
"Sat, kita tidak memiliki banyak piihan. Kalau kamu menolak melakukan hal ini? Maka, kita semua akan—" Jennifer tidak mampu meneruskan ucapannya, entah bagaimana nasib semua orang nantinya.
Satria yang diam saja, sebenarnya tengah berfikir keras. Menentukan pilihan apa yang terbaik, sampai sang ibu juga mendesaknya.
Seperti tidak ada pilihan lain, terlebih dirinya saat ini hanyalah manusia biasa. Bukan seroang Dewa dan kekuatan yang Satria miliki tidak sebanyak dulu.
"Baiklah," jawab Satria dengan raut wajah serius dan membuat Victoria tersenyum lebar seraya memerintahkan para pelayan untuk maju.
Raut wajah Satria menjadi masam, mana mungkin ia melakukan hal itu di tempat terbuka seperti ini. Hingga Satria meminta agar semua pelayan wanita yang sekitar 10 orang itu untuk mengikutinya ke danau.
Satria akan mengunakan kemampuan Heypersexnya di sana, sebab ada sesuatu yang tidak ingin Satria tampakan kepada ibunya ataupun Jennifer.
"Baiklah, izinkan Ibu—"
"Ibu tunggu di sini saja! Siapkan semaunya, ini tidak akan lama," jelas Satria memotong ucapan Victoria dan membawa para pelayan wanita itu menuju ke danau.
__ADS_1
Victoria hanya bisa gigit jari akan perintah Satria, sebab tidak ingin menganggu ritual yang sakral ini membuat ibunya Satria harus mengikuti permintaan sang putra.
Sedangkan Jennifer sudah kembali sibuk dengan persiapan yang lainnya, bukan hanya prajurit yang mereka perlukan. Semua perlengkapan dan persenjataan juga hal yang harus diperhatikan.
Mereka akan menyiapkan sebuah pasukan dengan cepat, sama seperti perang terdahulu. Namun, kali ini pasukan mereka harus siap dan dilengkapi dengan persenjataan terkini.
Di saat Jennifer sibuk dengan urusannya sendiri, Satria yang sudah berada di danau bersama dengan para pelayan wanita memulai ritualnya.
Hingga Put yang berada di sana sedikit terkejut dengan apa yang Satria jelaskan, bahwa akan mengunakan kekuatan Heypersexnya.
Satria hanya mengangguk kecil seraya meminta para pelayan wanita itu untuk berbaris dengan rapi dan mendekatinya secara bergantian.
Terlihat dengan jelas raut wajah ketakutan di setiap pelayan wanita itu, tapi Put mencoba menyakinkan bahwa tidak akan terjadi hal yang buruk.
Hingga pelayan wanita pertama mendekati Satria dengan keringat yang mengucur deras, Satria menampakan wajah yang berseharja dan menyentuh perut pelayan wanita itu dengan jari telunjuknya dan seraya mengucapkan mantera.
__ADS_1
Seketika saja wanita itu berteriak histeris dan membuat pelayan yang lainnya menjadi ketakutan, sedangkan Put yang melihat reaksi wanita itu terdiam dengan tatapan datar.
"Aaaaa ... sakit!" teriak pelayan wanita itu.
Satria mengentikan teriakan wanita itu dengan sebuah mantra khusus seraya melihat perubahan yang terjadi, di mana perut pelayan wanita itu membesar dan tidak lama melahirkan sebuah telur.
Melihat apa yang terjadi, Satria memanggil pelayan wanita yang lainnya. Tentu saja mereka semua diliputi oleh perasaan takut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Satu demi persatu pelayan wanita itu mengalami keadaan yang sama dengan pelayan yang pertama, Put memunguti telur-telur yang telah dikeluarkan dan mengumpulkannya dalam satu tempat.
Hingga terkumpul sekitar ratusan telur, Put meminta kepada Satria untuk menghentikan aksinya. Sebab, bisa berbahaya dengan keadaan para pelayan itu yang nampak begitu kelelahan setelah melahirkan banyak sekali telur.
"Apakah sudah selesai?" tanya Put seraya mendekati Satria yang telag memberikan sebuah mantra kebalikan dari yang sebelumnya.
"Kamu jaga telur-telur itu sampai menentas, aku akan membawa para pelayan kembali ke rumah," jelas Satria seraya mengangkat tubuh para pelayan yang lemah tidak berdaya dan berlalu meninggalkan Put dengan sebuah tugas.
__ADS_1