Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 43


__ADS_3

"Hentikan semua ini, Bu! Sebelum, ada pertumpahan darah," jelas Satria dengan nada dingin.


"Biarkan! Ibu akan tetap menyerang Dewa Ketua! Ada atau tanpa dirimu, sekalipun!" balas Victoria dengan kilatan kemarahan.


"Semuanya sudah terlambat!"


Victoria berkata dengan lelehan air mata dan mengerahkan anak-anak yang Satria titipkan, untuk menyerang dunia Dewa.


Namun, siapa sangka. Kalau rencananya berubah, mereka kedatangan kaum Hunter yang dipimpin oleh H. Putra Satria bersama dengan Dewi Haruna.


Brak


Bruk


Suara langkah kaki para Hunter yang terdengar dengan nyaring, semuanya menjadi tegang. Begitu pun dengan Victoria. Dia tidak menyangka, kalau akan di serang terlebih dahulu.


Victoria mengerahkan anak-anak yang telah di didiknya dalam beberapa hari ini, untuk bersiap-siap. Karena, mereka akan berperang melawan para Hunter.


"Degarkan Ibu! Kalian semua harus siap! Kita akan bertarung hari ini!" perintah Victoria.


Satria benar-benar tidak menyangka, jika ibunya ingin berperang. Ditambah, Satria melihat dari kejauhan. Siapa lawan yang akan dihadapi.


"H," gumam Satria.


Dia menjadi bingung, kemana akan berpihak. Di satu sisi, ada H. Putranya dan disisi lain, ada ibu dan anak-anak yang tidak berdosa.


Ditengah kebingungan dan kesulitan Satria memilih, ingin berpihak kepada yang mana. Para Hunter telah menyerang, terjadi peperangan yang tidak bisa dihindari lagi.


"Serang!" teriak H dengan suara yang menggelegar.


Tubuh kaum H yang sangat besar, tidak sebanding dengan pasukan Victoria yang masih remaja dan bertubuh seperti manusia biasa.


Namun, siapa sangka. Jika, pasukan Victoria bisa mengimbangi pertarungan. Ditambah, jumlah parah Hunter yang tidak banyak.


Sat


Set


Suara pedang yang saling bergesek, hingga tidak berapa lama. Satu persatu, korban mulai berjatuhan. Penus ikut andil bersama dengan Bob, membantu pasukan Victoria.


Sedangkan Satria sendiri, masih diam dan memperhatikan keadaan yang telah terjadi didepan matanya.

__ADS_1


Bruk


Hingga tubuh Bob tumbang, hal itu disaksikan oleh Sis. Membuat keadaan semakin mencekam dan tidak terkendali lagi.


"Bob!" Dengan nafas yang memburu, Sis segera mengejar Bob yang telah jatuh ke atas tanah. Tangisnya pecah seketika, disisa kesadaran yang dimiliki oleh Bob. Dia menyentuh pipi Sis dengan penuh kasih sayang, mungkin ajal keduanya telah tiba.


"Sis, m–ma–af–f ... ."


Suara Bob terbata-bata, kesadaran pun semakin menurun. Hingga, semuanya nampak gelap. Ketika mata Bob hendak tertutup, dia melihat dengan jelas kemarahan dari Sis.


Tubuh Sis mengeluarkan energi dan cahaya yang sangat kuat, serta terang. Sesuai dengan perjanjian Sis dengan Satria, kalau dia menggunakan kekuatannya. Untuk melindungi orang-orang yang disayangi.


"Aaaaa ... ." Suara teriakan Sis mengema dengan sangat nyaring, kemarahan yang telah berada di atas puncak tidak bisa di bendung lagi.


Kehilangan orang yang sangat dicintai memang tidak mudah, ditambah hal itu di lihat di depan mata. Tentu saja, Sis telah di kuasai oleh energi negatif yang ada didalam tubuhnya yang tidak bisa melihat kematian lelaki yang amat berharga di dalam hidupnya.


Sis langsung menyerang H yang telah menghunuskan pedangnya kepada Bob, dengan energi penuh. Sis mengarahkan energinya.


Buar


Terdengar suara dentuman yang sangat nyaring dan kuat, sampai tanah bergetar. Membuat tubuh semua orang bergetar dan kehilangan keseimbangan.


Mata Sis membulat dengan sempurna, serangannya bisa dihentikan dengan begitu mudahnya. Bahkan, energinya lepas kendali dan menghantam sisi lain. Nasib baik, tidak terkena anak-anak Satria ataupun kaum Hunter.


