Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 47


__ADS_3

"Hentikan! Dia sudah mati!" perintah Satria kepada Brongsi.


"Masih belum!"


Brongsi masih bersedia dengan kedatangan Dewa Ketua dan benar saja, tubuh yang tadinya hancur kini kembali utuh. Dewa Ketua hidup lagi, tentu saja membuat Satria menggeleng kepalanya. Tidak bisa menerima apa yang terjadi dengan nalar tersebut.


Mereka menyerang Dewa Ketua lagi dan lagi, sampai tubuh tersebut kembali hancur. Namun, beberapa saat kemudian kembali utuh dan hal itu terus berlangsung beberapa waktu lamanya.


Tenaga Satria mulai melemah, ditambah keadaan sekitar yang penuh dengan mayat yang terkapar di atas tanah. Bau anyir darah, menambah kesan tidak nyaman. Entah bagaimana cara Satria untuk bisa menghentikan Dewa Ketua, dirinya mulai kelelahan.


"Berapa nyawa yang kamu miliki?" Satria bertanya dengan nafas yang memburu, dia menatap kearah Dewa Ketua yang seolah tidak mau mati.


"Hahahaha ... kamu tidak bisa membunuhku! Aku adalah Dewa Ketua. Dewa di atas Dewa."


Dengan sombongnya Dewa Ketua menertawakan Satria dan memandang dengan tatapan yang merendahkan. Dia yakin akan menang dalam pertarungan ini, karena terlihat dengan jelas. Fisik tubuh Satria yang merupakan manusia, berbeda dengannya yang seorang Dewa.


Tiba-tiba saja, dari arah bawah melakukan sebuah serangan. Alice memberi perintah pada pasukannya untuk melepaskan anak panah, mereka menyerang Dewa Ketua untuk membantu Satria. Apalagi, pasukan Put telah terbantai habis.


Dunia Albiru yang di dominasi warna biru, kini berubah menjadi kemerahan. Semuanya di akibatkan oleh banyak sekali darah yang tertumpah ke tanah, Satria merasa miris dengan hal itu.


Dia mengumpulkan kekuatan penuh dan di pusatkan energi pada satu titik, Satria melihat jantung Dewa Ketua yang berdetak sama seperti manusia. Serangan yang sebelumnya dilakukan hanya mengenai sisi luar dari tubuh Dewa Ketua, dia yakin dengan menyerang jantung dengan kekuatan yang dimilikinya. Mungkin saja, bisa membuat Dewa Ketua tumbang.


Sat


Sut


Barongsi masih menyerang dengan agresifnya, sesekali dia menghindar anak panah dari arah bawah. Bertarung di atas langit, memiliki keluasan dalam melakukan serangan yang bertubi-tubi.


Satria diam dan memperhatikan, disaat dia melihat sebuah celah. Satria pun langsung maju dan meletakan telapak tangannya di dada Dewa Ketua, cahaya yang berada ditangannya membuncah seketika.

__ADS_1


Teriakan kesakitan dari Dewa Ketua menggelegar, bagaikan petir yang menyambar dan seketika tubuh itu terjatuh ke tanah.


Pasukan yang berada dibawah segera menyambar tubuh Dewa Ketua, Satria dan Brongsi turun perlahan untuk melihat keadaan Dewa Ketua dengan keadaan dada yang berlubang. Disebabkan, serangan yang diberikan oleh Satria barusan.


"Mungkinkah, ajalmu sudah dekat?" tanya Satria dengan tatapan nanar.


Tubuh Dewa Ketua terluka, tetapi tidak mengeluarkan darah sama sekali. Sungguh keadaan yang sulit untuk dijelaskan, bahkan Satria yang berdiri di dekat Dewa Ketua tidak bisa berkata apa-apa.


Keadaan Dewa Ketua melemah, bibirnya bergetar dan matanya masih menatap tajam ke arah Satria. Seolah menyimpan rasa dendam yang begitu amat dalam, Satria bisa merasakan hal itu dengan nyata.


"Kembali 'lah ke alam Neraka."


Satria melakukan serangan terakhir, dia mengerahkan energinya dan kembali fokus kepada dada Dewa Ketua yang telah berlubang. Sekali hentakan saja, tubuh Dewa Ketua menjadi lembek. Seperti bubur, berbeda dengan sebelumnya yang hancur lebur.


