Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 121


__ADS_3

"Kamu tidak mengerti apapun, Put! Kamu tidak pernah bisa mengerti apa yang aku rasakan!" pekik Alice membalas tatapan tajam Put.


Put hanya bisa membuang nafas panjang, kemudian menghampiri Satria yang masih nampak begitu terkejut.


"Ini bukan kesalahanmu, kami yang tidak bisa—"


"Apa! Kamu bilang bukan kesalahannya?" tanya Alice dengan marah seraya menunjuk ke arah Satria.


Alice tidak bisa menerima apa yang baru saja Put ucapkan, sebab Satria harus bertanggungjawab atas semua hal yang terjadi.


Victoria segera menghampiri Alice dan mencoba menenangkan Alice seraya membawanya masuk meninggalkan Satria dan Put.


Setalah itu, Put mengajak Satria untuk pergi ke danau menenangkan perasaan dan pikiran. Satria seperti orang linglung dan hanya menurut saja.


Satria amat terpukul dengan apa yang terjadi, memang kesalahannya telah menampung Ruu dan membantu H.

__ADS_1


Namun, Satria tidak menyangka akan serangan H terhadap keluarga Cooper. Satria masih berharap bisa memperbaiki semua keadaan, bahkan bisa memulai kehidupan yang lebih baik lagi.


"Sat, jangan terlalu merasa bersalah. Kita bisa perbaiki ini semua, tinggal sedikit lagi ... rencana kita akan berhasil," jelas Put memebri Satria semangat seraya menyodorkan air yang ditampung dalam wadah yang terbuat dari daun.


Satria menerima air tersebut dan meminumnya dalam sekali tegak saja, pikiran Satria seperti buntu saja. Ia tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi, seakan otaknya tidak bisa berfikir lagi.


"Put, jangan membuatku merasa lepasa tangan atas semua yang terjadi. Aku hanya memerlukan waktu untuk menenangkan perasaan ini, nanti ... aku akan menyelesaikan semua yang sudah aku mulainya," jelas Satria dengan lesu dan menatap ke arah danau yang begitu tenang.


Satria berharap hidupnya seperti danau tersebut, di mana bisa memberikan kehidupan dan bermanfaat bagi makhluk lain.


"Apa yang bisa kamu lakukan sekarang? Kamu tahu, bukan? Kalau dunia ini akan terus terjadi peperangan dan ketidak selarasan, selama ... kita hidup dengan perasaan ingin memiliki," jelas Put.


Put paham betul dengan apa yang dirasakan oleh Alice, sebab dirinya juga terlahir dan hidup dalam keadaan yang begitu suli.


Bukan kehendak Put semua masalah dan peperangan terjadi, tapi Put tidak suka menyalahkan orang lain dan terpuruk.

__ADS_1


Bagi Put, hidup ini terus berjalan. Entah bagaimana caranya, semua makhluk hanya bisa berusaha. Bukan menyalahkan takdir yang memang tidak pernah mau bersahabat.


"Put, jika aku tidak bisa melakukannya? Apa kamu mau meneruskan perjuangan ini?" tanya Satria seraya menatap ke arah Put dengan serius.


Put yang juga membalas tatapan Satria menjadi bingung dengan ucapan Satria dan memperjelas, apa yang Satria inginkan.


"Maksudnya? Meneruskan apa?"


Satria tersenyum kecil seraya menyetuh perut Put yang rata, Satria sangat yakin kalau benihnya telah berkembang di rahim Put.


Seorang penerus yang akan menjadi penguasa dunia, hal itu yang Satria harapkan sekarang. Bukan anak-anak yang hanya akan membela satu pihak dan menyerang pihak lainnya.


"Jaga dia untukku, senadianya ... aku tewas dalam peperangan. Dia adalah permata kehidupan," jelas Satria memohon.


Put terdiam sejenak, ia bingung harus berkomentar apa. Terlebih dengan keadaan sekarang yang tidak menguntungkan sama sekali.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa berjanji. Tapi, aku akan berusaha melakukan yang terbaik," jelas Put kemudian.


__ADS_2