Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 23


__ADS_3

Namun, beberapa menit kemudian. Antonio menggaruk dahinya, dia melupakan suatu hal yang sangat penting.


Yaitu, alasan apa yang bisa membuat Satria berada di dunia Albiru dan bagaimana caranya. Dia bisa masuk di dunia buatan tersebut.


"Satria! Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Antonio dengan sorot mata yang tajam, seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya.


"Bukan urusan anda!" balas Satria dan terus bergerak. Walaupun tangannya diikatkan, tetapi tidak dengan kaki dan mulutnya.


Antonio yang mendengar jawaban dari Satria menjadi marah, lalu menusuk tubuh Satria dengan pedang tangan ada di tangannya. Padahal, tubuhnya sudah mulai lemah. Namun, belum sempat Antonio melakukan rencanannya. Tubuh lelaki itu tumbang.


Bruk


"Apakah, dia mati disaat seperti ini?"


Satria yang penasaran, menorong tubuh Antonio yang sudah terkapar di tanah. Dia merasa kasihan dengan keadaan lelaki itu, tetapi dia bingung harus melakukan apa.


Karena, tangannya yang terikat. Padahal, Satria bisa melepaskan dirinya. Namun, enggan dilakukan. Sebab, masih ada Jennifer disana.


Hingga, wanita itu kembali datang. Lalu, meneteskan sesuatu ke dalam mulut Antonio. Tiba-tiba saja, pendarahan yang ada di tangan Antonio sembuh dengan seketika.


Lelaki itu, kembali seperti sedia kala. Bahkan, luka yang awalnya menganga tersebut. Kembali merapat, serta darahnya pun berhenti keluar.


"Jangan membuatku susah! Segera bergerak!" perintah Jennifer. Setelah Antonio berdiri kembali dan wanita itu pun berlalu.


Senyum licik di wajah Antonio, membuat Satria merasa. Jika, ada sebuah rencana jahat yang akan lelaki itu lakukan kepadanya.


Ternyata, benar saja. Selang beberapa menit kemudian, Antonio menendang Satria dengan kasarnya.


"Ayo jalan!" perintahnya dengan suara keras.


Satria mau tidak mau, mengikuti apa yang diperintah lelaki itu kepadanya. Dia berjalan dengan perlahan, mengikuti intrupsi dari Antonio.


Entah ke mana mereka akan pergi, Satria hanya bisa menurut dan patuh. Hingga, mereka bertemu dengan Jennifer kembali.


Wanita itu, terlihat bermuka surah. Ah, melihat raut wajahnya yang seperti itu. Dipastikan, sudah terjadi sesuatu.


"Ada apa?" tanya Antonio dengan keringat yang sudah menguncur deras.


Jennifer mengendus kasar, "KIta harus segera bergerak! Biarkan semua anak buahmu! Kita kita memiliki banyak waktu lagi."


Akhirnya, mereka bergerak ke arah timur. Satria yang masih menjadi tawanan, selalu memasang semua indranya. Berjaga-jaga, untuk bagian yang tidak terduga.

__ADS_1


Karena, dunia Albiru sangat berbeda dengan dunia yang mereka tempati. Disana banyak sekali para monster serta raksasa yang hidup. Jangan lupakan, binatang buas yang berbentuk aneh dan bisa saja menyerang mereka dengan tiba-tiba.


Jennifer yang berjalan di depat, berhenti sejenak dan melihat keadaan. Seolah ada sesuatu di hadpan mereka dan Satria juga merasakan hal tersebut.


"Jenny! Apa kita bisa menemukan anak Alice?" Pertanyaan tiba-tiba dari Antonio, membuat Jennifer menatapnya acuh tak acuh.


Keadaan seperti ini, lelaki itu masih memikirkan misinya? Sungguh, tidak biosa dipercaya. Begitu tangapan dari sudut mata Jennifer.


Namun, Antonio yang merupakan pengabdi dan sekaligus penjilat di keluarga Cooper. Tentu saja, sangat mengutamakan misinya. Ketimbang hal lain, yang menurutnya tidak menguntungkan.


Satria yang sudah tidak tahan lagi pun, akhirnya bertanya dnegan nada pelan, "Apakah, Alice benar-benar memiliki anak? Lalu, siapa ayahnya?"


"Jangan ikut bicara atau ... aku akan merobek bibirmu!"


Seringai yang menegrikan dari Antonio, sama sekali tidak membuat hati Satria merasa gentar sdikit pun. Dia menatap Jennifer, seolah pertanyaan yang abru saja di layangkan tersbeut untuk wanita itu.


