Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Cheper 7


__ADS_3

Namun, ada hal yang masih menganggu pikirannya. Yaitu, Put. Kata zing yang Blogger itu katakan. Masih belum dia ketahui artinya.


"Kalian baru kembali?" tanya Sis. Ketika, Put dan Satria baru kembali.


"Iya, Ma," jawab Put dengan nada pelan.


"Jangan pernah keluar lagi! Para pemburu kembali!" perintah Bob.


Sedangkan Satria mematung seketika, jika Put tidak boleh keluar. Bagaimana, dia bisa menjalankan rencana yang baru saja muncul dalam otaknya.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Satria.


Satria merasa bingung sendiri, padahal dia bisa meminta bantuan Put. Namun, jika Blogger itu tidak boleh keluar. Maka, tidak ada kesempatan untuknya.


"Baik, Yah," kata Put dan membawa Satria masuk ke kamarnya. Dia meletakan Satria di atas ranjang dan mengambil beberapa cemilan.


"Ayo, makan," tawar Put yang menyodorkan remahan kue kering yang dia letakan di atas sebuah kertas.


Satria hanya mengganguk kecil dan memakan remahan roti tersebut, seperti seekor semut. Satria begitu kecil dan Put sangatlah besar.


Disela mengunyahnya, Satria menatap ke arah Put yang kini duduk di sebuah kursi yang sangat besar dan menjadikan tangannya sebagai sandaran.


"kamu sedih?" tanya Satria dan membuat Put menatap ke arahnya.


"Kamu ingin pulang?" Put tidak menjawab pertanyaan Satria barusan, dia malahan berbalik bertanya.


Satria bingung ingin menjawab apa, jika dia mengatakan yang sebenarnya. Takut, jika hal itu akan melukai perasaan Put dan membuatnya memilih diam.


Suara deru nafas Put yang berhembus dengan sangat kencang, membuat remahan roti Satria berterbangan. Membuat, Satria menegur Put dengan lemah–lembut.


"Put, apakah? Kamu bisa bernafas dengan pelan? Kamu bisa lihat?" Satria menunjuk remahan roti yang berhamburan di atas ranjang.


Put tersenyum lebar, dia menganggukkan kepalanya kecil. Kemudian, mulai menceritakan tentang kehidupan sehari-harinya. Walaupu, Satria tidak ingin mengetahui hal itu. Namun, dia menjaga perasaan Put yang dia ketahui sedang bersedih.


Put menceritakan, bagaiamaan nenek moyang mereka hidup, ditengah dunia Albiru. Disaat itu, para Hunter menjadi musuh mereka.


Terkadang, seperti kurcaci. Menjadi buruan para Hunter tersebut. Mereka berusaha bertahan di masa tersebut. Hingga, Dewi Haruna datang dan membantu menyelamatkan mereka.

__ADS_1


Put juga menecritakan tentang keluarga Cooper yang merupakan pemburu, sampai sekarang mereka masih melakukan pemburuan. namun, hanya peada Hunter yang sering membuat maslaah di dunia Albiru.


"Put, seperti apa rupa Hunter?" tanya Satria penasaran, setelah mendengarkan cerita Put.


Lalu, Blogger tersebut. Kembali melanjutkan cerintanya dan menjelaskan rupa dari Hunter dengan ciri-ciri yang sanagt detail.


Dimana, Hunter berbadan besar. Sama sepertinya, tetapi memiliki bulu yang snaagt panjang dan hampir mrnutupi seluruh tubuhnya. Kecuali, wajah.


Hunter hidup dengan cara memakan daging, mereka tiak mengenal apa arti dari memasak dan tempat tinggal.


Dimana kehidupan Hunter hanyalah menacri binatang yang bisa dimakan dan tidur di manapun yang mereka inginkan.


Bahkan, mereka tidak memerlukan pasnaagn untuk memiliki keturunan. Dimana, Hunter hanya bertelur dan mengerami telur-telur tersbeut.


Satria tidak menyangka dengan kisah gila yang Put ceritakan, terlebih dibagian Hunter yang bertelur dan tidak memerlukan pasangan.


Tidak ada kata logis di dalam sana, yang ada hanya kata 'Mustahil'. Satria masih mendengarkan dengan seksama, apa yang dijelaskan oleh Put tentang Hunter dan beralih kepada Dewi Haruna.


Put menceritakan, jika Dewi Haruna sangat cantik dan baik. Bhakan, ukurannya sama persis dengan Satria. Tetapi, tidak memiliki mata seindah Satria.


