
Matahari mulai menampakan cahaya terang, menyinari bumi yang mulai menampakan aktivitas penghuninya.
Begitupun dengan Satria yang mulai bergeliat dia atas ranjang, sinar matahari yang masuk melewati celah jendela membuat matanya terusik.
"Oam ... ."
Satria beberapa kali menguap, seraya menyandarkan tubuhnya di tepi nipan ranjang. Mengucek matanya yang baru saja terbuka, di saat ingatan Satria belum kembali dengan sempurna.
Tiba-tiba saja terdengar suara erangan di sebelahnya, sontak saja membuat Satria langsung mengingat semuanya.
Tentang malam tadi, di mana dia dengan beraninya menggoda seekor siluman ular. Hingga peperangan di atas ranjang pun tidak bisa terelakkan.
"Lilly," gumam Satria pelan.
Satria menatap wajah gadis yang tertidur lelap di sampingnya dengan tubuh yang diselimuti oleh lendir, mengingat kejadian malam tadi membuatnya bergidik ngeri.
Bagaimana ia melakukan itu semua terlebih kepada Lilly yang berubah menjadi seekor ular putih yang panjang.
"Aku yakin memiliki nyawa cadangan." Satria tergelak sendiri mengingat cara mereka melakukan hal itu, sampai suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Lilly, apakah kamu sudah bangun?" Terdengar suara Key yang memanggil nama Lilly, tapi sayang gadis itu terlalu lelah untuk bangun cepat.
Satria turun perlahan dari ranjang yang berukuran begitu kecil, namun telah menjadi landasan mereka tadi malam.
Dia mendekati pintu dan perlahan menarik kanopi, wajah Key telah menyambutnya dengan tenang. Bahkan nampan yang berad di tangan pemuda itu hampir saja terjatuh, seandainya Satria tidak dengan cekatan menyambutnya.
"Kamu membawakan kami sebuah sarapan?" tanya Satria ketika melihat sebuah daging bakar dan segelas teh hangat yang masih mengempukkan asap.
Key masih dalam keadaan syok, karena melihat Satria masih baik-baik saja setelah mereka berpisah malam tadi.
Di saat Key mematung di tempatnya, Satria sudah kembali menutup pintu dan membuat wajah Key terbentur.
"Aw!" pekiknya seraya memegangi hidungnya yang terasa sakit.
"Sorry!" balas Satria terkekeh dan segera mempercepat langkahnya menuju ke atas ranjang kembali.
Menyantap daging bakar dan teh hanggat di pagi yang cerah sungguh nikmat rasanya, seperti berada di hotel berbintang dengan pelayanan yang memuaskan.
Begitulah yang Satria rasakan, ketika dirinya tengah menyantap sarapan pagi Lilly kembali mengeliat dan perlahan mata gadis itu terbuka.
__ADS_1
"Selamat pagi putri Lilly," sapa Satria dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Lilly menatap Satria yang tersenyum juga membalas dengan senyuman, tapi sedetik kemudian ia memekik keras.
"Aaaa ... ."
Satria terlonjak kaget terlebih Lilly yang mundur menjauh, seakan dirinya telah di nodai lelaki asing. Satria merasa geli hati, padahal kalau Lilly menjadi siluman ular gadis itu begitu liarnya.
Namun, setelah kembali menjadi manusia. Lilly menjadi gadis polos dan manis, sunggu sesuatu yang begitu naif bagi Satria.
"Kamu mau sarapan?" tawar Satria dengan ramah seakan tidak terjadi apapun, begitu santai dan tidak pernah melepaskan senyuman.
Menyemunyikan jati dirinya membuat Satria merasa nyaman, untuk apa menjadi Dewa yang begitu dikagumi dan dipuja. Namun, berakhir nestapa?
Lebih baik menjadi manusia biasa yang dipenuhi akan rasa cinta dan perhatian, tanpa ada rasa sakit disudutkana ataupun dikhianati.
Sejak kejadian malam tadi membuat Satria lebih berfikir realita daripada sekedar mengkhayal yang bukan-bukan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lilly dengan wajah yang memerah menahan malu.
