Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 55


__ADS_3

"Kenapa seroang Dewa bisa seperti dia?" gumam Haruna geram. Dia menatap wajah Satria yang tertidur dengan damai, wajah tampan itu meluluhkan api panas di dalam hatinya.


Tidak bisa dipungkiri atau di tolak, jika Satria merupakan lelaki yang telah merenggut kesuciannya sebagai seorang Dewi. Tetapi, dosa itu tidak dia sesali lagi. Karena bisa bersama dengan Satria merupakan anugerah yang tiada tara.


Bruk


Tiba-tiba saja, pintu ruangan itu di banting begitu keras. Terlibat wajah memerah dan mata yang melotot, menatap ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan?"


Haruna menjadi salah tinggah, setelah mendapatkan pertanyaan itu. Dia segera turun dari ranjang Satria dengan senyum yang pahit, seperti maling yang ketahuan mencuri.


"Hey, mau ke mana kamu?"


Kali ini Haruna mengendus kesal, dia yang baru saja melangkahkan kakinya. Dibuat berhenti, karena pertanyaan tersebut.


"Aku tidak akan kemana-mana, Alice."


Bagaikan bantang matador, nafas Alice keluar masuk dengan begitu cepat. Dia segera menghampiri Haruna, tetapi Alice melirik ke arah Satria sebentar dan memastikan kalau lelaki itu tengah tertidur dengan pulas. Lalu, menarik tangan Haruna keluar dari ruangan itu. supaya tidak mengaggu waktu istirahat Satria.


Tanpa basa basi lagi, setelah keluar dari ruangan. Alice menghempaskan tangan Haruna dengan kasar, dia belum mengetahui. Jika, wanita yang ada di hadapannya itu telah menajdi Dewi kembali.


"Aku memang mengizinkan kamu untuk tinggal di sini, tapi ... tidak untuk tidur di ranjang Satria!" pekik Alice dengan garang.


Sedangkan Haruna hanya bisa memutar bola matanya malas, jika sebelumnya dia akan takut dengan setiap ancaman yang Alice layangkan. Kali ini tidak, sebab Alice bukan ancaman lagi baginya.


Dia pun memilih untuk menghindari Alice, daripada ribut dan membuat yang lainnya datang. Haruna lebih memilih pergi, tetapi Alice tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Haruna dan semakin marah.


"Haruna, kamu pikir. Dirimu itu, siapa?"


Suara Alice memenuhi lorongan kastil yang memang sunyi, cemburu memang sesuatu yang sangat sulit untuk diredamkan. