Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 63


__ADS_3

Satria menuntun Dewi Haruna sampai ke kamar, keadaan di dalam begitu sunyi. Ternyata Alice sudah tidak berada di sana lagi.


Dengan penuh perhatian dan lembut, Satria mengajak Dewi Haruna ke peraduannya. Namun, ingatan wanita itu masih terusik akan Alice yang telah tidur bersama Satria.


"Ada apa?" tanya Satria dengan lembut, setelah merasakan p[enolakan halus dari wanita cantik yang berada di sampingnya itu.


Walaupun dia seorang Dewa dan mengetahui apa yang tengah Haruna rasakan, tapi Satria berusaha untuk menunjukkan perhatiannya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu," terang Haruna dan memilih untuk duduk di dekat jendela, lalu menatap ke arah luar kastil.


Sebentar lagi, dirinya tidak akan pernah melihat keindahan ini lagi. Haruna juga tidak sanggup meliha Satria yang akan berdampingan dengan Alice di hari pernikahan nantinya.


Hingga sebuah tangan yang kekar memeluknya dari arah belakang, senyuman manis itu menjai penawar dari rasa sesak di dada.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Satria pelan, kemudian duduk di samping Haruna.


Terdengar ******* berat dari wenita itu, sesekali tatapan mereka bertemu. Sampai bibir yang indah itu mulai terbuka pelan.


"Dewa S, aku hanya ingin tinggal di dunia Albiru. Dunia ini memang indah dan aku merasa nyaman, tapi ... aku berbeda, karena tidak berasal dari sini," terang Haruna dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Namun, Satria hanya tersenyum. Dia meraih tangan Haruna dan menggenggam erat tangan wanita itu. Seolah memberikan energi positif yang dia miliki, berharap bisa menenagkan perasaan gelisah yang tengah di rasakan oleh Haruna.


"Aku telah berjanji akan menjadikanmu Ratu di dunia Albiru, tapi ... kamu harus menemaniku untuk selamanya."


Setelah mengatakan hal itu, Satria memilih untuk bersiap-siap. Hari ini dia akan menciptakan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan olehnya untuk seumur hidup.


Hari pernikahan diriya dengan Alice, bahakan dia telah bergumum dengan wanita itu. Mengikat sebuah hubungan yang sulit untuk di putuskan begitu saja.


"Aku akan segera menyusulmu ke dunia Albiru, setelah urusan di sini selesai." Tanpa menatap ke arah Haruna, Satria berlalu begitu saja.


Baru saja dia ingin membuka pintu, tiba-tiba Haruna memeluknya dari belakang. Wanita itu terbang dengan kecepatan kilat.

__ADS_1


Pelukan yang begitu hangat dari seroang wanita yang ingin di tinggalkannya menikah dengan Alice, miris memang. Namun, cinta mereka terlalu kuat. Hingga bisa menyingkirkan segala rasa yang di pendam di dalam hati.


"Aku akan meridukanmu, segera kembali," katanya dengan lirih. Kemudian melepaskan peukan mereka, Satria sempaykan diri untuk mengecup mersa Haruna sebelum benar-benar pergi.


Cinta adalah sesuatu yang begitu unik, setiap mahkluk hidup bisa merasakannya dan menikmati rasa yang begitu sulit di jelaskan dengan kata-kata.


Hingga, rasa sakit sekali pun tidak bisa mengalahkan rasa Cinta. Sebuah pengorbanan menjadi bukti bisu sebauh cinta yang begitu kuat.


"Aku tidak akan pernah mengingkari janji," batin Satria.


Baru saja dia melangkah, terdengar suara isak dari Haruna yang berada di dalam kamar. Bukan Satria tidak tahu atau puera-puera tidak mengerti dengan apa yang tengah Haruna rasakan saat ini.


Namun, ada sebuah pengorbanan yang harus di lakukan demi mencapai suatu tujuan dan hal itu harus ditebus oleh rasa sakit yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


"Kamu sudah siap?" tanya Victoria menghampiri Satria yang sudah berada di aula. Wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu telah cantik dengan gaun berwarna toksa yang mencetak tubuh Victoria dengan begitu sempurna.


