Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 88


__ADS_3

"Bau ini," batin Satria curiga.


Satria menatap ke arah Victoria yang nampak santai, ia yakin bahwa cairan berbau ini merupakan ramuan perubahan bentuk yang sama dengan waktu itu.


Cukup lama Satria menimbang-nimbang, apakah akan meminumnya atau tidak. Sampai suara sang ibu membuatnya mendesah berat.


"Ayo Satria, kita bersulang. Merayakan kembalinya dirimu dan kejayaan keluarga Cooper," kata Victoria seraya mengangkat gelasnya untuk bersulang dengan Satria.


Ditengah dilema yang dialaminya, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka pelan dan menampakkan Alice yang berjalan dengan santai.


Satria membuang nafas lega, setidaknya kedatangan Alice telah menyelamatkannya dari jeratan sang ibu. Bahkan tanpa merasa malu sama sekali, Alice duduk di atas pangkuannya dan terus saja menggoda.


Ingin sekali Victoria marah dan mengusir Alice, tapi ia sadar diri siapa wanita itu dan memilih hanya diam dengan mengertakan giginya.


"Aku sudah lama menunggumu, ayo kita ke kamar," ajak Alice dengan mengusap rahang Satria yang tegas.


Ketampanan yang dimiliki Satria tidak ada tandingannya, membuat Alice tidak kuasa menolak pesona lelaki yang telah memberinya kenikmatan dunia.


Tanpa banyak berbicara, Satria bangun dari duduknya dan meninggalkan tempat itu dengan menggendong Alice.


Tentu saja, apa yang Satria lakukan membuat ibunya bertambah geram saja dan mulai mengatur sebuah siasat.


"Aku tidak akan membiarkan Alice menguasaimu, Sat," batin Victoria menatap punggung Satria yang telah menjauh.


Sedangkan Satria terus berjalan ke luar dan menyusuri lorong menuju ke kamar Alice, tempat yang dulunya terlarang.


Namun, sekarang akan mereka jadikan tempat yang mengukir sejarah dalam menikmati malam panjang dan penuh warna.


Perlahan Satria membuka pintu kamar, Alice yang berada digendongnya terus membisikan sesuatu yang membuat gairahnya bangun.


Tangan Alice yang dikalungkannya ke leher Satria membuat sensasi yang lain untuk lelaki itu, mau bagaimanapun Satria adalah lelaki normal.


"Aku mencintaimu Dewa S," bisik Alice ketika Satria meletakan tubuhnya dengan perlahan di atas ranjang.


Dengan nakalnya Alice menarik tubuh Satria agar jatuh di atasnya, ia amat merindukan sentuhan lelaki itu.

__ADS_1


Namun, ada sesuatu yang berbeda. Satria hanya diam, tidak melakukan hal yang semestinya membuat Alice bertanya-tanya di dalam hati.


"Satria, Satria!" Berkali-kali Alice memanggil nama Satria, tapi tidak ada respon sama sekali membuat Alice mendorong pelan tubuh Satria dan membuat lelaki itu terbaring di sampingnya.


Mata Alice membulat sempurna tak kala melihat Satria yang memejamkan matanya, sungguh aneh menurutnya sikap lelaki itu malam ini.


Hingga, ia mengira-ngira apa yang telah terjadi kepada Satria sebelumnya bersama dengan Victoria. Alice menaruh curiga akan wanita itu, walaupun dia adalah ibunya Satria sekalipun.


Sebagai keturunan keluarga Cooper, Alice memiliki kemampuan khusu. Di mana sudah di tempa untuk peka akan keadaan sekitar, ditambah banyak sekali penghianat yang berada di tengah-tengahnya.


Setelah kepergian sang paman, Alice merasakan anggota keluarganya yang mengalami perpecahan secara perlahan.


Entah siapa dalang dibalik ini semua, Alice belum sempat menyelidikinya. Sebab terlalu sibuk mengamankan seluruh kota dari serangan para makhluk metalogi dan Hunter yang harus dikembalikan ke alamnya.


"Mungkinkah?" batin Alice.


***


Keesokan paginya, Satria terbangun dengan keadaan seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam dan mengedarkan penglihatannya mencari keebradaan Alice.


"Kenapa denganku semalam?" guamam Satria yang merasa aneh.


