
"Siapa yang melakukan ini semua?" gumam Satria.
Put hanya mengangkat bahunya, sebab belum mengetahui dengan pasti. Sedangkan Key yang mendengar apa yang dijelaskan oleh Put menjadi tertarik.
"Jadi ... ada dunia atas di sini?" tanya Key kemudian. Nmaun, Satria atau Put tidak menanggapi dan memilih untuk beristirahat.
Key menjadi geram, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, salahnya sendiri yang tidak mau bekerjasama dengan Satria dan Put.
"Aku harus mencaritahu semuanya," batin Key bertekad dan memilih untuk ke kamar.
***
Keesokan harinya, sesuai dengan janji Satria kepada Put. Bahwa akan menemani Put mengambil tubuh Bloggernya yang di simpan di goa yang terdapat di area barat dunia Albiru.
Mereka berangkat pagi-pagi sekali dan meninggalkan Key seroang diri, Put tidak ingin melibatkan Key dalam hal ini. Terlebih Key yang tidak mau menjadi bagian dari mereka, bahkan setelah menjadi Blogger sekalipun.
Kini Satria bisa berjalan dengan begitu cepat, sedangkan Put hanya terbang melayang. Kekuatan Blogger yang mengalir di dalam tubuh Satria membuatnya tidak mudah lelah.
Tidak berapa lama, mereka pun telah sampai di depan goa yang dimaksud. Satria merasa ragu untuk masuk ke goa yang tampak tidak terjamah oleh mahkluk lain.
"Apa benar di sini?" tanya Satria ingin menyakinkan.
Put pun menjelaskan dengan seksama tentang goa yang berada di hadapan mereka, di mana tempat ini merupakan wadah penampungan mayat Blogger yang tewas.
Sama halnya seperti pemakaman, bedanya di sini tubuh mereka akan kekal seperti di formalin. Selama tidak dipindahkan dari goa, maka selama itu pula tubuh yang ada di dalam sana akan untuh.
Satria berdecak kagum dengan apa yang beru saja ia dengar, kemudian mereka masuk ke goa semakin dalam mencari keberadaan tubuh Put.
"Di sini terlalu gelap," keluh Satria yang tidak bisa melihat apapun yana ada di dalam goa.
Put tidak pernah masuk ke goa itu, membuatnya tidak mengetahui dengan pasti rute untuk ke tempat penyimpanan.
Keadaan yang gelap tanpa pencahayaan membuat keduanya kesulitan mencari jalan, ditambah goa yang bercabang membuat keduanya tersesat.
__ADS_1
"Ini seperti libirin saja, kita tidak akan pernah menemukan jalan keluar!" kata Satria merasa putus asa. Meraba-raba dinding goa yang terkadang membuatnya menyentuh sesuatu yang bergerak, entah mahkluk hidup ataupun apa. Sebab, Satria tidak bisa melihatnya.
Semakin lama mereka berada di dalam goa, semakin keadaan di sana pengap dan udara yang semakin kian menipis.
"Put, kaishanilah aku. Lama-lama aku bisa mati di sini," keluh Satria yang kesekian kalinya.
Tubuh Put dan Satria brebeda, membuat Satria mudah kelelahan dan merasa haus serta lapar. Berbeda dengan Put yang telah menjadi roh, jangankan untuk merasa lelah atau apar sekedar bernafas saja Put tidak memerlukannya.
"Jalan terus saja! Sebentar lagi ada cahaya matahari," jelas Put.
Satria hanya diam dan terus berjalan, benar saja. Nampak sebuah cahaya dari kejauhan membuat Satria memiliki harapan untuk hidup.
Mereka menuju ke arah cahaya itu dan menemukan jalan keluar, hingga keduanya melupakan tujuan awal yang ingin mencari tubuh Put.
Hamparan ilalang yang luas dan tinggi membuat Satria tidak bisa berkata-kata lagi, mereka berada di dunia yang tidak di ketahui.
"Put," panggil Satria pelan dan membuat Put segera mendekatinya.
