Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 117


__ADS_3

"Apa!" pekik Jennifer dan Victoria bersamaan dan seegra menatap ke arah Put.


"Anak siapa yang ada di dalam rahimmu?" tanya Victoria dengan penuh selidik.


Sedangkan Put hanya menatap tajam ke arah Alice yang nampak santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Lain halnya dengan Satria, ia merasa malu. Sebab, telah mengatakan hal yang tidak benar.


"Alice hanya bercanda, Bu. Put tidak hamil, aku yang sengaja mengatakan hal itu kepada Alice agar dia mau membantu Put," terang Satria menjelaskan yang sebenarnya.


Setidaknya, setelah berkata jujur. Hati Satria menjadi lega dan dadanya pun terasam lapangan, berbeda dengan kalau ia tengah berbohong.


Satria seperti diselimuti oleh perasaan takut dan tidak nyaman, bahkan akan terus berbohong demi menutupi kebohongan yang sebelumnya.


"Aku sudah menduganya!" celetuk Alice seraja melipat kedua tangannya di dada dan menatap Satria tajam.


Setelah pertengkaran kecil itu, Satria kembali meminta maaf dan meminta semuanya untuk fokus pada rencana yang telah di buat.


Mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu menginginkan peperangan ini cepat selesai dan bisa kembali hidup dengan damai.


Victoria juga menambahkan sesuatu kepada Satria, bahwa dia akan hidup bersama Lubis setelah peperangan ini.


Victoria amat menyayangi Lubis melebihi Satria, tidak perduli dengan keadaan Lubis yang sekarang. Perasaan Victoria tidak berubah.


"Baiklah, kita akan beraksi malam ini. Tolong tetap pada posisi yang sudah ditentukan, aku tidak mau ada yang menyalahi jalur seperti sebelumnya," jelas Satria mengingatkan.


Alice yang merasa tersinggung segera melakukan konfirmasi, bahwa dirinya bukan keluar jalur. Tapi, hanya ingin membantu Satria. Bahkan, kalau Alice tidak datang waktu itu? Maka, semua rencana mereka akan benar-benar berantakan.


"Iya Alice, aku paham dengan maksudmu yang baik. Tapi, kali ini berbeda. Kita sudah tahu kelemahan musuh dan menyerang mereka sara, ingat! Jumlah mereka melebihi kita," terang Satria dan membuat Alice tersenyum kecut.


Sedangkan Jennifer dan Victoria memilih untuk pamit, kembali ke rumah seraya menyiapkan semua keperluan untuk penyerangan malam ini.


Satria merasa benar-benar terbantu dengan adanya Put dan Alice, walaupun keduanya sering sekali bertengkar. Sama seperti harapan sebelumnya, bahwa ia menginginkan adanya Put dan Alive di sampingnya.

__ADS_1


Kini mereka semua sibuk dengan angenda masing-masing, Satria kembali masuk ke sungai dan menangkap banyak sekali ikan.


Pokoknya, sebelum perperang perut sudah terisi dengan kenyang. Hal itu yang Satria pikirkan, startegi sudah siap. Tinggal beraksi saja.


"Put, apakah menjadi Blogger bisa buang pup?" pertanyaan nyeleneh itu dilontarkan oleh Alice disaat mereka tengah menyantap ikan bakar.


Bahkan Satria tersedak, akibat terkejut dengan pertanyaan Alice tersebut. Lain halnya dengan Put yang malahan tertawa lepas, sebab merasa kalau Alice benar-benar lucu.


"Hey! kamu pikir Blogger itu apa? Kita ini mahkluk hidup yang makan, tentu saja pasti akan—"


"Hentikan, Put!" kata Satria dengan cepat dan membuat Put mengulum senyum.


Hingga tidak terasa matahari mulai tenggelam, Put duduk di dekat api seraya mengusap kedua tangannya untuk menghangatkan tubuh.


Sebab, Put tidak terbiasa dengan suhu di dunia nyata yang menurutnya begitu dingin. Amat berbeda dengan dunia Albiru menurutnya.


Satria yang melihat apa yang dilakukan oleh Put segera menghampirinya dan memeluk tubuh Put dari belakang dengan posisi duduk.