"Kali ini, dia benar-benar mati." Alice melangkah mendekati Satria, dia berdiri di samping lelaki itu dengan tenang seraya melihat keadaan Dewa Ketua yang sangat mengenaskan.


Satria hanya menatap sekilas kearah Alice dan kembali menatap ke Dewa Ketua, tidak ada detak jantung atau nafas yang berhembus. Dewa Ketua benar-benar telah tewas, tidak ada yang perlu mereka takuti lagi untuk kedepannya.


"Perang sudah usai," terang Satria dan mendapatkan anggukan dari putranya itu.


Teringat kepada A, Satria melihat sekelilingnya. Dia memiliki H dan Haruna, membuatnya meninggalkan tubuh Dewa Ketua yang sudah tidak bernyawa dan mencari wanita yang dicintainya dan sang putra.


Tubuh H dan Haruna berada tidak berjauhan, karena Haruna melindungi Satria dengan cara mengorbankan dirinya. Tubuh H juga terkapar di dekat Haruna, setelah di bantai oleh Penus.


Satria mengusap tangan Haruna dengan penuh kasih sayang, Alice yang melihat hal itu merasa cemburu. Sorot mata Satria telah mengatakan, perasaan sedih.


"Haruna, kenapa kita bertemu dengan keadaan seperti ini? Apa kamu datang dan pergi begitu cepat?"


Satria bertanya kepada tubuh Haruna yang tidak lagi bernyawa, A duduk di dekat Satria dan ikut menyentuh tangan Haruna. A menatap kesedihan sang ayah, membuatnya ikut bersedih.

__ADS_1


"Apakah Ayah mau A menyembuhkan Tante ini?" Apa yang ditanyakan oleh A, membuat perasaan Satria berdesir. Dia menatap ke arah Alice, seolah meminta pendapat wanita itu.


Alice mengusap kepala A dengan lembut, dia menatap kearah Haruna. Tentu saja Alice mengenal wanita yang ada di hadapan mereka, dia mendesah berat dan meminta A untuk melakukan penyembuhan kepada Haruna.


"Alirkan energimu, A."


Senyum ceria dan wajah polos A, memberikan perasaan tenang didalam hati Alice. A pun mulai mengalirkan energi yang dimilikinya ketujuh Haruna.


Untuk pertama kalinya, Satria melihat kemampuan A. Sebelumnya dia tidak terlalu memperhatikan A, karena fokus kepada Dewa Ketua dan tanpa sadar mengabaikan putranya itu.


Kini tubuh Haruna di penuhi oleh cahaya dari energi A, dengan sepenuh hati bocah laki-laki itu menyembuhkan Haruna.


"Selesai," ujarnya dan meletakan tubuh Haruna yang sempat di bawanya terbang melayang. Mengikuti alur energi yang dialirkan.


Tidak berapa lama, terdengar leluh Haruna. Mata wanita itu berkedip-kedip, menyesuaikan cahaya yang masuk. Hingga, dia bisa melihat dengan jelas wajah Satria yang berada di dekatnya.


Dia langsung memeluk Satria dan diiringi dengan Isak tangis pilu, sebisa mungkin Alice menahan rasa sesak di dalam dadanya. Melihat pemandangan itu, dia memeluk tubuh kecil A. Untuk meredam rasa cemburu yang memucah.


"Maafkan aku, Satria. Maaf."


Hanya kata itu yang terus-menerus diucapkan oleh Haruna, dia tidak bisa memikirkan hal lain yang ada di dalam benak dan hatinya. Hanya meminta maaf kepada Satria, karena dirinya telah membuat kekacauan.


Dengan lemah lembut, Satria mengurai pelukan mereka. Apalagi ditatap oleh semua orang, dia merasa segan dan tidak enak hati. Satria menatap mata Haruna yang berwarna keemasan, dia mengusap lelehan air mata yang terus menetes.


"Perang telah usai, Dewa Ketua telah tiada."


Haruna mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Satria, kemudian menatap ke sekeliling. Mengedarkan matanya yang telah disambut, banyaknya mayat yang terlempar di tanah.


"Apa kamu yakin?" tanyanya dengan ragu.

__ADS_1


Satria mengangguk kecil sebagai jawaban, atas pertanyaan Haruna. Tangan mereka yang masih bertaut, membuat Satria mengalirkan energi yang dimilikinya kepada Haruna.


"Izinkan aku, untuk mendampingimu."


__ADS_2