Walaupun Victoria tidaklah muda, tapi aura kecantikan wanita itu masih saja terpancar. Bahkan dengan senyuman manis saja, bisa menghipnotis kalangan pria yang menatapnya.


Diluar sudah tersedia mobil mewah yang akan membawa mereka, sebelum masuk ke dalam mobil tersebut. Satria menatap ke arah jendela kastil, di mana ada Haruna di sana.


Wajah wanita itu masih terlihat basah oleh lelehan air mata, tapi ada perasaan nyeri di dalam dada Satria. Dia tahu, jika Haruna menyemunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh siapa pun.


"Ayo kita berangkat, nanti terlambat," ajak Victoria. Ketika melihat Satria yang masih berdiri di depan mobil.


Mereka hanya pergi berdua, sebab Profesor Ruden harus berada di kastil dan tidak akan ke mana-mana. Sedangkan Haruna, wanita itu tidak akan pernah sanggup melihat Satria bersanding dengan Alice.


Sedangkan anggota yang lainyya, telah pergi terlebih dahulu ke gereja. Tempat altar pernikahan, menyiapkan segala sesuatunya di sana.


"Ibu begitu bahagia, Sat. Akhirnya kamu bisa meraskaan kebahagiaan, setelah ... banyak luka yang selama ini kamu rasakan."


Satria tidak mngubris, apa yang baru saja Ibunya katakan. Selama di dalam mobil, dia membuang pandangannya ke arah jendela. Menatap pepohonan serta laut lepas yang kadang masih bisa terlihat dari ke jauhan.

__ADS_1


Hidupnya memang di penuhi oleh luka dan penderitaan, kekuatan yang seharusnya tidak pantas dia miliki. Kini bisa membuat hidupnya menjadi lebih, tapi tidak bisa merubah. Siapa dirinya yang sebenarnya.


Seorang Kesatria yang menyemunyikan jadi diri, hanya ingin diakui keberadaannya. Begitulah jalan yang tengah Satria pilih, sekalipun kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki begitu luar biasa.


"Heypersex," gumam Satria.


Heypersex kini telah bisa dia kendalikan, dia tidak akan membuat wanita yang bersentuhan dengannya hamil dengan mudah.


Kecuali, Satria sendirri yang menginginkan hal tersebut dan memilih. Saiapa yang pantas untuk menjadi wadah yang akan menampung anak seorang Dewa.


Hingga tidak terasa, monil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman Gereja. Terlihat bangunan tersebut begitu besar dengan interior klasik kuno.


"Silahkan, Dewa S," sapa seorang lelaki dengan berpakaian putih, seraya membukakan pintu mobil untuk Satria.


"Terimakasih," balas Satria dan segera melangkah.


Satria memasuki gedung tersebut dan terdapat banyaka sekali orang di dalamnya yang seegra bangun dan menatap ke arahnya dengan takjub.


Sorot maat begitu kagum dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di depan mata mereka, sampai tidak mau berkedip. Walaupun hanay untuk sesaat, memuja ketampanan yang di m iliki oleh Satria.


Hingga langkah Satria telah berada di depan altar pernikahan, di mana sudah ada Alice yang tersenyum bahagia dengan balutan gaun pengantin yang senanda dengan yang dia kenakan.


"Apakah kita sudah bisa memulai acaranya?" tanya seroang pendeta dan mendapatkan anggukan dari Satria.


Hari yang begitu indah dengan cahaya matahari yang begitu cerah, mengantarkan Satria dan Alice yang ingin mengucapkan janji suci untuk menjadi pasangan suami-istri.


"Satria Lubis, apakah engkau mau menemani Alice Cooper ketika suka dan duka. Lalu, bersedia menerimanya sebagai istri dan terus bersamanya sampai maut memisahkan?" tanya Pastur tersebut mengucapkan kalimat ujab.


"Saya Satria Lubis bersedia—"


Bom

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada serangan entah dari mana dengan kekuatan yang begitu dahsyatnya, bahakan kilatan cahaya yang mampu membuat semua mata menjadi buta.


__ADS_2