
Alex juga menatap ke arah Satria, menunggu jawaban dari sang ayah. Dia ingin kedua orangtuanya tinggal bersama dan mereka akan menjadi keluarga yang sangat bahagia.
"Ayah mau 'kan menikahi Ibu?" Dengan mata yang polos, Alex bertanya kepada Satria.
"Maaf, Nak. Untuk saat ini, ada hal yang harus Ayah lakukan," balas Satria dan membuat putranya nampak kecewa, dengan penuh perhatian Satria meminta kepada Alex untuk meninggal ruangannya. Sebab, ada yang dia ingin bicarakan bersama Alice.
Alex tahu, kalau tidak boleh mendengarkan pembicaraan orang dewasa dan segera meninggalkan ruangan itu. Kini tinggal Satria dan Alice berduaan, degup jantung Alice semakin kencang. Ditambah tangan Satria yang menggenggam tangannya.
"Ada yang ingin aku ceritakan, apakah kamu bersedia menjawab pertanyaanku nantinya?" Satria meminta izin kepada Alice terlebih dahulu, setelah mendapat persetujuan. Barulah Satria mulai berbicara, pandangannya lurus kedepan.
"Alice, kamu harus tahu. Kalau Bob dan Sis telah tewas, maka ... kepada siapa aku harus menitipkan dunia Albiru?" tanya Satria. Dia melakukan diplomat kepada Alice, sebab Satria sangat mengetahui kalau wanita itu tidak akan mudah untuk di hasut.
Satria memang belum mengenal Alice lama, serta hanya beberapa kali bertemu dan terlibat masalah. Namun, dia sudah mengetahui dengan jelas sifat dan watak wanita itu. Ketika menyelamatkannya dan malahan menyuruh binatang peliharaannya untuk menyerang dirinya.
"Lalu, apa yang kamu inginkan?" Alice berbalik bertanya, tetapi dengan nada yang dingin.
Kali ini Satria menarik sebuah senyuman yang manis, Alice yang melihatnya luluh seketika dan segera membuang wajah. Takut benar-benar terpesona akan ketampanan yang tiada tara milik Satria.
"Jika aku menikahimu? apakah hal itu akan membuatmu merasa bahagia?"
Alice mengerutkan keningnya, pertanyaan Satria rancau dan tidak terarah. Tetapi dia mencoba untuk tidak perduli dan menjawab dengan jujur.
"Tentu saja, apapun yang kedua orangtuaku inginkan. Merupakan hal yang terbaik."
Apa yang baru saja Alice sampaikan, membuat Satria menatap wajah wanita itu dengan nanar. Tentu saja Alice yang ditatap oleh Satria menjadi salah tingkah, sampai perlahan lelaki itu mendekat dan menyentuh tengkuknya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Satria mencium Alice dengan mesra. Hal yang pertama kalinya dirasakan oleh wanita itu, dia hanya diam tidak berkutik dan membiarkan apa yang Satria lakukan dengan memejamkan kedua matanya.
Menikmati sensasi aneh yang menyeruak bagaikan serbuk bunga yang melakukan fotosintesis, sampai nafas Satria terdengar memburu. Dia menarik pelan tubuh Alice ke atas ranjangnya, lalu mendidih tubuh wanita itu.
Tidak ada penolakan sama sekali dari Alice, membuat Satria bersemangat untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh.
Kemampuan Heypersex milik Satria memang telah dicabut oleh Dewa Tertinggi, namun tidak dengan nafsunya. Lelaki mana yang bisa menolak, kalau ada wanita yang pasrah dan mau dengannya. Apalagi Satria pernah merasakan nikmatnya hal itu, walaupun hanya sesaat.
"Aku belum siap," kata Alice dengan lirih seraya mendorong tubuh Satria dengan perlahan.
Satria mengerutkan keningnya, dia menatap wajah Alice yang telah basah oleh keringat. Kenapa wanita itu menolaknya, setelah permainan yang berjalan di tengah-tengah. Tentu saja hal itu akan menyiksa Satria dengan perlahan, hormon yang naik pesat tetapi tidak disalurkan.
"Apa kamu tidak ingin menikah denganku?"
Alice merasa tidak enak hati, dia berusaha membujuk Satria yang nampak merajuk dengan memeluk tubuh lelaki itu dari samping. Menghirup aroma tubuh Satria yang membuat hatinya merasa menghangat, disertai oleh letupan-letupan perasaan bahagia yang memucah.
