
Lilly merasa cemas akan Key yang tidak kunjung kembali, padahal hari sudah gelap. Satria melihat tingkah Lilly yang mondar-mandir seperti setrika hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah menidurkan Lubis, Satria menemani Lilly di ruangan bawah seraya menunggu kepulangan Key yang katanya pergi berburu.
"Aku ingin menyusulnya!" pekik Lilly dengan gusar. Namun Satria mencekat tangannya dan menggelengkan kepala.
"Ini sudah malam, besok saja kita mencari Key. Sekalian mengajak Lubis berkeliling, dia harus mengenal daerah sekitar dengan baik," jelas Satria.
Mana mungkin Satria membiarkan Lilly keluar malam-malam seperti saat ini, entah bahaya apa yang akan ditemui nantinya.
Terlebih Satria baru di dunia ini, dia juga belum memahami dengan baik makhluk apa saja yang ada. Serta seperti apa tempat-tempat sekitar.
"Aku bisa menjaga diri! Aku bukan Manusia biasa!" jelas Lilly yang masih bersikeras.
Satria menjadi gemas akan sikap Lilly dan memojokkan gadis yang telah menjadi ibu itu sampai membentur dinding.
Tangan Satria diletakkannya di samping Lilly dan menatap wajah gadis itu dengan intens, sampai matanya tertuju pada bibir Lilly yang begitu menggoda.
Warna pink pick yang memabukkan baginya, tanpa meminta izin. Satria menautkan bibir mereka, Lilly terpancing akan sikap Satria itu.
Seakan mendapatkan reaksi positif, Satria membisikan sesuatu tepat di telinga Lilly dan membuat gadis itu meremang.
"Ayo kita selesaikan di kamar," ajak Satria dengan sebuah senyuman penuh kemenangan.
Mereka berdua pun menghabiskan malam yang panjang dengan berbagi kehangatan sampai melupakan Key yang tidak pulang juga.
***
Keesokan paginya matahari menyinari dunia yang masih belum diketahui itu, menyingkap para penghuninya agar segera bangun dari tidur begitu pula dengan Satria.
Lelaki tampan dari keturunan keluarga Lubis itu tengah sibuk menyiapkan sarapan, dia bahkan tidak membangunkan Lilly karena wanita itu begitu kelelahan.
Malam tadi mereka melakukan beberapa ronde sampai pagi, karena tidak bisa tidur kembali serta merasa lapar. Satria memilih untuk turun ke bawah.
Sekarang dirinya mulai memahami rumah yang terbuat dari perpaduan pohon dan juga ruang bawah tanah, sungguh arsetik yang luar biasa.
Satria bahkan begitu mengagumkan bangunan tempatnya tinggal sekarang, adanya daun yang rimbun dari pohon ditambah buahnya yang lebat membuat Satria merasa begitu nyaman disini.
"Apa yang ayah lakukan?" Suara Lubis membuat Satria berbalik badan untuk melihat putranya itu.
__ADS_1
Hingga Satria menyadari satu hal yang terlewat begitu saja malam tadi, setelah menatap Lubis yang kian tubuh membesar.
Ada suatu yang aneh, pertama kali Satria bercinta dengan Lilly langsung menghasilkan anak. Tapi, malam tadi tidak. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kemampuan Heypersexnya hanya akan bereaksi pada perubahan Lilly menjadi siluman ular saja?
"Ayah!"
"Ah, iya." Satria terkejut dengan teriakan Lubis.
"Apa yang Ayah sedang lakukan?" Kembali Lubis mengulangi pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
Satria melambaikan tangan agar putranya mendekat kearahnya, kemudian menghidangkan sebuah danging yang baru saja ia pangang di perapian.
Kepulan asap dari danging begitu mengungah selera, Satria menemukan danging tersebut ditempat penyimpanan.
Walaupun tidak ada listrik ataupun lemari pendingin, tapi ada sebuah wadah yang terbuat dari tanah di mana Key menyimpan bahan makanan agar tetap awat.
"Ayo makan," ajak Satria kepada Lubis.
Bahkan tanpa banyak berbicara putranya langung melahap habis danging yang disorokannya tadi, Satria melihat cara makan Lubis yang nampak tidak biasa.
