
Di saat Satria harus mengurus keadaan di dunia nyata, Alice sudah menjalankan misi lain bersama Put yang telah diobati dan keadaannya sudah membaik. Walaupun tidak sepenuhnya.
Kini kedua wanita itu tengah berada di dunia Albiru, lebih tepatnya di gubuk Put. Sebab, Alice ingin menjadi Blogger.
"Ayo minum," pinta Put kepada Alice yang nampak ragu dengan ramuan yang sudah ada di tangannya.
Sebab Alice melihat serangkaian cara pembuatan ramuan tersebut dari tangan Put secara langsung, sampai membuatnya merasa jijik dan tidak menyangka bahwa Satria mampu meminum ramuan tersebut.
Beberapa kali Alice melihat ke arah Put yang masih menunggunya untuk meminum cairan yang berwarna hitam pekat itu, entah bagaimana rasanya nanti.
"Kenapa Alice? Itu bukan racun," jelas Put.
Alice hanya tersenyum kecut dengan celotehan Put dan meneguk cairan itu dalam sekali tegak saja, rasa nano-nano aneh serta tidak enak masuk ke mulutnya.
Hingga perubahan terjadi pada tubuh Alice dan ia merasakan rasa sakit yang luar biasa sampai berteriak dengan keras.
"Aaaa ... sakit!" teriak Alice bersamaan dengan perubahan yang terjadi.
Tubuh Alice berubah menjadi semakin besar seperti raksasa, sampai ia bisa menguasai dirinya. Semua perubahan dan kekuatan yang dimiliki memang begitu luar biasa.
"Hahaha ... ini benar-benar luar biasa!" pekik Alice merasa senang akan perbuatannya.
Put memutar bola matanya malas dan melempar pakaian miliknya ke Alice, tentu saja apa yang dilakukan oleh Put membuat Alice menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Untuk apa ini?" tanya Alice memungut baju yang Put berikan, menurutnya pakaian itu amat kuno dan tidak sesuai dengan dirinya.
Put tidak menjawab pertanyaan dari Alice dan memilih berlalu begitu saja, ada hal yang harus segera ia lakukan daripada melihat keanehan pada Alice.
Andaikan Alice tidak mambantunya, mungkin Put tidak Sudi untuk memberikan ramuan perubahan Blogger pada Alice.
"Put! Kamu belum menjawab pertanyaanku!" pekik Alice nyaring seraya menatap punggung Put yang masih belum berbalik arah.
"Kamu bukan orang b*d*h, Alice!" kata Put sebelum meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Alice hanya diam dan memperhatikan keadaan dirinya sendiri, Alice baru menyadari bahwa tubuhnya telah menjadi polos.
Kini wajah Alice memerah padam merasa malu, untung hanya Put yang melihat keadaannya seperti ini. Kalau tidak? Entah di mana ia akan menyembunyikan wajahnya.
Alice merupakan salah–satu keturunan dari keluarga Cooper dan garda terdepan dalam peperangan, membuatnya selalu menjaga penampilan dan cara berbicara.
"Huhf ... aku harus mengenakan pakaian kuno ini?" gumam Alice merasa tidak nyaman.
Namun, Alice tidak memiliki pilihan lain. Apalagi setelah malam tadi, ketika ia mendengar ucapan Satria yang mengatakan bahwa Put tengah hamil dan memerintahkannya untuk menolong Put.
Alice merasa terkejut akan hal itu, tapi ia tidak mudah untuk percaya begitu saja tanpa adanya sebuah bukti yang jelas.
Alice memanipulasi keadaan dan mengatakan kepada Put, bahwa telah berhutang nyawa kepadanya. Sebab, Alice menyelamatkan Put di saat keadaan Put mulai sadarkan diri.
Tentu saja Put akan percaya dengan apa yang diucapkan oleh Alice dan mau membantu Alice sampai menuju ke dunia Albiru.
"Put! Apakah tidak ada pakaian yang layak?" keluh Alice seraya mendekati Put yang tengah menyalakan api di perapian.
Put hanya menatap sekilas ke arah Alice dan berdecak kesal, seakan Alice mengucapkan kalimat yang merendahkan seleranya.
