Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 44


__ADS_3

"Tidak mungkin!" batin Satria tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Dia menatap kerah Dewa Ketua yang tidak bergeming sama sekali, seolah dirinya telah dikuasai oleh energi lain.


"Kamu akan menyesal semuanya!" ucapnya dengan nada yang dingin dan membuat sekujur tubuh Satria meremang.


"Apa yang terjadi?"


Disaat Satria masih berpikir, tiba-tiba saja. Dewa Ketua menyerangnya, tentu saja serangan tersebut mengenai tubuh Satria dengan telak.


"Aaa ... ."


Tubuh Satria terbanting dengan cukup keras, dengan tatapan mata penuh merendahkan. Dewa Ketua mendekati Satria yang telah terkapar dengan perlahan.


"Menjadi Dewa bukan hanya memiliki kekuatan dan kemampuan yang luar biasa! Ada harga yang harus di bayar, demi mendapatkan itu semua. Tidak ada yang mudah di dunia ini! Terlebih, menjadi Dewa."


Apa yang dikatakan oleh Dewa Ketua, bagaikan sindiran yang sangat tajam yang ditujukan untuk Satria.


Tentu saja, bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang Dewa. Jangankan memiliki kekuatan dan kemampuan, menjadi manusia biasa saja. Memiliki kekurangan tersendiri.


Ada hal yang Satria belum mengerti dengan menjadi Dewa, sampai dia tidak menyadari. Jika, dirinya telah terjun ke dunia yang salah.


"H!" Suara Dewa Ketua yang berteriak memanggil nama H, membuat Hunter tersebut segera menghampirinya.


Satria bisa melihat sang putra, yang sebelumnya mengalami keadaan yang memperlihatkan. Karena sempat bertarung dan terluka, kini telah dalam keadaan yang kembali baik-baik saja.


Sorot mata H, sangat tajam. Seperti siap membunuh, siapa saja yang ada di hadapannya. Membuat Satria meringis, sebab bisa merasakan apa yang tengah putranya itu rasakan saat ini.


"Habisi dia!" perintah Dewa Ketua.


Tanpa menunggu lama, H langsung menyerang Satia dengan membabi–buta. Tidak mengenal rasa simpati dan takut, sedangkan Satria hanya bisa menghindari. Setiap serangan H.


Hatinya terasa sakit, dia tidak bisa membalas serangan H. Karena H merupakan darah daging, bahkan dia membuatnya dengan perasaan cinta bersama Dewi Haruna.


Dia tidak kuasa, jika menyakiti H dan hal itu menjadi kesempatan untuk H terus menyerang. Karena berada di bawah perintah Dewa Ketua.


"Hahaha ... apakah? Seorang Dewa tidak bisa membunuh? Ataukah, tidak memiliki kekuatan lagi?" Nada penuh ejekan yang dilontarkan oleh Dewa Ketua, membuat Penus geram. Dia tidak mengetahui alasan Satria tidak menyerang H, dengan kekuatan penuh. Penus yang maju dan ingin melumpuhkan H.


Trang


Suara pedang Penus yang dihunuskannya ke arah H, Satria yang melihat sang ayah menyerang H. Berusaha untuk menghentikan, tetapi sia-sia. Penus telah bertarung dengan H.

__ADS_1


Kakek dan cucu, siapa kah yang akan memenangkan pertandingan? Kehebatan Penus tidak bisa diragukan dalam memainkan pedang, tetapi tubuh H besar dengan tenaga yang kuat. Ditambah, usianya masih produktif.


"Satria! Bantu Ibu!"


Victoria menghampiri Satria yang masih terduduk di atas tanah, wanita itu memegangi tangan putranya yang lemah dan tidak berdaya.


Bukan karena kehabisan energi, namun dia tidak bisa menyakiti darah dagingnya dan tidak mampu menegakkan kebenaran.


"Beri Ibu kekuatan Heypersex! Agar kita memiliki banyak pasukan!"


Ide gila yang diucapkan oleh Victoria, mendapatkan penolakan dari Satria. Dia tidak membayangkan, jika ibunya kembali melahirkan telur-telur yang nantinya akan menetas menjadi bayi manusia. Lalu, di gunakan untuk berperang.


Memperalat orang lain, demi mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Merupakan perbuatan yang legal bagi Satria.


Dia tidak bisa membiarkan hal itu sampai terjadi, tetapi kenyataannya. Satria gagal, mencegah dan melahirkan sebuah peperangan yang kini masih berlangsung.


"Aaa ... ."


"Mati kau!"


Satria dan Victoria, sama-sama terkejut dengan suara teriakan. Membuat mereka berdua menatap ke arah Penus dan H yang sedari tadi masih bertarung.