Satria menjelaskan, bahwa dirinya mengenal tempat ini dan mereka harus segera kembali. Namun, Put menolak masuk ke dalam goa bergitu saja.
Put memiliki rencana lain sebelum kembali ke goa, minimal mereka harus membawa obor sebagai penerangan dan beberapa perbekalan.
Mendnegar keluhan Satria yang sekian menit membuat Put enggan kembali ke goa tanpa semua itu, bukannya Put merasa terganggu dengan apa yang Satria keluhkan. tapi, Put merasa kasihan.
Kalau Satria tewas di dalam sana, maka dirinya tidak akan pernah bisa kembali ke tubuh Bloggernya untuk selamanya.
"Terus, apa yang akan kita lakukan?" tanya Satria dengan was-was. Ia takut bertemu dengan Ruu, bukan ingin menjadi pengecut. Namun, Ruu mengetahui semua hal tentang dirinya. Di saat Satria ingin menyembunyikan jati diri.
Put tidak mengindahkan apa yang Satria tanyakan dan memilih terbang, mencari sesuatu yang bisa Satria makan.
"Put!" panggil Satria berusaha menghentikan Put, tapi sudah terlambat. Put telah menghilang begitu saja, Satria memiih untuk menunggu di depan goa dan berharap agar Put segera kembali.
Satria menatap ke hamparan ilalang yang dulunya meninggalkan kisah yang tidak ingin ia ingat, tapi malahan dirinya harus kembali lagi ke sini.
__ADS_1
Sesaat kemudian Satria beru tersadar, mungkin goa ini yang membawa Key ke dunia Albiru dan membuat Ruu bisa berada di dunia yang tidak di ketahui ini.
"Ternyata seperti itu?" batin Satria menemukan jawaban dari teka-teki dirinya bisa bertemu dengan Key di dunia Albiru dan Ruu di dunia yang tidak di ketahui.
Ada sebuah penghubung diantara keduanya, membuat Satria berfikir bahwa ada ruang ke dunia lain. Entah itu nyata arau tidak, sebab banyak sekali lorong di dalam goa yang belum ia ketahui ke mana saja muaranya itu.
Di saat Satria tengah memikirkan goa misterius, Put datang dengan beberapa buah yang dipikulnya dalam sebuah keranjang.
"Aku pikir kau akan pegi dan berjalan-jalan," kata Put seraya menyerahkan barang bawaannya kepada Satria.
Sedangkan Satria hanya tersenyum kecil dan mengucapkan terimakasih kepada Put, seraya mengikuti Put yang sudah ingin masuk kembali ke goa.
Put menyalakan sebuah obor yang ia dapatkan secara tidak senagja ketika mencari buah tadi, kemudian menyerahkannya kepada Satria.
"Ambil ini! Aku takut tebakar, sebelum masuk kembali ke tubuhku," kata Put.
Satria hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh Put dan segera memegang obor yang begitu kecil untuk ukuran Blogger, dengan jari jempol dan telunjuknya Satria memegang obor tersebut.
Seperti sedang memunguti paasir, Satria sampai terkekeh geli. Namun, ia melihat obor tersebut dan menanyakan sesuatu kepada Put.
"Di mana kamu mendapatkan ini?" tanya Satria penasaran.
Namun Put hanya diam dan menyuruh Satria untuk segera masuk, Put tidak ingin mereka lebih lama di dunia yang tidak diketahui.
"Put," panggil Satria. Namun, tidak digubris sama sekali oleh Put yang kini terbang mendahulu Satria.
Melihat tingkah aneh Put membuat Satria bertanya-tanya dan mengikuti Put, teringat akan keranjang yang diberikan oleh Put sebelumnya membuat Satria penasaran.
Betaba terkejutnya Satria melihat buah yang tidak asing baginya, buah itu sebesar ukuran kepala manusia dengan warna merah yang terang.
"Ini 'kan?" gumam Satria yakin.
Put yang sudah semakin menjauh membuat Satria segera mengejarnya, ia ingin mempertanyakan semua ini.
__ADS_1