Putranya tidak menggunakan tangan untuk makan, tapi langung makan dengan mulutnya. Seperti binatang saja, walaupun tubuhnya masih berbentuk Manusia biasa.
"Lubis, kenapa kamu makan dengan mulut? Padahal, kamu bisa menggunkaan tangan?" Satria menengur pelan putranya.
Namun Lubis sama sekali tidak menggubrisnya dan makan dengan cara tersebut sampai dangingnya habis seketika, mata Lubis menuju ke arah potongan danging Satria yang masih utuh.
Tiba-tiba saja Lubis langung merebut danging tersebut dan memakannya, kali ini bahkan membawa danging itu ke lantai.
Satria begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Lubis, haruskan dirinya mengajari etika dan editut kepada sang putra yang memang jelmaan dari siluman ular.
"Apa yang bisa aku lakukan?" gumam Satria pelan.
Setelah selesai makan, Lubis kembali menghampiri Satria yang kini hanya memakan buah-buahan. Lubis yang melihat hal itu pun segera merebut makanan Satria kembali.
Namun beberapa saat kemudian, Lubis memuntahkan buah tersebut dan marah kepada Satria.
"Ini tidak enak! Beri aku makan lagi!" teriaknya
Melihat tindakan dan cara berbicara Lubis yang sekaan memerintahnya membuat Satria merasa geram dan menghardik sang putra.
__ADS_1
"Kamu rakus dan hanya bisa makan saja! Pergi sana! Cari makan sendiri!"
Lubis hanya menatap nyalang kearah Satria, kemudian pergi begitu saja tanpa berbicara sama sekali.
Ada sedikit perasaan bersalah yang menghampiri Satria, tapi ia terlanjut kesal akan sikap rakus Lubis yang tidak tahu diri menurutnya.
Biarlah putaranya itu berburu sendiri dan berfikir bagaimana cara mengisi perutnya tanpa bantuan darinya.
Di saat Satria naik kembali ke atas dan hendak masuk ke kamar, tidak sengaja ia berpasan dengan Lilly yang baru saja keluar.
"Satria, di mana Lubis?" tanya Lilly.
"Keluar!" balas Satria cepat dan menghindari Lilly. Perasaannya masih sedikit kesal dan tidak ingin mengungkit sang putra.
"Keluar? Kenapa kamu tidak mencegahnya? Hal itu berbahaya!" pekik Lilly panik dan menatap tajam ke arah Satria.
Namun Satria mengabaikan Lilly, baginya Lubis bisa menjaga diri. Terlebih putranya yang bisa berubah menjadi siluman ular. Sudah dipastikan tidak ada makhluk yang akan menangkapnya.
"Satria!"
Lilly menahan tangannya, dengan kasar Satria menghempaskan tangan Lilly dan membuat keduanya beradu mulut dengan hebat.
Seperti pasangan suami-isteri yang tengah cikcok dan berujung pada KDRT yang dilakukan oleh Satria yang menampar wajah Lilly dan membuat gadis itu menangis.
"Lilly, maaf," ucap Satria dengan lirih saat meyadari tindakannya yang telah melampaui batas.
Padahal ia telah berjanji kepada Key untuk menjaga Lilly, tapi malahan dirinya yang menyakiti gadis itu hanya gara-gara kesal kepada Lubis.
Satria tanpa sadar melupakannya kepada Lilly dan membuat gadis itu semakin marah serta memundurkan tubuh menghidar.
"Kamu ternyata jahat! Sama seperti Pendeta itu!"
Mendengar Lilly membawa nama Pendeta membuat Satria tertegun dan gusar, mengingat seperti apa cerita yang Key sampaikan sebelumnya.
Di mana Lilly menjadikan sang pendeta itu sebagai camilan, tapi semunya sudah terlambat Satria sadari. Kini Lilly terlah berubah menjadi siluman ular dan ingin menyerangnya.
Tanpa kekuatan Dewa, tidak banyak hal yang bisa ia lakukan kecuali menghindari setiap serangan yang Lilly lakukan.
"Apakah aku harus membunuhnya?" batin Satria.
__ADS_1