
"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Lubis seraya menatap ke arah Satria.
Lubis melihat hemparan ilalang yang begitu tinggi dan luas, tidak ada apapun yang menarik dari tempat ini pikirknya.
Namun Satria tidak menanggapi celotehan Lubis dan terus berjalan seraya mengingat-ingat tempat pertama kalinya ia datang.
Mereka berjalan beriringan dengan Lubis yang berada di belakang, ada perasaan penasaran yang menyeruak dari Lubis akan sikap Satria. Tapi, sengan untuk menanyakan hal itu langsung kepada sang ayah.
Sampai Satria berhenti pada sebuah batu besar yang terdapat ditengah-tengah padang ilalang, ia yakin itu tempatnya.
"Ayo kita naik atas batu itu," ajak Satria kepada Lubis yang ternyata mencari kudapan dengan menangkap beberapa hewan kecil yang ditemuinya.
Karena ilalang yang begitu tinggi menyulitkan Satria untuk berjalan, dengan susah payah akhirnya ia bisa mencapai tepi batu tersebut.
Namun, pandangannya mulai menggelap ketika melihat ada seseorang yang amat ia ingin hindari saat ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Satria dengan nada tinggi.
Lubis agak tersentak mendengar suara Satria, tapi ia masih diam dan memeprhatikan apa yang akan ayahnya lakukan kepada seseorang yang tidak dikenal itu.
"Hahaha ... kau terlalu naif, Satria," ejek orang itu seraya duduk di atas batu dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
Satria semakin geram, tapi tidak bisa berbuat banyak. Kini ia hanya seorang manusia biasa, jika melawan maka dirinya yang akan binasa.
Seraya mencari akal untuk menghindari orang itu, Satria teringat pada Lubis dan membisikkan sesuatu kepada sang putra.
"Baiklah, Ayah," jawab Lubis dan meraih lelaki paruh baya yang berada di atas batu itu.
Namun, diluar dugaan Satria. Terjadi adu kekuatan antara Lubis dengan lelaki itu, Satria benar-benar ingin mengutuk Profesor Ruden. Ya, orang itu adalah lelaki paruh baya yang telah membuatnya sampai terdesak seperti ini.
Bahkan, Profesor Ruden yang memiliki panggilan Ruu itu merubah dirinya menjadi jelmaan siluman ular. Tentu saja Satria merasa Syok dengan hal itu, tapi tidak ada yang bisa ia perbuat sama sekali.
Melihat Lubis yang kewalahan melawan Ruu membuat Satria bingung harus melakukan apa untuk saat ini, antara ingin kabur melarikan diri atau menyelamatkan putranya.
"Aaaa ... ."
__ADS_1
Sebuah teriakan yang begitu amat menegrikan membuat Satria menjadi panik, terlebih ia melihat Lubis yang semakin terdesak oleh serangan Ruu yang sangat luar biasa.
Ekor Ruu melilit tubuh Lubis, entah mengapa Lubis tidak berubah menjadi siluman ular. Tentu saja putranya akan kalah telak dengan keadaan seperti ini.
"Hahaha ... ternyata kamu anaknya Lilly? Bagimana dengan keadaan ibumu, hah?" tanya Ruu yang semakin menjerat tubuh Lubis dan membuat bocah itu semakin kesakita.
"Ayah," panggil Lubis dengan suara yang pelan karena tenanganya yang semakin melemah, tatapan mata memohonnya membuat Satria tidak tahan lagi dan maju.
Satria menaiki batu yang begitu besar seperti bukit kecil, tapi sangat licin di tambah cahaya mata yang semakin redup membuat Satria begitu kesulitan dengan keadaan ini.
Namun, wajah Lubis membuat Satria mengeluarkan sesuatu yang selama ini terpendam.
Kekutan sejati dari keturunan keluarga Lubis, paancaran cahaya berwarna biru muda keluar dari tubuhnya dan terlepas begitu saja.
"Apakah ini?" tanya Satria melihat semua perubahan yang terjadi.
Di saat Satria merasakan energi yang begitu luar biasa, tiba-tiba saja Ruu menyerangnya dengan begitu cepat.
