Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 14


__ADS_3

"Ibu kalah!" kata Satria dengan penuh kemenangan.


Satria bagaikan berad diatas angin sekarang, namun tiba-tiba saja. Victoria kembali menyerang Satria yang lengah dan membuat putranya itu yang berbalik terjatuh, dengan cepat wanita itu mengambil alih pedang Satria dan kini dia yang menguasai permainan.


"Jangan suka berbangga diri dulu! Karena, hal itu hanya akan menurunkan kosentrasimu!"


Setelah mengatakan hal itu, Victoria mengulurkan tanganya dan membantu Satria berdiri. untuk pertama kalinya, Satria melihat kemampuan ibunya yang sangat luar biasa.


Dia pun tidak tahan, untuk menanyakan banyak sekali pertanyaan yang tidak mau berhenti. Terus berkembang dan bercabang di dalam otaknya, tentu saja. Satria menginginkan sebuah jawaban yang memuaskannya.


Disaat mereka tengah duduk bertiga, Satria mulai mencerca beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada sang ibu.


"Bu, kenapa nama belakangku Lubis? Lalu, kenapa Ibu bisa bekerja dengan keluarga Alice? Dan kenapa? Ibu bisa berada di kastil ini?"


Namun, Victoria hanya diam. Dia tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Satria, tentu saja hal itu. Membuat Satria semakin penasaran dan kembali mencercanya dengan beberapa pertanyaan lainnya.


"Kenapa Ibu diam saja? Kenapa Ibu tidak mau memberitahukan apapun kepadaku? Jika, Ibu terus diam? Maka, aku ingin pulang!"


Kali ini, Satria menyelipkan sebuah ancaman untuk sang ibu. Berharap, agar wanita itu mau merespon ucapannya.


"Kenapa Ibu di sini? Karena, Ibu Bubu keluarga Cooper! Kenapa, Ibu tidak memberitahukan apapun kepadamu? Karena, nanti ... kamu akan mengetahuinya."


Satria tidak merasa puas dnegan jawaban yang diberikan sang ibu dan kembali ingin bertanya, tetapi suara Profesor Ruden. Membuat satria mengurungkan niatnya.


"Vic! Sat! Kita akan melakukan bentel! Aku sudah menyiapkan semuanya," terang Profesor Ruden dan bergegas mengambil sesuatu.


"Bentel?" gumam Satria penasaran dan mengikuti lelaki paruh baya itu.


Satria melihat Profesor mengambil sebuah ramuan, dan menyodorkan benda tersebut kepadanya. Bentuk dan warnanya yang aneh, membuat Satria mengerutkan dahinya.


Namun, ketika sang ibu datang. Wanita itu langung meminum, ramuan yang menurut Satria aneh dengan sekali teguk saja.


"Glek ... Glek."

__ADS_1


Suara air yang meluncur dengan bebas, kedalam tenggorokan Victoria. Setelah habis, dia mengusap bibirnya dengan tangan dan menyerahkan botol kosong tersebut kepada Satria.


"Berapa jam efeknya?" tanya Victoria dengan menatap kearah Profesor Ruden.


"12 jam, mungkin? Aku tidak begitu yakin," jawab Profesor Ruden dnegan mengangkat bahunya.


Sedangkan Satria yang tidak mengerti dengan apa yang kedua orang itu bicarakan hanya diam.


Sampai terlihat perubahan yang terjadi kepada sang ibu, membuat Satria ketakutan. Tiba-tiba saja, tubuh Victoria mengeluarkan sayap besar dan wajah serta bagian tubuh lainnya mulai bersisik.


Hingga, seluruh tubuh Victoria berubah dengan sempurna. Menjadi seekor naga, dnegan sisik yang sangat indah dan berkilau.


Satria yang melihat semua proses perubahan yang terjadi kepada ibunya. Menatap tidak percaya, sampai sang ibu menarik tubuh Satria dengan mulutnya dan melemparkannya ke atas panggung.


Kemudian, Victoria membawa tubuh Satria terbang bersamanya. Keluar dari jendela yang besar dengan memecahkan kaca jendela tersebut, meninggalkan teriakan Profesor Ruden yang sangat marah besar.


"Victoria! Kamu harus menganti kerusakan, tang telah kamu buat!"


Sedangkan Satria berpengangan dengan erat, dileher sang ibu yang telah berubah menjadi naga. Satria merasa takut, jika yang dialaminya saat ini. Hanya, sebuah ilusi semata dan tubuhnya akan terjun bebas ke dasar tanah.


