
Namun, untuk apa mencari bola tersebut. Sebab, Antonio sebelumnya mengatakan. Jika, tengah mencari bayi Alice.
Banyak sekali tanda tanya didalam benak Satria, tentang kejadian yang baru saja dihadapinya. Satria yang baru saja datang ke dunia Albiru, namun disambut dengan peristiwa yang mengerikan.
Ditambah, banyak sekali hal yang belum diketahui olehnya. Tentu saja, Satria merasa syok dan bingung dalam waktu yang bersamaan.
"Ada seseorang di sini!"
"Apa?"
"Tidak mungkin, aku ketahuan?" gumam Satria. Akan tetapi, semuanya sudah terlambat. Dirinya sudah ketahuan dan di serang.
Sat
Set
Tang
Teng
Terjadi adu pedang dan Satria yang belum siap dan tidak memiliki senjata, hanya bisa menghindar. Seraya mencari cara, agar bisa terlepas.
Dengan lincah, Satria menyergap lawannya dan mengambil alih pedang yang diambil dengan cara paksa.
Saat ini, Satria tidak ingin menggunakan mantra. Karena, dia belum mengetahui dengan pasti. Apa yang telah terjadi dan apa alasan Antonio yang sebenarnya.
Hingga, Satria terus melawan dengan kemampuan bela dirinya yang diajarkan oleh sang ibu. Satria pun dengan mudahnya mengalahkan semua lawan, gerakannya sangat gesit dan sulit untuk dibawa oleh musuh.
"Satria!" teriak Antonio dengan suara yang menggelegar.
Lelaki itu, bahkan harus turun tangan. Untuk menghadapi Satria, disebabkan anak buahnya yang sudah tumbang.
Dia tidak menyangka, jika Satria mampu mengalahkan pasukan terbaiknya dengan mudah. Dendam di masa lalu, membuatnya ingin membalas hal tersebut saat ini.
Nama Satria sangat di ingat oleh Antonio, sebagai orang yang wajib dimusnahkan. Terlebih, setelah diselamatkan oleh Alice.
Tang
Teng
Suara pedang yang saling bergesekan, Satria menahan setiap serangan yang dilancarkan oleh Antonio.
__ADS_1
Dirinya merasa sedikit kelelahan, karena Antonio yang terus menyerangnya tanpa henti. Jika, Satria menginginkan. Sebenarnya, dia bisa membuat lelaki itu tumbang dengan sekali hentakan.
Namun, Satria tidak melakukan hal tersebut. Karena, memiliki tujuan yang lain. Serta, dirinya masih memerlukan Antonio. Sebagai, kunci menemukan Alice.
Hingga, Satria memilih untuk pura-pura kalah. Dengan membiarkan Antonio menguasai pertarungan dan Satria pun menjatuhkan dirinya, serta memohon ampun.
"Ampuni saya! Biarkan, saya hidup!" teriak Satria dengan mengangkat tangannya. Tanya menyerah, setelah Antonio menghunuskan pedang yang ada ditangan lelaki itu kearah Satria.
"Aku tidak akan membiarkan, kamu hidup!" teriak
Antonio. Dia sudah berniat, untuk membunuh Satria. Kesemapoatan tersebut sudah ada di depan mata.
Tentu saja, Antonio tidak akan melepaskan kesempatan itu dengan mudahnya. Dia semakin bersemnagat, untuk mengarahkan pedangnya ketubuh Satria. Untuk membuat Satria mati ditangannya.
Prang
"Aw!" teriak Antonio.
Tiba-tiba saja, ada sebuah anak panah yang melesat entah dari mana dan mengenai tangan Antonio. Sampai, darah segara berwarna merah itu menyembur dengan derasnya.
Matanya, menatap ke arah suara kaki yang terus mendekat. Dia sangat penasaran, siapa yang berani menyerangnya. Seolah, tidak tahu. Jika, dirinya merupakan orang yang snaagt penting di keluarga Cooper.
Antonio, merupakan kepala rumah Cooper dan sekaligus Paman Alice. Adik kandung dari Antonius Cooper.
Entah berapa liter banyaknya, jika terus begini. Dia bisa mati kehabisan darah, sebelum menyelesaikan misinya.
Hingga, samar-sama nampak seroang wnaita yang keluar dari balik ilalang yang rimbun. Mata wanita itu, memancarkan aura yang sanagt kuat.
Belum lagi, pakaian dan senjata yang wanita itu kenakan. Seolah, sudah bisa mewakili. Jika, dirinya seorang pemburu.
