Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 116


__ADS_3

"Evalius!" teriak Satria. Kini keadaannya mulai kelelahan, entah berapa Hunter yang berhasil dirinya kalahkan.


Namun, Satria hanya seorang diri. Prajurit yang bersama dengannya tidak ikut membantu, sebab tidak bisa melakukan apapun.


"Tuan, bantuan akan segera datang," jelas Bob.


Satria mengerutkan keningnya, Bob memang memberitahukan bahwa telah mengirim pesan. Tapi, tidak dengan meminta bantuan.


"Siapa yang akan datang?" tanya Satria penasaran. Ini sudah pertaruangan yang kesekian kalinya, Satria merasa para Hunter telah berkurang. Sebab, beberapa kali berjalan sudah tidak ada yang datang lagi.


"Alice," jelas Bob.


Satria hanya diam setelah mendengar nama itu, kemudian mengajak Bob untuk beristirahat didekat kolam air mancur yang masih menyemburkan airnya yang begitu jernih.


Satria meminum air tersebut dengan beberapa kali teguk menggunakan tangannya, rasa dahaganya kini mulai menghilang.


Satria menatap keadaan sekitar yang benar-benar sudah sepi, padahal mereka berada ditengah-tengah kota yang dulunya amat ramai dengan orang-orang yang berlalu-lalang.


Namun, setelah terjadi kekacauan. Semua orang pergi dan kota ini menjadi kota mati yang hanya dihuni oleh para Hunter.


"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Bob hati-hati.


Satria hanya mengagguk kecil, seraya mendekati sebuah pohon apel dan memungutinya. Ukuran buah apel yangb begitu kecil membuat Satria membuang nafas kasar, mana kenyang dirinya memakan buah berukuran seperti butiran gula baginya.


Namun, Satria tidak memiliki pilihan lain dan melahapnya saja berserta daun-daunnya sekalian. Sekarang Satria paham, kenapa sekelompok Blogger yang pernah ia tolong kemarin ingin segera pulang.


Sebab, di dunia ini mereka sangat sulit mendapatkan makanan. Berbeda dengan di dunia Albiru yang banyak sekali pohon dan buah-buahan yang besar, membuat Satria berfikir akan pindah ke dunia Albru. Setelah menyelesaikan tugasnya di sini.


"Tuan! Tuan!" pekik Bob dan menujuk ke arah timur di mana ada dua orang Blogger yang mendekat.


Satria melihat apa yang Bob lihat hanya bisa mengaga dengan mulut yang terbuka lebar, bahkan matanya ikut membulat sempurna.


Satria tidak mampu berkata apa-apa, setelah cukup lama dalam posisi tersebut. Satria baru tersadar setelah suara yang begitu familiar terdengar.

__ADS_1


"Dewa S, apa kabar?" tanya Alice dengan senyum yang terus mengembang.


"Alice?" pekik Satria tidak percaya dan mendapatkan anggukan kecil.


Put merasa cemburu dengan kedekatan Alice dan Satria, "Di mana para Hunter? Kita harus segera menyelesaikan tugas ini," jelas Put membuyarkan lamunan Satria.


Kini perhatian Satria tertuju ke arah Put, berbeda dengan Alice. Satria tidak terlalu terkejut dengan penampilan Put yang sudah pernah ia lihat.


Kemudian Satria menjelaskan bahwa Hunter yang mereka serang rupanya adalah seroang manusia yang berkamuflase menjadi Hunter.


Bahkan Satria menambah, kalau serangan fisik tidak akan memberikan efek apapun. Oleh sebab itu, Satria hanya menggunakan mantra.


"Baiklah, sepertinya hanya kamu yang bisa melawan mereka?" tanya Put setelah mendengar penjelasan Satria, sebab dirinya tidak terlalu pandai dalam menggunakan mantra.


Sedangkan Alice hanya diam seraya tengah berfikir, penyebab keluarga Cooper mengalami kegagalan yaitu menggunakan serangan fisik.


"Jadi, mereka seperti kebal dengan serangan fisik? Tapi, lemah dengan mantra?" tanya Alice ingin memasikan asumsinya.


Satria menggaguk kecil dan mereka pun mengumpulkan semua informasi yang diketahui, kemudian menyusun rencana.