Tidak biasanya ia mengagalami hal tersebut, tapi ada hal yang harus dikerjakan olehnya selain memikirkan hal itu.


Satria turun dari ranjang dan mencari keberadaan Alice yang telah menghilang dari kamar, di saat Satria baru saja keluar. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Jennifer.


Pertemuan mereka setelah berpisah di hari pernikahan membuat Satria merasa sedikit canggung, ibunya Alice itu sama.


"Dewa S, selamat pagi. Aku mendengar berita kedatanganmu dari V," jelas Jennifer kemudian setelah menetralkan perasaannya.


Satria hanya menagguk kecil dan memilih menghindari wanita itu dengan alasan mencari Alice, tapi siapa sangka kalau Jennifer menjelaskan bahwa Alice telah pergi dari semalam.


Mengetahui hal itu membuat Satria meraskaan keanehan, tidak biasanya Alice meninggalkannya begitu saja kalau tidak ada hal yang mendesak.


"Apa kamu ingin sarapan terlebih dahulu?" tanya Jennifer yang masih bertahan di hadapan Satria.

__ADS_1


"Boleh, Bu. Tapi, apakah Ibu melihat Lubis?" terang Satria yang mencari keberadaan putranya itu.


Jennifer tersenyum dan memberitahukan keberadaan Lubis yang telah pergi bersama dengan Victoria ke kota.


Keadaan sekarang amat berbeda dengan sebelumnya, semua kekuatan yang mereka miliki harus di pergunakan untuk menghalau para monster dan Hunter yang semakin meresahkan Manusia.


Satria agak tersentak akan penjelasan dari Jennifer dan ingin segera menyusul Victoria, tapi dirinya harus bersiap-siap terlebih dahulu.


Jeniffer membawa Satria ke ruangan makan dan melayaninya dengan baik, bahkan membantu Satria untuk mandi dan mengenakkan pakaian perang.


Perhatian yang diberikan oleh Jennifer membuat perasaan Satria tidak nyaman, ia tahu betul. Kalau Jennifer dan yang lainnya menaruh harapan besar kepadanya.


Satria hanya bisa terus berputar-putar seperti ini, agar tidak membuat semua orang kecewa. Setidaknya ia masih bisa turun untuk berperang dengan kemampuannya.


"Bu, aku pergi dulu. Terimakasih atas bantuannya," ucap Satria seraya menaiki seekor kuda berwarna kecoklatan.


Alih-alih pergi menggunakan mobil, Satria memilih menunggangi kuda dengan alasan. Binatang itu memiliki indra kepekaan yang tinggi dan bisa membantunya dalam berperang.


Jennifer hanya menggaukkan kecil dan melepaskan kpergian Satria yang telah gagah dengan pakaian kesatria lengkap dengan pedang dan beberapa anak panak yang berada di belakang tubuh tegap itu.


Baju perlindungan yang terbuat dari perak dengan aksesoris lainnya amat mendukung penampilan Satria saat ini yang tak ubahnya seperti prajurit perang zaman dinasti.


"Semoga kamu bisa menyelamatkan kota X dari kehancuran," batin Jennifer.


Satria memacu kudanya lebih cepat, ia menyelusuri jalan raya yang sepi karena masih berada di tengah hutan.


Rumah keluarga Cooper amat jauh dari perkotaan, entah apa penyebabnya. Namun, keluarga Cooper merupakan pemilik dari sebagian hutan yang berada di bawah pemerintah.


Di dalam benak Satria sempat melintas di manakah para pengaman kota, di saat serangan Monster dan Hunter terjadi.


Semuanya menarik sebuah garis lurus dari masalah yang tengah terjadi, sekan ada sesorang yang sengaja melakukan penutupan akses tersebut dan membuat para penghuni kota menjadi korban.


"Aku harus segera menyelesaikan masalah ini," batin Satria bertekat dan merencanakan sesuatu, ia yakin bisa membongkar semuanya tanpa menggunakan kekuatan Dewa.


Tiba-tiba saja Kuda yang Satria tunggangi menjerit dan membuat tubuhnya terjatuh ke tanah dan membuat Satria menjerit kesakitan, karena terpental.

__ADS_1


"Aw! Apa yang terjadi?" pekiknya.


__ADS_2