
"Perang telah di mulai!"
Terdengar suara seseorang dari sisi lain, menarik perhatian Satria dan Profesor Ruden. Siapa yang akan membantu mereka, kubu mana yang mau berjuang bersama dan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Semua pertanyaan itu, bagikan mimpi buruk yang mengahantui. Namun, ketika mereka melihat. Siapa yang memimpin pasukan yang baru saja datang itu, membuat nafas lega untuk keduanya.
"Akhirnya, aku pikir akan mati di sini," gumam Profesor Ruden.
"Tidak untuk sekarang," balas Satria cepat. Membuat Profesor Ruden melongo.
Dengan santai, Satria menemui Alice dan Jennifer yang tiba dengan pasukan yang lumayan besar. Bahkan, pasukan tersebut dikawal langsung oleh Antonio bersama sang kakak Antonius.
Kedua lelaki tersebut sering mendapatkan, sayap kiri dan kanan kematian. Terlebih, mereka merupakan adik–kakak yang memiliki ikatan yang sangat erat.
Namun, bukan itu saja. Alice membawa putranya, yang kini menjadi bintang yang bersinar dengan terang di antara lainnya.
"Apakah, kalian benar-benar akan berperang?" tanya Satria yang kini sudah berada di hadapan Alice.
Dia merasa takjub dengan kedatangan mereka semua, keluarga Cooper merupakan bagian besar yang penting dari dunia Albiru.
Tentu saja, mereka tidak boleh ketinggian dalam acara pemusnahan dan peperangan yang terjadi. Dewa Ketua yang melihat pasukan tersebut, kini memiliki pertimbangan yang berat.
"Kami sudah siap!" Setelah mengatakan hal itu, gedabung perang telah di bunyikan. Pasukan Alice yang dipimpin oleh sang ayah dan pamannya mulai bergerak.
Masalah kini terjadi pada musuh yang berada di seberang sana, diamnya pasukan lawan. Menimbulkan tanda tanya, apakah mereka tengah mengatur siasat atau memiliki rencana lain.
Disaat A hendak melewati Satria, tangannya di cekal oleh sang ayah yang menatap kearahnya dengan tatapan yang aneh dan penuh tanda tanya.
"A! Tunjukkan kekuatanmu!"
Mendengar apa yang baru saja ayahnya ucapakan, dengan penuh semangat. Bocah tersebut maju ke Medan perang, entah apa yang ada di dalam benak Satria.
Dia melepaskan bocah berusia 5 tahun itu, menuju ke arah kematian yang akan merengutnya dengan sadis dan kesengsaraan.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, bahu Satria terasa di teluk dari arah samping. Dia melihat sang pelaku yang merupakan Profesor Ruden.
"Aku tidak tahu! Hutang Budi apa yang telah keluarga Cooper lakukan kepadamu! Tapi ... izinkan aku untuk ikut berperang!"
Satria tersenyum lebar, dia mengangguk kepalanya. Mereka pun bersiap-siap untuk perang kedua dengan kubu dan musuh yang berbeda.
Namun, ada pertanyaan yang tersemat di dalam diri Satria sendiri. Apakah, dia mampu. Melihat peperangan berdarah antara anaknya dari Put dan Sis, berserta anggota keluarga Cooper.
"Brongsi, lindungi Dewa S!" perintah Alice kepada pedangnya, seketika pedang tersebut berubah menjadi seorang prajurit.
Satria tersenyum, dia segera terbang dan menuju ke arah Dewa Ketua. Mau tidak mau, dirinya harus membunuh Dewa Ketua.
Sudah terlalu banyak korban, Bob dan Sis yang terbunuh. H dan Haruna juga, ditambah ayah dan ibunya yang terluka parah.
Nyawa di bayar nyawa, biarkan yang lain menjadi urusan keluarga Cooper. Sebab, Satria hanya mengincar Dewa Ketua.
"Kamu pikir? Sudah hebat?"
Dewa Ketua telah siap dengan serangan yang akan dilakukan oleh Satria. Dia pun melakukan serangan terlebih dahulu, tetapi ada Bronsi yang menghalang geraknya.
Tidak ketinggalan A, putranya Satria dan Alice itu menjadi tabib. Bocah 5tahun itu ternyata memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, dia bisa menyembuhkan orang-orang dengan sekejap mata.