Namun, sayang. Jennifer hanya diam dan malahan memberi kode untuk diam, hingga terdengar suara deru angin yang sangat kencang.


Syuh


Tidak lama di susul oleh suara hentakan kaki dengan keras, sampai tanah yang mereka pijak bergetar. Mereka bertiga masih diam dan memilih bersemunyi di balik rerumputan yang agak tinggi seraya berjongkok.


"Aku capek!" teriak seseorang dengan menjatuhkan bobot tubuhnya. Seperti, terjadi gempa ringan. Tubuh Satria agak goyah, karena tanganya yang diikat membuatnya kesulitan untuk berpegangan.


"Kita harus mencari ayahmu! Dimembawa telur kita!"


Satria yang mendengar suara tersebut, seolah teringat akan dua wanita Blogger. Sis dan Put, lalu apa yang dibicarakn salah satu dari keduanya pasti tentang Bob.


Itu yang ada di pikiran Satria, hinggga dia ingin melihat dengan jelas dan memastikan. Jika, pirasatnya benar.


"Apa yang kamu lakukan!" Antonio menekan bahu Satria yang ingin bagun dari p[osisi jongkoknya, tentu saja lelaki itu menekannkan setiap kata-kata yang diucapkannya.


Namun, Satria tidak perduli. Dia menyenggol Antonio dengan kuat dan membuat lelaki itu terjatuh seketika, lalu berteriak memanggil nama Put. Berharap, Blogger itu bisa megetahui posisinya.


"Put!"


"Put!"


"Put!"


Satria memanggil nama Put sebanyak tiga kali, seolah kode keras yang pernah diajarkan oleh Blogger itu. Jika, dirinya dalam keadaan terjepit atau bahaya. Harus, berteriak sebanyak tiga kali.

__ADS_1


Bruk


Tubuh Satria terjatuh dengan posisi terbaring ke samping, siapa lagi pelakuknya. Jika, bukan Jennifer. wanita itu menatap ke arah Satria dengan tajam. Seolah siap untuk mengulitnya hidup-hidup.


Antonio yang melihat hal tersbut, terenyum mencomoh. Setidaknya, dia merasa puas akan apa yang dilakukan oleh Jennifer kepada Satria.


Brak


Bruk


Suara langkah kaki Put, walaupun jarak mereka cukup jaih dan tubuhnya yang besar. Namun, pendengaran seorang Blogger sanggat baik. Bahkan, tidak jarang. Mereka menggunakan insting, untuk menentukan sebuah pilihan dan semua itu sudah terlatih sejak masih kecil.


"Blue!"


Put berteriak, mencari suara yang sangat diyakini adalah Satria. Dia terus maju, Jennifer yang merasa. Jika, sekali lagi Satria berteriak. Maka, mereka akan ketahuan. Menyumbal mulut Satria dengan daun-daun kering yang dikumpulkan olehnya.


Kini, Satria tidak mampu berteriak lagi. Karena, mulutnya sudah penuh dengan daun-daun kering tersebut.


Dia mengumpat kesal, atas apa yang dilakukan oleh Jennifer kepadanya. Hal ini, sungguh tidak Manusiawi, pikirnya.


Karena, kesal dan jengkel akan apa yang dilakukan Jennifer. Ditambah, dirinya yang memang harus bertemu dengan Put.


Membuat Satria membaca mantra pemanggil, yang pernah diajarkan oleh Put sebelumnya. Jika, dirinya tersesat dan tidak berdaya. Maka baca mantra tersebut dan Put pun akan datang.


"Put, Put, Put," batin Satria.


"Kamu kentut!" pekik Antonio tanpa sadar. Seraya memegangi hidung, aroma yang tidak sedap. Ketika, dirinya berada di dekat Satria. Membuat lelaki itu, sampai jatuh pingsang.


Begitu pun dengan Jennifer, wanita itu mencium gas beracun yang mematikan dan membuatnya langsung tumbang seketika.


Berbeda dengan Satria, sekarang ia mengerti. Mengapa mantra yang diajarkan oleh Put, jangan dibaca di dalam hati.


"Blue!" pekik Put yang berhasil menemukan Satria dan kedua orang lain yang berada di dekat lelaki itu.


Bukan hanya pendengarannya yang tajam, melainkan pengciuman kaum Blogger juga sangat baik dan tajam.


Dengan mudanya, Put menemukan Satria. Namun, wajah Blogger itu berubah suram dan menatap penuh amarah kearah Satria.


"Kamu selingkuh!"


"Apa!" bantin Satria berteriak.

__ADS_1


__ADS_2