk mencari tahu.
"Heypersex merupakan kemampuan seseorang yang bisa melayani *** dengan beberapa orang. Tidak ada yang menjelaskan dengan pasti, kenapa dan apa yang membuat Heypersex bisa menghasilkan banyak anak."
__ADS_1
Semua mata tertuju kepada Profesor Ruden, begitu dengan Penus. Dia sangat penasaran dengan lelaki yang menurutnya, meresahkan.
"Apa yang Prof ketahui lagi, tentang Heypersex?" tanya Satria dengan rasa penasaran.
Profesor Ruden pun mulai menjelaskan, apa yang dia ketahui tentang Heypersex dalam kaca mata ilmiah dan ilmu.
Sudah hukum alamnya, kalau lelaki memiliki kecenderungan untuk melakukan hubungan seksual dengan beberapa orang wanita.
Namun, tidak dengan sebaliknya. Karena, wanita yang melakukan Heypersex dengan beberapa lelaki akan mengalami kesulitan. Entah dari keadaan tubuh atau yang lainnya, karena itulah hanya lelaki yang sering melakukan Heypersex. Sedangkan wanita, tidak.
Satria yang mendengarkan penjelasan Profesor Ruden masih belum bisa memahami, tentang kemampuan Heypersex yang dia miliki.
"Apakah kamu tahu? Kalau, ibumu? Vic? Merupakan wanita dengan keturunan Albiru?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Profesor Ruden, membuat Satria menatap ke arah ayahnya yang juga menatap balik.
Mereka baru mengetahui hal itu, keterkejutan Penus sangat nampak di wajahnya. Dengan mudahnya, Profesor Ruden membacanya.
"Apakah kalian benar-benar, tidak mengetahui hal itu?" tanya Profesor Ruden lagi.
"Aku tidak pernah, melihat ataupun mengetahui. Jika, V? Berasal dari dunia Albiru," jelas Penus dengan sorot mata serius.
Profesor Ruden mendesah berat, "Cih! Ternyata, hidup bertahun-tahun dengan Vic. Tidak membuatku banyak belajar?"
Penus sangat tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh Profesor Ruden tersebut, hingga suara Satria membuatnya semakin terkejut.
"Prof! Apakah mantra-mantra, yang selama ini Ibu ajarkan kepadaku? Merupakan, kemampuan khususnya? Karena, aku sempat berpikir. Jika, semua itu merupakan milik Ayah."
Prosesor Ruden pun menjelaskan dengan gamblang, jika Penus tidak memiliki apapun. Kecuali kesempatan, untuk berada di keluarga Victoria. Ilmu dan mantra yang dipelajari oleh Penus, merupakan milik keluarga Victoria.
Satria yang mendengar hal itu, menatap nanar ke arah ayahnya. Ternyata, Penus tidak sehebat yang ada di dalam benaknya.
Malahan, sang ibu yang terlihat acuh tak acuh dan sederhana. Memiliki banyak kelebihan dan kemampuan yang tersembunyi. Hingga Satria baru teringat akan sesuatu, dimana dia meninggal Victoria bersama dengan Sis.
__ADS_1
"Kita harus kembali!" pekik Satria dengan panik.
"Kembali? Kemana?"