"Tadi aku sudah katakan, jika ... mau menikah dengamu. Tapi, kalau kamu ... memintanya sekarang? Maka aku belum siap, setidaknya. Kita menikah terlebih dahulu," jelas Alice.
Satria tersenyum kecil, padahal dirinya yang ingin melakukan diplomat. Tetapi Alice yang mendahuluinya, membuat Satria semakin yakin. Bahwa adanya Alice disisinya sangat menguntungkan, dia akan memiliki seroang penasehat yang cerdas dan juga cermat.
"Baiklah, nanti malam. Aku akan membicarakan hal itu kepada kedua orangtuamu," terang Satria.
Tentu saja Alice merasa senang dan kegirangan, akan sebuah kepastian yang Satria berikan. Dia pun segera menarik tubuh lelaki itu dengan pelan, untuk mengajaknya mandi serta berkeliling di kastil.
Bagaikan kerbau yang dicolok hidungnya, Satria mengikuti apapun yang Alice inginkan. Bahkan pasrah saja, ketika wanita itu memandikannya di tempat pemandian yang berada di area belakang kastil.
__ADS_1
Satria yang memang belum mengenal kastil Profesor Ruden dengan keseluruhan, awalnya nampak syok dengan tempat pemandian itu. Terlebih airnya yang tawar, sedangkan kastil yang berada ditepi laut.
"Aku baru mengetahui tempat ini," kata Satria dengan pelan. Dia menikmati setiap sentuhan yang Alice lakukan di setiap inci pada tubuhnya, nyaman dan membangkitkan agenalirnya.
"Oh ya, jadi ... selama beberapa tahun tinggal di kastil. Kamu mandi di mana?"
Pertanyaan Alice itu, membuat Satria terkekeh geli. Dia menjelaskan, jika dirinya jarang sekali mandi. Apalagi di dunia Albiru, dimana dia hanya akan ke sungai dalam seminggu lamanya. Sedangkan di kastil Profesor Ruden, Satria akan terjun ke laut untuk sekedar membersihkan diri.
Alice yang mendengar cerita Satria agak terkejut, pasalnya dia merasa aneh. Tubuh Satria mengeluarkan aroma wangi dan kulitnya juga nampak putih bersih, walaupun jarang di bersihkan. Hal itu, membuat Alice semakin bersemangat untuk mengosok tubuh Satria, terlebih malam ini lelaki itu akan melamarnya kepada ayah dan ibu.
Setelah melakukan mandi yang panjang dan lama, disertai beberapa kecupan yang di lakukan Satria kepada tubuh Alice dan meninggalkan bercak merah di tubuh wanita itu. Mereka berdua kembali ke dalam ruangan sebelumnya, Alice dengan telaten mengenakan pakaian untuk Satria.
Pelayanan yang dilakukan oleh Alice, membuat Satria merasa nyaman dan diperhatikan. Selama ini, dia tidak pernah diperlakukan seperti itu, bahkan kedua orangtuanya sangat jarang mengajaknya untuk berbicara apalagi bercanda.
Hingga malam harinya, Alice membawa Satria untuk makan malam di sebuah ruangan yang telah dipenuhi oleh para penghuni kastil yang memang tengah berkumpul untuk makan malam.
Alice dengan percaya dirinya mengandeng tangan Satria, dan menatap setiap orang yang sudah berada di meja makan dengan raut wajah yang berseri-seri. Menampakkan kebagian yang hakiki, terlebih ketika pandangannya berhenti pada Haruna.
"Ayo duduk, Sayang," ajak Alice dengan suara yang nayring dan menarik kursi untuk Satria, kemudian mengecup mersa pipi lelaki itu. Seolah sengaja menujukan sebuah kemersaan, untuk memanasi Haruna yang sudah dipastikan melihat semuanya.
"Bagaimana keadaanmu, Dewa S?" tanya Antonius yang duduk di kursi dekat Satria.
"Sudah membaik, Yah," balas Satria. Bahkan dia memanggil ayahnya Alice itu dengan panggilan ayah. Hal itu menarik perhatian yang lain dan menatap ke arah mereka dengan sejuta tanda tanya.
Sampai terdengar suara, sebuah benda yang dipatahkan dan mereka mencari asal suara yang ternyata dari kursi Haruna.
__ADS_1