Satria sudah terlatih dan begitu trampil dalam menghidar, itupun berkat Ruu dan sang ibu yang mengajarinya.
Serangan demi serangan yang Ruu lakukan tidak begitu berarti untuk Satria yang telah dikuasai oleh kekuatan baru yang begitu hebat.
Bahkan, Satria bisa dengan mudahnya mengembalikan keadaan. Kini Ruu lah yang terdesak dan memilih kabur.
Sadar akan perubahan yang terjadi kepada Satria dan kemampuannya yang belum seberapa, Ruu menghilang dibalik ilalang serta gelapnya malam.
"Dasar pengecut!" teriak Satria kesal dengan Ruu yang berhasil lolos dari cengkramannya.
Namun, ia teringat akan Lubis dan segera mencari keberadaan putranya yang terlah tergeletak di atas batu.
Dengan perlahan Satria mengangkat kepala Lubis dan meletakkan di atas pangkuannya seraya menepuk pelan pipi sang putra agar mau tersadar.
"Ayah," lilih Lubis seraya membuka matanya dengan perlahan.
Apa yang Satria lakukan akhirnya berhasil, senyuman indah mengembang diwajahnya. Satria memeluk Lubis dan berjanji di dalam hatinya untuk menjaga sang p[utra.
__ADS_1
Satria tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti kepada Alex, mau bagiaman pun kepada Lubis. Bocah itu tetap putranya, di dalam darah Lubis mengalir darahnya.
"Ayo kita pergi dari sini, sebelum pamanmu datang," ajak Satria yang tidak ingin sampai bertemu dengan Key.
Lubis hanya menagguk kecil menanggapi apa yang Satria ucapkan, dia bingung akan pergi ke mana. Sedangkan mereka berada di tengah-tengah ilalang yang tinggi, hanya batu yang dipijak membuat mereka bisa melihat keadaan sekitar.
"Evalius!" teriak Satria mengucapkan mantra yang sama dengan Haruna sebelumnya. Berharap dengan mantra tersebut bisa Albiru.
Tiba-tiba saja ada cahaya yang begitu terang dan membuat keduanya kesulitan untuk melihat setelah terkena sinaran cahaya tersebut.
Lubis berpegangan tangan dengan Satria, seperti anak kecil yang ingin menyerang jalan. Bahkan seakan tidak ingin terlepas, Satria juga membalas genggaman tangan Lubis.
"Kalian tidak apa-apa?" Suara seseorang membuat mereka membuat mata dengan perlahan, terlihat seorang wanita yang amat Satria rindukan.
Air matanya mengalir begitu saja dan langung mememluk sosok wanita itu, ternyata tidak ada tempat yang paling nyaman selain pulang ke rumah.
"Ibu!" teriak Satria dengan nada bergetar.
Victoria hanya menatap bingung dengan sikap Satria yang datang entah darimana dan langung memeluknya dengan erat.
Bukan hala itu saja, Victoria yang melihat keberadaan Lubis yang begitu mirip dengan Satria merasa heran.
"Satria, ke mana saja kamu selama ini? Kami semua mengkhawatirkanmu," jelas Victoria seraya mengurai pelukan mereka.
Banyak hal yang harus Satria jelaskan sejak menghilang di hari pernikahan bersama Alex, Victoria mengajak Satria untuk masuk ke rumah terlebih dulu.
Ternyata Satria kembali ke dunia nyata, mereka berada dihalaman rumah keluarga Cooper. Lubis merasa heran dengan keadaan sekitar yang nampak berbeda dengan rumah mereka sebelumnya.
"Ibu, perkenalkan. Ini Lubis," jelas Satria seraya merangkul putranya.
Victoria hanya mengangguk kecil, kemudian kembali berjalan di depan mereka seraya membuka gerbang. Wanita itu begitu terkejut dengan kedatang Satria bersama seorang bocah laki-laki yang datang entah dari mana.
Namun, di satu sisi dirinya merasa senang. Karena bisa bertemu kembali dengan Satria dan bisa menjalankan rencananya yang sempat tertunda setelah kepergian Satria.
"Sudah saatnya," batin Victoria.
__ADS_1