
"Aku adalah Dewa di atas Dewa, aku akan mengabulkan satu permintaanmu, sebagai penebus nyawa yang telah dikorbankan."
Satria mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan apa yang lelaki yang berada dihadapannya itu katakan. Karena, Satria hanya mengetahui bahwa Dewa Ketua sebagai Dewa di atas Dewa.
"Singkirkan keraguanmu, dan sebutkan permintaan yang kamu inginkan."
Mendapati sebuah pertanyaan itu, membuat Satria tersenyum kecil. Dia bisa mengetahui hukum Dewa yang sangat nyata, dimana mereka meminta sesuatu dan akan menerima yang lainnya. Tentu saja, Satria menggelengkan kepalanya menolak tawaran tersebut.
"Satria, kamu benar-benar tidak menginginkan apapun? Bahkan, ketika berada dialam roh sekalipun."
Tersadar dengan apa yang dikatakan oleh lelaki yang merupakan Dewa diatas Dewa itu, membuat Satria menyadari. Jika dirinya telah mati dan timbul ingatan tentang keadaan orang yang dicintainya.
"Apa, aku benar-benar telah mati. Lalu, bagiamana dengan Dewa Ketua?" tanya Satria dengan sorot mata serius. Dia ingin mengetahui keadaannya dengan pasti, apalagi Dewa ketua telah kembali. Lalu, siapa yang bisa mengalahkan Dewa Ketua kalau bukan dirinya.
"Apa kamu yakin, akan permintaanmu itu?"
Bukanya mendapatkan sebuah jawaban, Satria malahan mendapatkan sebuah pertanyaan. Membuatnya mendesah berat, dia lupa dengan siapa tengah berbicara. Satria pun mencoba untuk berpikir keras, ditempat itu tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua.
"Aku mendapat berapa kali permohonan?" tanya Satria. Hal pertama yang harus dia ketahui ialah, berapa kali dirinya bisa mendapatkan kesempatan. Setelah itu, baru berpikir apa yang akan diminta.
Lelaki didepannya diam sejenak dengan menutup matanya cukup lama, Satria menunggu dengan perasaan yang gusar. Apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Satu kebaikan dan satu permohonan, jika kamu bisa membuat satu kebaikan. Maka, kamu bisa mendapatkan satu permohonan."
Satria merasa dipermainkan, ditambah waktu terus bergulir. Dia bisa terlambat menyelamatkan yang lainnya, jika terjebak di sini lebih lama.
"Satu kebaikan, bagiamana aku bisa mendapatkannya?" tanya Satria yang mencari celah untuk berdiplomat dengan Dewa tersebut.
__ADS_1
"Aku akan mengembalikamu ke alam dunia, lalu ... kamu bisa melakukan satu kebaikan dan mendapatkan apa yang kamu inginkan."
Dari apa yang jelaskan oleh Dewa tersebut, Satria mulai mengerti. Kenapa Dewa Ketua bisa bangkit dengan begitu mudahnya dan mendapatkan kekuatan penuh.
Entah perbuatan baik apa yang akan dilakukan oleh Dewa Ketua, yang satria tahu hanya sebuah dendam yang sangat dalam dan ingin membunuh yang menyelimuti Dewa Ketua.
"Mereka yang memiliki kebusukkan di dalam dirinya hanya akan merugi, bagaikan sebuah buah yang didalamnya busuk. Maka, hanya akan dimakan oleh hulat sampai pada akhirnya habis dan membusuk dengan tragis."
Satria tersenyum, mendengar kata-kata bijak tersebut. Dia sudah menentukan apa yang diinginkan, yaitu kembali ke dunia dan membunuh Dewa Ketua. Supaya dunia kembali damai seperti sedia kala, satu permohonan dan kebaikan langung di dalam satu paket.
"Aku meminta untuk lebih kuat agar bisa membunuh Dewa Ketua, agar dunia kembali damai," terang Satria.
"Permintaanmu ditolak!"
Melonggo dengan mulut dan mata yang terbuka, Satria tidak mengerti dengan jawan Dewa tersebut. Sama seperti melakukan transaksi, di sebabkan oleh saldo yang kurang. Maka transaksi pun gagal.
"Dewa Ketua telah meminta kekuatan yang lebih darimu dan tidak bisa dikalahkan, dia tidak bisa mati ditangamu."
Kali ini tatapan Satria menjadi dingin, dia merasa akan dimanfaatkan. Tentu saja Satria bukan orang yang bodoh dan mudah untuk ditipu, ada syarat yang harus dia penuhi merupakan sebuah permintaan dari apa yang diinginkan olehnya.