"Dasar! Kamu pengen cari perhatian 'kan?" kata Alice dengan sinisnya. Tapi, tidak digubris oleh Put sama sekali.


"Alice, Put benar-benar kedinginan. Kamu pernah tinggal di dunia Albiru, bukan? Di sana hangat, berbeda dengan dunia nyata," jelas Satria yang memang merasa perubahan suhu tersebut.


Put merasa tidak nyaman dengan sikap Alice pun memilih untuk bangun dan menyiapkan perlengkapannya untuk segera pergi.


Satria melihat Put yang tengah berkemas memilih hal yang sama, sedangkan Alice semakin dongkol dengan sikap Satria yang nampak mengabaikannya dan hanya perhatian kepada Put.


"Aku akan segera berangkat, Alice ... setelah ini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jelas Satria seraya menatap Alice dengan serius.


Alice hanya bisa mengangguk kecil seraya menelan silvernya kasar setelah mendapatkan sorot mata Satria yang seperti ingin menerkamnya.


Mereka bertiga pun berpisah, keadaan hari semakin gelap. Hanya sinar bintang yang mengiasi langit sebagai penerangan senerhana.

__ADS_1


Satria segera menyusup ke area musuh, masih di dekat goa yang sebelumnya. Satria memperhatikan ada dua orang Hunter tengah berjaga dan langsung menyerang Hunter itu dengan terang-terangan.


"Hey!" teriak salah–satu Hunter, dengan cepat Satria bergerak berlari mendekati mereka.


"Evalius!" Satria berhasil menyerang kedua Hunter itu secara bersamaan, setelah mereka berubah menjadi manusia. Keduanya langung lari menghindar, Satria terus maju dan mengabaikan kedua orang tadi. Sebab, ada Put yang akan membereskannya.


Setelah masuk ke goa, Satria melihat sekumpulan manusia yang mengelilingi api unggun yang berada ditengah mereka.


Semua orang itu terkejut dan ketakutan ketika melihat Satria datang, mereka memohon amun seraya bersujud.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" teriak Satria nyaring.


Hingga ada seseorang bertubuh agak tinggi maju dan menjelaskan, bahwa mereka ditahan oleh para Hunter. Ketika akan pergi ke Negara Z.


Air muka Satria berubah menjadi gelap, setelah mendengar penuturan orang itu. Kemudian Satria menanyakan di mana para wanita dan anak-anak.


"Hamba tidak tahu, Tuan. Kami terpisah," jelas orang itu dengan raut wajah sedih memikirkan nasib keluarganya yang entah seperti apa.


"Baiklah, kalian semua sebaiknya keluar dari sini. Ketika bertemu dengan Blogger sepertiku, maka ikutilah dia!" perintah Satria dan semua orang itu pun berhamburan keluar dari goa.


Sekarang Satria mulai paham, kalau semua Manusia masih berada di Negara ini dan disandera oleh para Hunter dan dijadikan kaum Hunter.


Namun, hanya laki-laki saja. Sedangkan para wanitanya tidak, hal ini harus segera ia selidiki secepatnya. Satria segera kembali bergerak dan pergi ke gubuk H.


Hanya lokasi itu yang Satria ketahui untuk saat ini, barang kali bisa bertemu dengan Hunter yang lainnya. Namun, ketika Satria berjalan. Tiba-tiba saja Satria melihat seseorang yang amat ia kenal.


"Dasar! Pasti dia dibalik ini semua!" Satria menatap orang itu dengan begitu geram, ingin sekali dirinya langsung melenyapkan orang tersebut. Namun, tidak bisa Satria lakukan sekarang.


Satria mengendap-endap dan mengikuti orang itu sampai di gubuk H, ternyata tujuan mereka sama. Tentu saja hal tersebut membuat Satria semakin menaruh curiga. Bahwa orang itu ikut andil dengan masalah yang tengah terjadi.


Hingga Satria segera melakukan serangan secara tiba-tiba dan membuat orang itu tidak berdaya berada di bawah kukungannya.

__ADS_1


"Kamu tidak akan pernah aku lepaskan!" kata Satria dengan seringai yang memberikan.


__ADS_2