Alice dan Jennifer menjadi pelindung di bagian belakang, serta terus melihat perkembangan perang yang terjadi dihadapan mereka.
"Satria!" teriak Put. Dirinya terjebak, dia tidak bisa berbuat banyak. Tubuhnya di potong-potong dengan sadis, Put masih berharap. Jika Satria akan datang menolongnya, tetapi Put belum mengetahui satu hal. Kalau, hati Satria telah mati rasa.
Antonio dan Antonius menyerang Put tanpa mengenal ampun, begitu pun dengan yang lainnya. Mereka membantai apapun yang menghalang jalan.
Put dan seluruh anggotanya tidak berdaya, terlebih tubuh mereka telah diisap dari patinya oleh Dewa Ketua. Membuat mereka tidak memiliki kekuatan apapun lagi.
"Enyahlah engkau dari dunia ini!" teriak Antonius dengan sorot mata dingin. Dia menghunuskan pedangnya ke arah jantung Put, seketika itu juga. Put mati terbunuh dengan keadaan yang terpotong-potong.
Sungguh mengerikan, bahkan Antonio menggeliat geli. Melihat tubuh Put yang sempat bergerak dan hidup, dengan keadaan tidak utuh.
__ADS_1
"Apakah, dia benar-benar mati?" Pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari bibir Antonio, dan mendapatkan gelak tawa dari sang kakak.
"Dia sudah mati! Jangan berpikir untuk menikmati tubuh mayat!" balas Antonius dan berbalik arah mundur.
Mayat terlempar begitu saja di atas tanah, tercecer dengan keadaan yang mengerikan. Kubu Put kalah telak, karena pihak keluarga Cooper yang memiliki A sebagai tim medis yang paling termutakhir.
Kini tinggal Satria dan Dewa Ketua yang masih bertarung, entah siapa yang akan menang. Alice sangat berharap, jika Satria bisa mengalahkan Dewa Ketua.
Serangan demi serangan yang Satria lakukan, semuanya dibaca dengan mudah oleh Dewa Ketua. Untung ada Brongsi yang seolah-olah menyatu dengannya dan merang Dewa Ketua dari arah yang berlawanan.
"Kamu memang mahkluk yang tidak berguna!" teriak Dewa Ketua dengan kemarahan. Dia menyerang Satria terus-menerus, tanpa jeda.
Burs
Suara energi yang dilayangkan oleh Dewa Ketua, ketika tadi Satria yang menyerang. Kini sebaliknya, tetapi Satria bersama dengan Brongsi. Mereka berhasil menyudutkan Dewa Ketua.
Satria memasang pelindung, disaat Dewa Ketua melakukan serangan dan Brongsi akan menyerang Dewa Ketua. Ketika melakukan penyerangan dan hal itu terus mereka ulang, hingga Satria memiliki sebuah kesempatan untuk melakukan serangan telah.
Disaat Satria yang menggunakan pelindung, untuk menahan serangan dari Dewa Ketua. Bringsi yang menyerang dari sisi lain, membuka sebuah celah untuknya dan melakukan serangan mematikan.
Buar
Satria yang memfokuskan, energi yang dimiliki pada satu titik dan langsung mengarahkannya kepada Dewa Ketua. Dalam waktu sekejap saja, tubuh Dewa Ketua meledak dan semuanya hancur berkeping-keping.
"Apakah Dewa Ketua sudah tewas?" gumam Satria yang belum merasa yakin, kalau serangnya telah membunuh Dewa Ketua.
Dia tetap dalam mode waspada, sampai tubuh Dewa Ketua yang tadinya hancur. Kembali pulih seperti sedia kala, tidak akan mudah untuk membunuh seorang Dewa.
Disaat tubuh Dewa Ketua yang mulai menyatu kembali, Satria langung melakukan serang mematikannya. Menghentikan proses penyatuan tersebut.
Alhasil, tubuh Dewa Ketua kembali hacur. Bahkan, tanpa menyatu kembali. Brongsi terus mencincang tubuh Dewa Ketua yang telah menjadi butiran-butiran kecil.
"Hentikan! Dia sudah mati!" perintah Satria kepada Brongsi.
__ADS_1
"Masih belum!"