"Katakan, apa syaratnya?" Satria tidak ingin berbasa-basi lagi, terlihat dengan jelas. Jika, Dewa tersebut tersenyum dengan lebar dan menuju ke sebuah cermin yang sangat besar. Entah sejak kapan, cermin itu ada di sana.
Satria pun mengekor dari belakang, dia memperhatikan dengan seksama. Apa yang Dewa iotu akan lakukan, dan menunggu persyaratan apa yang haerus dipenuhi olehnya.
Tiba-tiba saja, cermin yang ada di hadapan Dewa itu bercahaya dan tidak lama ada sebuah gambaran yang terpancar dengan jelas.
Satria bisa melihat keadaan orang-orang yang berada didunia Albiru yang tengah berjuang untuk bisa mengalahkan Dewa Ketua, sampai mereka semua mendapatkan luka disekujur tubuh.
__ADS_1
"Dewa Ketua tidak bisa mati ditanganmu, jadi ... pilih siapa yang kamu tunjuk untuk membunuh Dewa Ketua dan apa yang akan kamu korbankan. Karena, setelah orang itu bisa membunuh Dewa Ketua. Secara otomatis, dia akan menjadi Dewa."
Terdengar suara ******* yang sangat berat dari Satria, dia diberi sebuah pilihan yang sangat sulit. Semakin berfikir, semakin membuat Satria tidak bisa menemukan jawaban yang terbaik. Hingga suara Dewa tersebut kembali terdengar mengusik pendengarannya.
"Penus. Dia merupakan keturunan dari Dewa Lubis, bahkan Penus merupakan ayah kandungmu. Bukankah, itu pilihan yang paling baik?"
Seperti memahami kesulitan Satria, Dewa itu memebrikan sebuah saran. Namun, menimbulkan pertanyaan lain di dalam benak Satria. Karena baru mengetahui, jika ayahnya merupakan keturunan Dewa Lubis.
"Baiklah," balas Satria dengan hati yang mantap. Dia harus kembali dan menanyakan semuanya kepada sang ayah, setelah membunuh Dewa Ketua tentunya.
"Pejamkan matamu dan biarkan angin menuntumu, kembali kepada tempat yang semestinya."
Satria mengikuti apa yang di introspeksi, oleh Dewa itu dan menutup kedua matanya. Membiarkan tubuhnya di terpa oleh angin yang membuat sekujur tubuh Satria merasa relaks dan nyaman. Hingga, terdengar isak tangis Alice dan membuatnya memaksakan diri untuk bangun kembali.
Ternyata benar, Alice memeluk tubuhnya dengan erat sambil menangis dengan pilu. Dia mengusap lembut tangan Alice yang berada ditubuhnya dan membuat gadis itu terkejut, lalu menatapnya nanar.
"Satria!" teriak Alice dengan sekuat tenanga. Awalnya dia terkejut, melihat Satria yang tersadar. Namun setelah tersadar, jika Satria benar-benar kembali dia pun merasa bersyukur.
Mendengar teriakan Alice, yang lainnya pun segera menghampiri Satria. Mereka pun merasa bersyukur, karena sang penyelamat telah kembali.
Disaat perasaan tengah haru biru, tubuh Antonio terpanting tepat didekat mereka semua. Darah segar memuncah dari mulut lelaki itu, dia pun langsung terkapar.
Satria melihat hal itu, menjadi geram dan mengepalkan tangannya. Mata Satria teruju ke arah Dewa Ketua yang tengah bertarung dengan Antonius, Brongsi dan Profesor Ruden. Saatnya Satria melakukan tugasnya, yaitu membuat sang ayah Penus untuk melakukan permintaan.
"Dimana ayahku?" tanya Satria. Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkannya. Karena, mereka belum mengetahui. Siapa ayah Satria dan yang mana orangnya, sampai Profesor Ruden juga kalah telah dan terbanting.
"Prof!" teriak Satria. Dia segera menghampiri lelaki itu dengan secepat kilat, tubuh Profesor Ruden telah penuh akan darah.
__ADS_1
"Penus," kata Profesro Ruden dengan suara yang pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Satria. Tangan lelaki itu mengarak ke sisi timur, Satria pun mengikutinya dan melihat sang ayah yang tengah diobati oleh A. Terlihat banyak luka yang Penus dapatkan, pertanda kalau ayahnya ikut berperang juga.
"Ayah, aku akan membuatmu menjadi Dewa!"