Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 120


__ADS_3

Namun, kali ini Put seakan menolaknya. Satria pun menayakan alasan Put, "Kamu tidak ingin mengulangi yang semalam?"


Wajah Put memerah padam, tapi ia kembali tersadar. Kemudian bangun dan terus berlalu begitu saja, Satria melihat hal tersebut segera menyusul Put yang ternyata menuju ke arah api bakar.


Put menyodorkan seekor ikan bakar yang sudah matang kepada Satria dan disambut dengan senyum yang menawan.


Seraya duduk di samping Put, Satria melihat keadaan sekitar yang memang nampak sepi ditambah matahari yang mulai meninggi.


"Sat, apa rencanamu selanjutnya? Apakah masih berfikir ingin tinggal di dunia Albiru?" tanya Put tanpa menatap ke arah Satria yang memakan sarapannya dengan lahap.


Satria terdiam sesat sebelum menjawab pertanyaan dari Put, "Mungkin iya dan tidak, entahlah Put ... aku bingung juga. Seperinya masalah di dunia ini tidak akan mudah untuk diselesaikan."


Bukan Satria pesimis dengan keadaan yang terjadi, tapi melihat dari banyak sekali masalah yang datang dan belum terselesaikan membuatnya merasa kalau aakn sulit jika seperti ini terus-menerus.


Put hanya menagguk kecil, pertanda setuju dengan apa yang baru saja Satria katakan. Kemudan Put teringat akan Victoria yang meminta Satria untuk segera kediaman Cooper.


"Baiklah, aku akan segera pergi. Terimakasih atas sarapannya," kata Satria seraya berlalu.


Put hanya bisa menatap pungung Satria yang mulai menjauh, lelaki yang telah banyak sekali melukis kisah di dalam hidupnya. Apakah Put bisa mengapai Satria? Di mana banyak sekali wanita yang datang dan mendekati lelaki itu.


Sedangkan Satria yang terus melangkah seraya berfikir, dirinya harus mengambil sebuah keputusan yang tepat untuk hidupnya sendiri.


Tidak semudah waktu dulu, kali ini Satria harus memikirkannya dengan matang. Jangan sampai ia melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


Ketika Satria telah berada di depan gerbang, ia melihat Victoria yang tengah berdiri dengan tangan yang melipat di dada menatap kearahnya dengan sorot mata tajam.


"Apa sudah puas tidurnya? Pemalas!" Victoria mulai mencerca Satria dengan ucapan yang kasar, tapi Satria tidak menanggapi dengan serius dan memilih untuk segera masuk.


Setelah berada di halaman belakang, Satria menunggi Victoria yang menyusulnya. Kemudian Satria menanyakan hal apa yang ingin wanita itu sampaikan.


"Kita akan menuju ke Kastil! Ada sesuatu yang ingin aku jelaskan padamu, Sat," jelas Victoria serius.

__ADS_1


Satria mengangguk pelan mengerti dengan apa yang Victoria jelaskan dan mereka pun mulai bergerak, Satria meletakan Victoria di atas pundaknya.


Selama diperjalanan Satria banyak berbagi cerita dengan sang ibu, sebab hanya Victoria yang amat mengenal dirinya dengan baik.


Hingga mereka sampai di Kastil, di mana semuanya berawal. Satria melangkah dengan pelan seraya melihat keadaan sekitar yang nampak sangat berubah.


Area Kastil banyak ditumbuhi dengan tanaman merambat yang menutupi bagian dinding Kastil dan beberapa tempat yang berada di bawah telah berlumut.


"Bu, apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Satria penasaran ketika mereka sudah berada di dalam kastil.


Victoria tidak menjawab pertanyaan Satria tersebut dan hanya meminta Satria untuk menunggu di ruangan utama yang memang cukup besar. Setidaknya bisa menampung tubuh Satria.


Selama Victoria pergi, Satria teringat kembali dengan pertemuan tidak sengajanya dengan Jennifer waktu itu dan membuat Satria menuju kesebuah ruangan di mana tempat peristirahatan terakhir Antonius.


Hingga Satria teringat akan Antonio yang merupakan paman Alice, selama ini Satria tidak pernah melihat Antonio lagi.