Ketika Lilly menyadari bahwa dirinya satu ranjang dengan lelaki yang ia tolong di tambah tanpa mengenakan busana, tentu saja pikirannya telah berkelana.
"Oh ... aku sedang sarapan pagi ini?" balas Satria polos.
Lilly mendudukkan kepalanya, ia benar-benar merasa malu sampai suara pintu di ketuk dan terdengar teriakan Key.
"Satria!"
"Buka pintunya!"
Lilly menatap ke arah pintu yang tertutup rapat ia menyadari bahwa berada di kamar Satria, perasaannya semakin tidak menentu.
Satria masih dengan begitu tenang dan santai, setelah menghabiskan sarapannya ia membawa langkahnya menuju ke pintu.
Baru saja memutar kenopi pintu Key sudah menyerobot masuk, bahkan segaja mendorong daun pintu agar Satria terbentur.
Namun dengan gesitnya Satria menghindar dan memundurkan tubuhnya. Melihat kecemasan di wajah Key membuat Satria hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Lilly, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Key ketika sudah berada di hadapan Lilly.
__ADS_1
Pemuda itu segera membuka lemari yang terdapat di dalam kamar itu dan mengambil sebuah kain panjang, lalu menyelimuti tubuh polos Lilly dengan kain tersebut.
Satria melihat betapa perhatiannya Key kepada Lilly menimbulkan perasan tidak nyaman di dalam hatinya, sebab ia sangat tahu ketulusan Key.
Dengan penuh perhatian dan hati-hati Key menggendong Lilly, membawa sang adik untuk keluar kamar itu.
Namun, baru saja Key berada di ambang pintu Satria menenggurnya dan memberi nasehat yang membuat Key tertegun seketika.
"Rendam tubuh Lilly dengan air hangat, itu membantu regenerasi tubuhnya." Satria tersenyum dan mendorong pelan tubuh Key agar segera keluar dari kamar.
Bahkan Satria menyempatkan sebuah kalimat yang menambah perasaan Key di aduk-aduk, "Bukan aku yang melakukannya, tapi ... Lilly."
Ingin sekali Key menanyakan kalimat itu, tapi ia harus memandikan Lilly sebelum terkontaminasi oleh bakteri yang bisa saja tertular dari Satria.
Setelah Key pergi, barulah Satria menutup pintu dan memilih menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia ingin tidur lagi dan bermalas-malasan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Satria melakukan malam yang panjang dengan seekor siluman ular.
Mengingat keliaran Lilly malam tadi membuat Satria tersenyum, membayangkan tubuh yang licin dengan lendir dan sisik itu.
Siapa yang berani? Hanya Satria yang mencobanya untuk saat ini, karena sudah di pastikan bawha lelaki seperkasa apapun akan memilih mundur daripada terluka.
"Astaga!" pekik Satria yang baru tersadar akan seuatu, ia mengusap kasar wajahnya.
Kemapuan Heypersexnya bisa menjadi bencana besar kalau Lilly sam[ai hamil dan melahirkan anaknya, Satria melupakan hal itu.
Sungguh perbuatan yang b*d*h yang Satria lakukan, ia menikmati setiap sentuhan Lilly dan melupakan bahwa gadis itu bisa menyimpan benihnya.
"Ah ... biarkan saja!"
Kepala Satria terasa berdenyut nyeri, ia lebih memilih untuk kem,bali tidur dan melihat keadaan Lilly nanti. Sekalipun Lilly benar-benar hamil dan melahirkan anaknya, setidaknya ada Key yang akan menjaga serta merawat Lilly.
Satria mengalami dilema sendiri, antara tetap berada di sini ataukah pergi mencari Haruna dan mendapatkan kembali kekuatan Dewanya.
Di saat Satria yang berbaring di atas ranjang seraya memejamkan matanya untuk beberapa waktu, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan Key yang memanggil namanya.
Pemuda itu berlari dan mengejutkan Satria, wajah Key nampak pucat dengan keringat yang menguncur deras.
"Satria!"
__ADS_1
---