Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 37


__ADS_3

Satria yang mendengar apa yang disampaikan oleh ayahnya, mengerutkan dahi. Ada bagian yang membuat Satria tertarik.


"Jadi ... keluarga Lubis masih ada?" Pertanyaan itu meluncur dengan begitu saja, Penus mengangkat bahunya. Menjawab, pertanyaan Satria. Sebab, dirinya juga tidak bisa memastikan hal itu.


"Tunggu dulu! Kenapa kalian ada di sini?" Kali ini, Penus yang bertanya. Setelah, baru menyadari. Jika, ada Satria dan Victoria di dunia Albiru.


"Bukan urusanmu!" balas Victoria dengan garang.


Penus memilih untuk berlalu, tetapi tangannya di cekal oleh Satria. Membuatnya mengerutkan dahi.


"Ini bukan urusanku." Penus mengembalikan, apa yang baru saja di ucapkan oleh Victoria.


Satria mendesah berat, dia sudah tahu. Jika, kedua orang tuanya tidak akan pernah akur. Kalau, bertemu. Membuatnya, bingung. Bagaimana, menyatukan keduanya.


Duar


Disaat Satria tengah berpikir keras, tiba-tiba saja. Terdengar dengan keras, suara petir yang menyambar. Bob mengingatkan Satria, untuk berteduh. Karena, malam ini. Kemungkinan, mereka akan kehujanan.


"Dewa Satria, mungkin. Kita harus mencari goa di sekitar sini, untuk berteduh."


Keadaan masih belum bisa dikendalikan oleh Satria, apalagi dirinya bertemu dengan ayah dan ibunya dalam waktu yang bersamaan.


Dengan kekuatan yang dimilikinya, Satria bisa merasakan. Jika, ada goa yang tidak jauh dari tempat mereka dan mengajak semua orang untuk mengikutinya.


Awalnya sang ayah menolak, karena ingin segera meneruskan perjalanan. Namun, keadaan tidak memungkinkan. Sebab, hujan turun dengan deras.


Mereka semua berlari, mengejar Satria yang telah berlalu menuju ke sebuah goa. Keadaan malam yang semakin larut di tambah derasnya guyuran hujan. Membuat mereka semua merasa kedinginan.


Bob berusaha membuat api, untuk menghangatkan tubuh mereka semua dengan mengumpulkan beberapa dahan kayu dan ranting yang tercecer di dalam goa.


Sedangkan Satria, menatap nanar kearah kedua orang tuanya yang mulai beradu debat. Bukan rahasia lagi, jika keduanya memang selalu begitu setiap kali bertemu.


"Penus! Lebih baik kamu jujur! Apa alasan, kamu ke sini?" tanya Victoria dengan sorot mata tajam.


Penus mendesah berkali-kali, dia sudah menjawab apa yang ditanyakan oleh mantan istrinya itu. Namun, Victoria masih saja mengulangi pertanyaannya yang sama.


Membuat Penus memilih diam dan mengasah pedang miliknya, didekat api yang dibuat oleh Bob. Sesekali, dia berbicara kepada Bob yang terlihat ramah menurutnya.

__ADS_1


Sedangkan Victoria, merasa semakin kesal akan sikap Penus yang acuh tak acuh seperti itu. Seolah, dirinya tidak dianggap ada.


"Paman Bob, berapa lama kita bisa sampai?" tanya Satria dengan sengaja. Dia ingin melihat, seperti apa reaksi ayahnya.


Bob yang mendapatkan pertanyaan itu, menatap ke arah Sis. Istrinya mengangguk kecil, memberikan izin. Barulah Bob, menjawab pertanyaan Satria.


"Mungkin beberapa hari lagi, jika ... jalannya tidak terlalu becek. Karena, hujan."


Satria mengangguk paham, dengan apa yang dijelaskan oleh Bob. Ujung matanya melirik sang ayah yang tidak bergeming sama sekali, membuatnya mengambil kesimpulan. Jika, ayahnya tidak ingin membantu sama sekali dan memilih untuk beristirahat. Sebab, besok. Mereka tetap harus, melanjutkan perjalanan.


Satria memilih, berada di dekat Victoria. Dia merasa aman, dengan keberadaan wanita itu di dekatnya. Bahkan, sang ibu tidak ragu untuk menjadikan pahanya sebagai bantal untuk Satria. Membuat Satria merasa aman dan nyaman, hingga terlelap.


"Selamat malam, Bu," ucap Satria pelan dengan sentuhan tangan Victoria yang terus mengusap rambutnya.