Put dan Alice setuju dengan saran yang Satria berikan, mereka pun memilih untuk menyerang malam ini dan mengumpulkan tenanga terlebih dahulu.


Di sela perjalanan Satria menyempatkan diri bertanya kepada Alice tentang keadaan H yang berada di rumah, Alice hanya diam.


Sedangkan Put yang mendengar hal itu begitu terkejutnya, "Apakah kamu sedang tidak waras? Kenapa menerima Hunter H di rumah? Aku sempat berpikir bahwa dia sudah tewas," terang Put.


"Aku hanya tidak mau melakukan kesalahan yang sama Put, jika pun harus menyingkirkan H? Aku ingin kau ataupun Alice saja yang melakukannya," terang Satria dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang hal tersebut.


Hingga tidak terasa mereka sudah berada di tepi danau, Satria mengajak Put dan Alice untuk bermalam di sana.


Sebab, rumah Cooper terlalu sempit bagi mereka. Apalagi sudah ada H dan Lubis di sana, ditambah di danau banyak sekali ikan yang berukuran besar. Bisa untuk mereka santap.


Put menerima ajakan Satria, sebab ia memang tidak ingin kembali ke rumah keluarga Cooper. Namun, lain halnya dengan Alice.

__ADS_1


Alice ingin pulang dan kembali berdiskusi dengan sang ibu, tapi tidak mau membiarkan Satria dan Put hanya berduan saja.


Pada akhirnya Alice meminta Bob untuk pergi menemui Jennifer dan meminta sang ibu untuk menemuinya di sini.


"Put, aku rasa akan kembali ke dunia Albiru setelah peperangan ini," jelas Satria memberitahukan niatnya kepada Put.


Tentu saja Put merasa sangat senang akan hal itu, bahkan bayangan akan menikmati ranjang yang sama dan kehagatan itu sudah berada di pelupuk matanya.


"Kenapa, Sat? Kamu seroang Dewa, lebih baik tinggal di dunia ini dan menjaganya dari bencana yang mungkin saja datang," jelas Alice yang tidak suka dengan rencana Satria tersebut.


Satria membuang nafas panjang dan menjelaskan semuanya, ia tidak bisa menutupi jati dirinya lagi. Bahwa bukan seroang Dewa, melainkan hanya seorang Blogger dan ingin menjalani hidup segaimana mestinya saja.


Put dan Alice nampak terkejut dengan apa yang


Satria jelaskan, tapi tidak berani untuk berkomentar apapun. Hingga terdengar suara Jennifer dan Victoria yang datang.


"Sat! Kamu membuat Ibu khawatir dan kesal!" cerocos Victoria seraya medekati Satria, tapi tidak digubris sama sekali oleh Satria.


Malahan, Satria mengajak Jennifer berbicara tentang keadaan H dan Lubis yang berada di rumah seperti apa yang dijelaksan oleh Put da Alice.


"Lubis baik-baik saja, malahan keadaannya luar biasa dan tengah menjaga rumah. Namun, untuk H? Ibu tidak mengerti, dia seperti—" Jennifer amat sulit menjelaskan keadaan H saat ini.


Setelah sadarkan diri, H seperti orang linglung dan hanya diam saja. Jennifer merasa telah terjadi sesuatu kepada H, tapi berasumsi masih belum memiliki dasar apapun.


"Kenapa dengan H, Bu?" tanya Satria penasaran.


"Sudah Ibu racun!" cetus Victoria tanpa merasa bersalah sama sekali dan berhasil memancing amarah Satria.


"Ibu! Jangan sampai aku—"


"Apa?" balas Victoria dengan cepat. Sedangkan Put dan Alice memilih untuk menepi sebentar, melihat raut wajah Satria yang tidak bersahabat itu amat mengerikan.


"Tenang Sat, H baik-baik saja. Walaupun keadaanya tidak seperti sebelumnya," jelas Jennifer mencoba menenangkan Satria.

__ADS_1


Satria amat percaya dengan Jennifer daripada ibunya sendiri dan menahan amarahnya, hingga Alice menyeletukkan sesuatu yang membuatnya bungkam.


"Tenang Sat, Put sedang hamil. Jadi ... kamu jangan suka marah-marah."


__ADS_2