Satria yang sedari tadi diam dan menutup matanya, karena takut. Kini, terbelalak. Setelah mendengar, apa yang dikatakan oleh sang ibu.


Walaupun, tubuh Vicroria berubah. Namun, tidak dengan suara atau keperibadaian wanita itu. Terlebih mereka memiliki kesempatan untuk kabur dari Kastil Profesor Ruden.


Victoria membawa Satria terbang semakin tinggi, hingga menembus ke awan. Putranya masih diam dan tidak menjawab pertanyaaannya yang sebelumnya, membuat wanita itu mengulangi pertanyaannya yang sama.


"Satria? Apa kamu ingin bertemu dengan ayahmu? Dan menayakan semuanya? Semua yang ingin kamu ketahui?"


"Apa boleh?" tanya Satria dengan polos.


"Tentu saja, selama Ibu masih bisa membawam,u terbang. Kita akan mendatangi ayahmu, Penus Lubis," terang Victoria dan terbang melayang. Menembus cakrawala, menuju ke negara Z. Dimana, ayah Satria berada.


Jika, sebelumnya. Satria terbang dari negara Z menuju negara X dengan memakan waktu sekian jam lamanya, berbeda dnegan sekarang. Satria merasa sangat singkat dan efesien, hingga sang ibu menurunkannya di sebuah bukit yang tingggi.

__ADS_1


"Kamu tahu, menuju ke rumah ayahmu, bukan? Ibu akan menunggu di sini, panggiol nama Ibu. Jika, kamu sudah datang," terang Victoria yang tidak bisa mengantar Satria secara langsung. Karena, hanya akan membuat dirinya terancam dengan keadaan yang seperti sekarang.


"Apa Ibu yakin, akan tinggal disini?" tanya Satria yang merasa tidak tega. Meninggalkan ibunya sendirian di tengah hutan.


"Ayolah, Sat. Ibumu sekarang sekor Naga, jika ada yang macam-macam? Maka, akan ibu buat mereka terpanggang!" terang Victoria dengan tergelak.


Sedangkan Satria meringis, dengan cara bahasa yang ibunya katakan. Sanggat berbeda dengan sebelumnya, seolah wanita itu sangat menikmati menjadi seekor Naga.


"Baiklah, aku akan segera kembali. Setelah bertemu dengan ayah dan menayakan tentang keluara Lubis kepadanya," jelas Satria dan mulai meninggalkan Victoria sendirian.


Satria ingin menegtahui smeuanya, tentang keturuan Lubis dan kemampuan Heypersex yang pernah dibaca olehnya.


Karena, hanya sang ayang yang pasti memiliki jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan tersbeut, Satria terus berjalan. Menyelusuri rimbunya hutan, dia mengikuti arah matahari yang sudah dipastikan menghadap ke barat.


Hingga, Satria bisa keluar dari hutan dan berada di tepi jalan aspal yang sangat sepi. Kali ini, Satria melihat pergerakan pepohonan. Dimana condongnya pepohonan, agan mengarahkannya ke timur. Maka, dia bisa mengambil arah sebaliknya.


Semua hal itu, Satria pelajari dari Put. Tentang cara mengambil arah kembali dan bertahan hiodup di hutan. Walaupun, dia tidak mungkin akan bertemu dengan monster ataupun mahkluk metalogi. Seperti, didunia Albiru.


Titt


Suara klakson mobil, mengagetkan Satria dan dia melihat ke arah mobil yang sangat dia kenali. Satria pun segera menepi, apalagi mobil tersebut berhenti sesaat.


Satria bisa melihat penggemudi mobil itu, keluar dan menghampiri dirinya. Seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Satria! Kamu Satria, kan?" tanya lelaki yang dicari oleh Satria, yaitu Penus Lubis.


"Ayah, ini aku Satria. Putramu," jawab Satria dengan mata yang nanar. Entah mengapa, setelah bertemu dengan ayahnya. Satria merasakan energi yang aneh. Meneyruak begitu saja, sampai lelaki tersebut mengatakan keberadaan Satria yang seharusnya di negara X.


"Apa yang kamu lakukan di tengah hutan seperti ini? Seharunya, kamu berada di negara X bersama ibu, bukan?" tanya Penus heran.


"Ada sesuatu yang aku ingin tanyakan, kepada ayah!" balas Satria dengan sorot mata serius.


"Apa itu?" tanya Penus dengan penasaran.

__ADS_1


"Sebaiknya, kita bicarakan hal itu di rumah saja," ajak Satria.


"Sebenarnya ... ."


__ADS_2