Menghilangkannya Antonio membuat Satria merasa keanehan dan curiga, entah apa yang pamannya Alice itu tengah lakukan sekarang.


"Apakah kamu gak pernah mau mendengarkan perkataanku?" tanya Victoria seraya berdiri diambang pintu seraya menatap tajam ke arah Satria.


Namun, Victoria tidak mengetahui apapun tentang Antonio. Kemudian mengajak Satria untuk kembali ke aula utama.


Victoria membuka sebuah album foto lama yang telah dipenuhi oleh debu seraya menceritakan tentang Profesor Ruden dan kembarannya.


Selama menjadi Bubu dikeluarga Cooper, Victoria banyak mendapatkan informasi tentang struktur organisasi tersebut dan bersinggungan dengan Profesor Ruden sebagai penjaga Kastil.


"Apa benar Profesor Ruden memiliki saudara kembar?" tanya Satria agak terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Victoria.


"Menurut sejarah keluarga mereka, iya. Tapi, selama ini ... Ibu tidak pernah bertemu dengan Ruu. Saudara kembarnya Profesor Ruden," jelas Victoria dengan raut wajah serius.


Selama tinggal dengan Keluarga Cooper dan sering datang ke Kastil untuk bertemu dengan Profesor Ruden, tidak pernah sekalipun Victoria bertemu ataupun melihat Ruu.

__ADS_1


"Maksudnya? Keberadaan Ruu memang diketahui atau ... memang disembunyikan?" tanya Satria.


Victoria hanya mengangkat bahunya, tidak tahu. Sebab tidak ada penjelasan signifikan tentang keberadaan Ruu dan data tentang kembaran Profesor Ruden tersebut.


Satria mulai mengingat kembali tentang dirinya yang melempar Profesor Ruden ke portal lain dan pertemuan Haruna dengan seseorang yang terlihat sama persis dengan Profesor Ruden. Namun, mengaku bahwa dirinya Ruu.


"Bu! Sebaiknya kita segera kembali!" ajak Satria dengan raut wajah panik.


Victoria bingung dengan perubahan sikap Satria dan hanya mengikuti perintah, mereka segera kembali kediaman Cooper.


Diperjalanan Satria menjelaskan apa yang ia ketahui tentang Ruu, bahwa kalau Ruu memiliki hubungan khusus dengan Haruna.


Wajah Victoria menjadi pias, ketika mendengar hal itu ditambah Ruu berada dikediaman Cooper. Mereka sudah menerka-nerka apa yang mungkin saja terjadi dan membuat Satria segera mempercepat langkahnya.


Namun, ketika mereka sudah sampai. Semuanya telah terlambat, keadaan dikediaman keluarga Cooper telah porak-poranda.


Tubuh Satria membeku di tempat, keadaan yang ada di hadapannya begitu mengerikan dan terdapat beberapa penjaga yang tergeletak begitu saja di tanah.


"Siapa yang melakukan hal ini?" tanya Satria pelan.


Victoria minta diturunkan dari bahu Satria dan segera masuk mencari keberadaan Jennifer, ternyata keluarga Cooper telah diserang.


Satria hanya bisa meratapi apa yang sudah terjadi tanpa bisa berbuat apapun, hingga suara Alice terdengar dan memarahinya.


"Ini semua karena kesalahanmu! Aku kehilangan semua yang selama ini aku lindungi!" teriak Alice melupakan segala kekecewaannya tentang apa yang sudah terjadi.


Ternyata, setelah kepergian Satria para Hunter kembali menyerang. Alice dan Put tidak mampu mengalahkan para Hunter yang tidak mempan dengan serangan fisik.


Mereka menyerang dan membawa Ruu dan Lubis, saat ini keadaan keluarga Cooper semakin memburuk dan sulit untuk bisa kembali bangkit.


Satria tertunduk dalam, ia menerima semua cacian dan makian dari Alice. Sebab Satria pantas mendapatkan itu semua.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak memiliki akal sehat?" sindir Put dengan sorot mata sinis menatap ke arah Alice.


"Kamu tidak mengerti apapun, Put! Kamu tidak pernah bisa mengerti apa yang aku rasakan!" pekik Alice membalas tatapan tajam Put.


__ADS_2