Namun, amarah yang masih menguasainya. Tidak mudah untuk dihentikan, seperti serangan yang dia lakukan.


Sat


Dengan cepat, Sis mengarahkan tangan yang satunya untuk menyerang Dewa Ketua yang telah berada dihadapannya.


Serangan demi serangan yang dilakukan oleh Sis, seolah sia-sia. Semuanya bisa dihentikan oleh Dewa Ketua dengan mudah.


"Hadapi aku Dewa K!"


Tiba-tiba saja, Victoria datang dan langsung menyerang Dewa Ketua. Tetapi, dengan tidak semudah yang dibayangkan. Untuk bisa membuat seorang Dewa kalah dengan mudah.


Bahkan, dengan sekali hentakan saja. Victoria terbanting cukup jauh, sedangkan Sis yang menjadi takut dengan keadaan yang tengah terjadi.


"Aku tidak memiliki rasa simpati kepada mahluk lemah seperti manusia!"


Kata-kata yang diucapkan oleh Dewa Ketua amatlah merendahkan, tatapan dingin seorang malaikat maut. Membuat energi di sekitar seolah berada di dimensi lain.

__ADS_1


Dengan perlahan Sis mundur dengan teratur, emosi yang tadinya menggebu seperti asmofir di luar angkasa. Kini semakin menipis dan nyaring terhapuskan.


"Serang!" teriak Victoria dengan nyaring. Dirinya memang terluka, tetapi wanita itu belum mau menyerahkan. Dia memberikan perintah, kepada pasukannya untuk kembali menyerang.


Anak-anak Satria seperti bidak catur, mereka kembali menyerang dan memaksa kaum Hunter untuk mundur. Satria masih memperhatikan apa yang terjadi, dia belum bisa memutuskan. Ingin membela yang mana.


Terjadi kembali perang yang amat sengit, antara kaum Hunter dan anak-anak Satria. Keadaan mulai terlihat lebih berat kepada pasukan Victoria, karena tubuh mereka yang kecil tidak sebanding dengan Hunter. Terlebih, tenaga mereka semakin melemah.


"Tidak!"


Satu demi satu, anak-anak Satria tumbang di Medan perang. Victoria yang melihat hal itu, semakin geram dan ingin maju.


Namun, ketika Victoria ingin kembali mendekati Dewa Ketua. Dirinya harus menangkap tubuh Sis yang telah terbantai, karena terkena serangan Dewa Ketua.


"Sis!" Suara pilu Victoria, membuat Satria merasakan rasa sakit yang sangat berat di dalam dirinya.


Bagaimana dia bisa bertahan, ketika melihat satu demi persatu. Orang-orang terdekatnya harus menjadi korban, dari sebuah peperangan yang seharusnya tidak terjadi.


"Satria! Apakah, kamu hanya akan diam?"


Mata Satria tertuju kearah sang ayah yang tenang bertarung dengan sekuat tenaga, dia juga bisa melihat keadaan lelaki itu yang penuh akan luka dan darah yang memenuhi tubuhnya.


Tangan Satria mengepal dengan erat, melihat pemandangan seperti yang terjadi. Hingga satu nama yang pantas untuk disalahkan, yaitu Dewa Ketua. Karena dia telah menghasut para Hunter untuk menyerang, membuat Dewa Ketua lah yang harus bertanggung jawab atas peperangan ini.


Hingga Satria terbang dengan perlahan, menuju kearah Dewa Ketua yang seolah memang telah menunggu kedatangannya.


Sorot mata Dewa Ketua dipenuhi oleh kebencian yang sangat mendalam, Satria bisa melihat hal itu dengan mudah.


"Apakah, kamu ingin mengantar kan nyawamu kepadaku?"


Satria tersenyum sinis mendengar kesombongan yang diucapkan oleh Dewa Ketua dari kata-kata tersebut. Sebelumnya, Satria sudah pernah mengalahkan Dewa Ketua dan kali ini pun sama.


Dengan penuh kepercayaan diri, Satria menyerang Dewa Ketua dengan kekuatan penuh. Namun sayang, tindakan dihentikan dengan begitu mudahnya.


"Tidak mungkin!" batin Satria tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Dia menatap kerah Dewa Ketua yang tidak bergeming sama sekali, seolah dirinya telah dikuasai oleh energi lain.


"Kamu akan menyesal semuanya!" ucapnya dengan nada yang dingin dan membuat sekujur tubuh Satria meremang.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


__ADS_2