Namun, bukan itu yang membuat tubuh Antonio bergetar. Melainkan, dia sangat mengenal wanita tersebut yang kini sudah semakin mendekat.
Melangkah dengan pelan, tetapi pasti. Sertiap derap kakinya, bagikan lagu kematian yang mengiringi sebuah pemakaman.
"Ada apa?" tanya wanita itu dengan nada yang snaagt dingin.
Seperti, ruang kutub telah berpindah tempat. Keadaan, seketika mencekam. Satria yang masih berada di sana, begitu ketakutan. Aura yang sanagt kuat, membuat tubuhnya meremang.
"Jennifer!" kata Antonio dengan bibir yang bergetar. Serya menatap wanita yang menghampiri Satria yang terduduk di atas tanah.
Sorot mata malaikat maut, yang ingin mencabut nyawa. Membuat Satria secara naluri, memundurkan tubuhnya. Disaat, wanita itu mendekatinya.
__ADS_1
"Kenapa, kamu mau membunuh dia?"
Pertanyaan itu terbang diangkasa, membuat Antonio yang sudah tahu. Kesiapa, pertanyaan itu ditujukan. Kini semakin ketakutan, Jennifer Cooper. Merupakan ibu kandung Alice, tentu saja. Memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, walaupun seorang wanita.
"Jawab!" teriak Jennifer yang menggelegar. Antonio tidak bisa berkutik, jika wanita itu sudah ikut campur. Dengan Alice saja, drinya kalah telak. Apalahgi, dengan wanita yang kini menatapnya dengan tajam itu.
"Jenny! Dia musuh!" terang Antonio dengan suara pelan. Setidaknya, dia bisa menjadikan Satria sebagai kambling hitam.
Satria yang mennegar, apa yang Antonio ucapkan. Tentu saja tidak bisa menerima hal itu, ia pun mencari cara. Agar bisa lepas dari masalah ini, tetapi apa.
Satria menajdi bingung, harus melakukan apa. Dirinya, memang dianggap musuh oleh Antonio. Semenjak kejadian beberapa tahun silam, bahkan termasuk ke dalam daftar list penghianat keluarga Cooper.
"Siapa, namamu?"
Suara Jennifer yang bertanya, bagaikan melodi yang sangat menegrikan di telinga Satria. Tubuhnya, membeku seketika. Seakan tidak bisa bergerak, dia sungguh tidak menyangka. Jika, wanita itu memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Walaupun, hanya berbicara sekalipun. Namun, sudah bisa melumpuhkan lawannya.
"Jawab!" bentak Jennifer yang melihat lelaki mudah dihadapannya hanya diam.
"Satria! Satria Lubis!" teriak Satria. Entah kekuatan dari mana yang merasukinya, dia berani berteriak dengan begitu kencangnya. Padahal, tibuhnya m,asih terasa terkunci. Namun, dia merasa terkejut dengan teriakan Jennifer.
"Keturuan Lubis? Cih! Aku pikir, kalian hanya mitos belaka!"
Setelah mengatakan hal itu, Jennifer menjaga jarak dari Satria. Lalu, memerintahkan Antonio. Untuk mengamankan Satria.
"Amanklan dia!" perintah Jennifer.
Tentu saja, Antonio akan melaksanakan perintah itu dengan hati yang luas dan senang. Karena, bisa menyiksa Satria yang sudah menajdi tawanan.
"Jangan melawan! Jika, kamu ingin tersesat di sini dan tidak bisa kembali!" ancam Antonio dengan segaja. Dia ingin membuat Satria merasa ketakutan dan mati secara perlahan, seraya mengikat tubuh Satria. Antonio mendorongnya, agar mau bergerak.
Namun, beberapa menit kemudian. Antonio menggaruk dahinya, dia melupakan suatu hal yang sangat penting.
Yaitu, alasan apa yang bisa membuat Satria berada di dunia Albiru dan bagaimana caranya. Dia bisa masuk di dunia buatan tersebut.
"Satria! Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Antonio dengan sorot mata yang tajam, seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
"Bukan urusan anda!" balas Satria dan terus bergerak. Walaupun tangannya diikatkan, tetapi tidak dengan kaki dan mulutnya.
Antonio yang mendengar jawaban dari Satria menjadi marah, lalu menusuk tubuh Satria dengan pedang tangan ada di tangannya. Padahal, tubuhnya sudah mulai lemah. Namun, belum sempat Antonio melakukan rencanannya. Tubuh lelaki itu tumbang.
Bruk
__ADS_1
"Apakah, dia mati disaat seperti ini?"