Namun, Alice hanya cengengesan mendengar Jawaban Put. Jika pakaian yang ia kenakan saat ini merupakan pakaian Put, maka seperti apa pakaian ibunya Put. Tentu saja Alice tidak jadi protes dan memilih duduk di dekat perapian seraya menunggu Put yang tengah menyiapkan sarapan.
Sebenarnya Alice sudah sering berada di dunia Albiru, tapi tidak mengetahui bahwa tempat para Blogger berada di area timur.
"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Put seraya menyerahkan semangkuk sup hangat.
Matahari di dunia Albiru sudah mulai meninggi, mereka berangkat dari semalam dan belum bisa tidur. Sebab, Put harus membuat ramuan untuk Alice dan juga dirinya agar cepat sembuh.
"Mungkin mencari keberadaan Dewi Haruna," jelas Alice memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti.
Put mengentikan tangannya yang menyuap sup, ia menatap ke arah Alice yang nampak santai memakan sup miliknya.
Gubuk miliknya memang tidak seperti dulu, tapi setidaknya masih aman untuk bersembunyi. Sebab, terletak di tengah-tengah hutan dan tertutup oleh banyak pohon.
__ADS_1
Namun, jika Alice mencari Dewi Haruna. Hal itu bisa membahayakan dirinya juga, sebab Put tidak ingin berurusan dengan Dewi yang satu itu.
"Kamu mau ke mana setelah ini?" Alice berbalik bertanya kepada Put.
"Mencari Satria," balas Put cepat dan segera melanjutkan makannya.
Mereka memang berada di dalam tempat yang sama, tapi pikiran keduanya amat bertolak–belakang. Hingga sulit untuk disatukan.
"Aku sudah selesai," kata Put seraya bangun dari posisi duduknya.
Alice hanya mengangguk kecil dan menatap Put yang masuk ke kamar, Alice paham betul. Kalau Put pasti kelelahan, apalagi luka di tubuhnya masih belum pulih.
Keadaan Put saat ini memberikan kesempatan untuk Alice pergi mencari kebenaran Dewi Haruna, sebab Alice ingin meminta sesuatu kepada Dewi itu.
Setelah menyelesaikan sarapan yang menurutnya bagaikan rebusan dedaunan obat, entah apa yang Put masukan ke sup tersebut. Tapi, Alice merasa sedikit berenergi. Walaupun harus ia akui, bahwa sup buatan Put tidak enak.
"Aku harus segera bergerak," gumam Alice dan mengambil senjata yang terdapat dibalik pintu.
Alice juga membawa tempat untuk menampung air, setelah kebutuhannya terpenuhi. Alice pun mulai bergerak, ternyata menjadi seorang Blogger amat menyenangkan baginya.
Alice bisa menghemat tenaga, sebab bisa sampai ke suatu tempat dengan cepat. Tujuan pertamanya adalah ke sungai.
Bukan rahasia lagi di dunia Albiru, jika Dewi Haruna akan turun ke sungai untuk mandi. Namun, kapan dan waktunya masih belum jelas.
"Aku akan menunggu di sini saja," gumam Alice seraya duduk di atas batu yang lumayan besar di tepi sungai.
Seraya menunggu, Alice memperhatikan keadaan sungai yang nampak begitu jernih dan beberapa kali terlihat ada ikan yang meloncat-loncat membuat Alice ingin memakan ikan tersebut.
Alice mulai menggunakan anak panahnya dan membidik ikan yang ia lihat, kemampuan Alice memang sudah hebat ditambah menjadi seorang Blogger. Tentu saja semakin hebat.
Dengan mudahnya Alice mendapatkan ikan, ia merasa senang dan kenyang tentunya. Hingga terdengar suara tepuk tangan yang cukup keras, di saat Alice memenggang ikan buruannya.
"Kamu memang hebat!"
__ADS_1
Sepertinya Dewi Portuna sedang bersama Alice saat ini, tanpa repot-repot mencari Dewi Haruna. Ternyata dia sendiri yang datang untuk menemui Alice.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Alice dengan garang.