Ternyata, Penus menyudutkan H. Sampai Hunter tersebut terjatuh dan tumbang, dia bahkan menghunuskan pedangnya ke dada H.


Satria tidak bisa menghentikan apa yang baru saja terjadi, sekalipun memiliki kekuatan seperti Dewa. Tetapi, dirinya tidak bisa mengembalikan sang waktu.


Semuanya telah terlambat, H terbunuh oleh Penus. Tangan lelaki itu di penuhi oleh darah H dan menyisakan, tangis pilu untuk Satria.


"Dasar tidak berguna!"


Dewa Ketua yang melihat H terbunuh dengan begitu mudahnya, membuatnya geram. Terlebih, yang melakukan hal itu hanyalah manusia biasa.


Dirinya yang berharap, H bisa membunuh Satria. Malahan harus menelan pil kekecewaan, karena H yang sebaliknya terbunuh.


"H!"


Satria langsung menghampiri H dan memeluk putranya dengan erat, apa yang dilakukannya. Mendapat tatapan aneh dari Penus, untuk apa seseorang harus menangis lawannya? Hal itu yang ada di dalam benak lelaki itu.


Nyeri dan perih, hanya itu yang Satria rasanya. Bagaimana nantinya dia, jika bertemu dengan Haruna. Apa yang bisa di jelaskan olehnya, kepada Dewa tersebut.


Kalau mengetahui, putra mereka tewas di tangan kakeknya sendiri. Sungguh, suatu kejadian yang sangat miris.

__ADS_1


Disaat Satria lengah, karena meratapi kepergian H. Dewa Ketua langsung menyerang, melihat kesempatan emas tersebut. Tentu saja tidak akan di sia-siakan begitu saja.


"Awas!"


Penus yang masih berada di dekat Satria, dengan sigap menghadang Dewa Ketua. Namun sayang, dirinya yang hanya seorang manusia biasa. Tidak mampu menandingi kekuatan seorang Dewa.


Dengan sekali hentakan, Penus terpental cukup jauh. Kaum Hunter dan pasukan Victoria, telah banyak yang tewas.


Hanya mereka yang tersisa, pilihan tinggal ditangan Satria. Melawan Dewa Ketua, atau membiarkan orang-orang yang disayanginya terbunuh.


Brak


"Apakah belum puas, kamu melihat semua ini?"


Satria menatap tajam ke arah Dewa Ketua, apa yang dia tanyakan hanya mendapatkan senyuman kecil dari Dewa Ketua. Tentu saja, ini belum berakhir dengan mudah.


"Aku akan merasa puas, jika ... kamu mati!" balas Dewa Ketua dengan acuh tak acuh. Dia kembali menyerang Satria, tetapi kali ini dia mendapatkan perlawanan.


Salahkah, jika Satria tidak ingin membunuh? Salahkan, jika dia menginginkan sebuah kedamaian? Namun apa yang selalu dia temui? Keegoisan dan sikap serakah, merubah segalanya.


Bukan hanya manusia, bahkan sekalipun Dewa. Tidak bisa mengendalikan nafsu dan ambisi, membuat perpecahan dimana-mana. Sampai harus mengorbankan banyak nyawa, demi tujuan tertentu.


"Aku sudah muak! Apa yang kamu lakukan, benar-benar keterlaluan!"


Setiap kata yang Satria ucapan, penuh akan amarah yang tanpa sadar. Menguasai tubuh dan pikirannya, dia menyerang Dewa Ketua terus-menerus. Tanpa mengenal jeda atau memberikan kesempatan.


Kekuatan Satria seolah tanpa batas, dia mengeluarkan energi dan cahaya yang sangat kuat dari dalam tubuhnya.


"Cih! Hanya Dewa amatir! Kamu pikir bisa menghentikanku!"


Walaupun terdesak, Dewa Ketua tetap terus melawan Satria. Kekuatan yang dia miliki, setelah menyerap sari kehidupan anak-anak Satria. Membuatnya merasa percaya diri, kalau bisa mengalahkan Satria dengan mudah.


Ditambah, Dewa Ketua telah mengambil alih tubuh Put. Dimana dia gunakan untuk memperoleh kekuatan dan kemampuan yang lebih tinggi lagi.


"Kembali lah ke neraka!" teriak Satria dengan nyaring dan mengarahkan kekuatan penuhnya ke arah Dewa Ketua.


"Aaa ... ."


Serangan tersebut, membuat Dewa Ketua terpental dengan sangat jauh.


"Hentikan!"

__ADS_1


Tubuh Satria membeku seketika, ketika bola matanya melihat seorang wanita yang berteriak.


__ADS_2