***


Keesokan paginya, Satria dibangunkan oleh suara sang ayah yang sangat marah. Suara lelaki itu memekik, dengan kata-kata yang sangat kasar tentunya.


Satria mengusap matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam bola mata. Hingga, dia bisa melihat dengan jelas wajah Penus yang memerah.


"Ini tidak masuk akal! Bagaimana bisa?"


Semua mata kini menatap ke arah Satria, terpancar aura yang tidak enak. Di setiap sorot mata mereka satu persatu, sampai Penus berbicara dengan dingin.


"Entah bagaimana? Kamu bisa menjelaskan ini!" kata Penus dan menunjuk ke arah Victoria.


Satria menatap kearah ibunya yang terlihat baik-baik saja, hingga matanya tertuju kepada perut sang ibu yang membesar.


Sudah bisa dipastikan, jika tanpa sengaja. Satria telah membuat Victoria hamil dengan kemampuan Heypersexnya.


Kini Satria paham, akan tatapan dan perasaan yang tidak enak dari semua orang. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, ingin marah sekali pun tidak akan bisa merubah apa yang terjadi.


"Bu Sis, bisa bantu Ibuku?" pinta Satria.


Sis melirik ke arah Bob terlebih dahulu, setelah mendapatkan izin dari sang suami. Barulah, wanita itu berani memberikan jawaban.


"Bisa, Dewa Satria."

__ADS_1


Penus benar-benar muak dengan apa yang tengah terjadi, dia menatap kearah Satria dengan bengisnya. Seolah, ingin membunuh Satria saat ini juga.


"Dewa! Dewa Satria! Kamu pikir dengan menjadi Dewa? Bisa merubah segalanya? Hah!"


"Kamu kenapa, Penus! Setiap kata yang sedari tadi kamu ucapkan, selalu menyalahkan Satria!"


Victoria tidak terima dengan segmen yang diberikan oleh Penus kepada Satria, baginya ini bukan kesalahan putranya.


Penus menatap kearah Victoria dengan sinis, "Lalu, siapa yang bisa disalahkan? Hah! Kamu hamil! Dan ... ayah dari anakmu adalah putramu sendiri!"


Ada nada kekecewaan yang sangat jelas dari kata yang diucapkan oleh Penus, bahkan Satria bisa merasakan hal itu.


Dia segera bangun dan menghampiri ayahnya yang dikuasai oleh emosi, kemudian menepuk pelan bahu lelaki itu.


"Aku putramu! Dan kemampuan ini? Berasal darimu!"


Penus bungkam seketika, setelah Satria mengatakan hal tersebut. Haruskah? Dirinya marah, akan sebuah kesalahan yang terjadi karena kekuatan yang tidak busa dikontrol dan dikendalikan.


Lalu, apa yang bisa dia lakukan untuk menekan semua kesalahan yang terjadi. Jika, dirinya sendiri tidak mau menjelaskan apapun kepada Satria.


Semua hanya, sebuah kesalahan dan terjadi berulang kali. Andaikan, Penus mau membuka suara dan memberikan pengarahan kepada Satria. Mungkin, hal ini tidak akan terjadi.


"Dewa Satria, mungkin kita bisa melanjutkan perjalanan. Biarkan Sis yang menjaga Ibu anda, sampai telur-telur kalian menetas."


Apa yang dijelaskan oleh Bob, membuat Penus menatap kearah Bob dan Satria berganti. Seolah, meminta penjelasan.


Satria hanya mengiyakan apa yang diucapkan oleh Bob, lalu meminta izin kepada Victoria. Sebelum, dirinya pergi.


"Bu, aku janji. Akan segera kembali, jika ... urusanku sudah selesai."


Kini, Satria beralih kepada Sis. Wanita itu pun membalas tatapan Satria dengan sendu.


"Mintalah sesuatu kepadaku, dan aku akan mengabulkannya."


"Aku hanya meminta kekuatan yang tidak terbatas, untuk bisa menjaga orang-orang yang kusayangi," pinta Sis.


Kemudian, cahaya muncul dari tangan Satria dan memenuhi tubuh Sis. Cahaya itu, masuk kedalam tubuh Sis. Membuat wanita itu, memiliki kemampuan yang setara dengan Dewi.

__ADS_1


"Terimakasih, Dewa Satria." Sis tersenyum dengan bahagia, begitu pun dengan Bob. Dia memeluk istrinya, sebagai bentuk kebahagiaan.


"Apa yang terjadi?" tanya Penus yang tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


__ADS_2