Put tersenyum, mengatakan hal itu. Seolah menyatakan, jika Satria spesial. Begitu dari pancaran matanya Put.


"Put, apakah kamu mau mengajariku, sesuatu?" tanya Satria pelan.


Put menatap kearah Satria dan bertanya, "Apa Blue? Jika, mengantarmu, kembali? Aku tidak bisa."


Apa yang Put katakan, menjelaskan sesautu. Jika, Put tahu darimana Satria berasal. Hanya emnunggu waktu yang tepat, sampai Satria bisa membuat Blogger itu mengatakan semunya.


Sebab, tanpa Satria minta sekalipun. Put telah menceritakan beberapa hal yang bsia membuatnya mengenal dunia Albiru.


"Ajari aku, untuk bertahan hidup di sini!" terang Satria dnegan kesungguhan hari.


Put tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Tanda setuju akan permintaan Satria tersebut, membuat Satria merasa senang dan meloncat-loncat.


Apa yang Satria lalukan, membuat Put juga ikut senang dan tertawa. Bhakan, melompat-lompat seperti Satria. Put merasa ada teman, sekian abad dia hanaya sendirian. Setelah kedatangan Satria, Blogger kesepian itu bisa kembali ceria.


"Kamu lihat, Bob. Putri kecil kita," kata Sis yang diam-diam mengajak suaminya untuk mengintip apa yang dilakukan oleh Put. Setelah loncatan dari putri mereka yang menyebabkan rumah bergetar.

__ADS_1


"Aku tidak peranh percaya dengan Manusia," baals Bob yang tidak menyukai Satria dan memilih pergi.


Bukan tanpa alasan, Bob sepeti itu. Mereka merupakan Blogger yang tersisa, entah di mana keluarga yang lain.


Karena, ada pemburuan besar-besaran yang dilakukan oleh keluarga Cooper yang mereka ketahui adalah Manusia.


Membuat Bob, menyimpan dendam yang sangat mendalam kepada mahkluk bernama Manusia. Ukuran mereka memang kecil dari para Blogger, namun sangat mengerikan.


Kalau, bukan karena Put yang ingin memunggut Satria. Dia sudah membiarkan Satria di makan oleh Hunter, daripada membawanya pulang.


"Bob," panggil Sis yang mengetahui kesedihan yang tengah Bob rasakan dan mendekati suaminya itu.


"Jika, ada Blogger lain? Maka, aku akan menikahkan Put denganya," terang Bob merasa putus asa.


Mereka berdua pun sama-sama, menghela nafas. Disaat kedua orang tua Put tengah dilanda perasaan sedih dan bimbang. Satria diajari oleh Put, bagaimana memilih makaan yang bisa dimakan dan tidak.


"Jadi, bagaiamanapun bentuknya? Asalkan berwarna biru? Boleh dimakan?" tanya satria ingin memastika penjelasan yang biru saja Put terangkan.


"Iya, karena ... ini dunia Albiru dan semuanya berwarna biru," kata Put dengan merentangkan kedua tanganya dan membuat Satria tersenyum dan mengangguk paham.


Kemudian, Put kembali mengajari Satria bagiamana. Jika, nanti bertemu dengan binatang lain dan cara menghadapinya.


Satria mendengarkan dengan seksama, apa saja yang di jelaskan oleh Put dan mengingat nama-nama serta ciri-ciri makhluk yang hidup di dunia Albiru.


"Put, apakah? Aku bisa bertemu dengan Dewi Haruna?" tanya Satria tiba-tiba dan membuat Put yang tengah berbaring di atas ranjang, segera bangun dan menatap ke arah Satria yang dia letakkan di atas bantal miliknya.


"Kenapa, kamu ingin bertemu dengan Dewi Haruna?" tanya Put dengan penuh selidik. Diantara banyak makhluk yang dia jelaskan. Kenapa, Satria sangat tertarik dengan Dewi Haruna.


Satria yang melihat perubahan dari Put, menyadari sesautu. Jika, Blogger tersebut tengah cemburu. Untuk menenangkan hati seorang wanita, walaupun dai Blogger. Satria sangat tahu caranya.


"Karena, aku ingin meminta satu hal," kata Satria dan membuat Put sangat penasaran.


"Apa itu?" tanya Put.


"Menjadi, Blogger," jawab Satria dan membuat wajah Put memerah.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Satria polos dan membuat Put menutupi seluruh wajah dengantelapak tangannya. hal itu, membuat Satria terkekeh.

__ADS_1


"Aku mulai, mengerti dengan arti kata zing," batin Satria.


__ADS_2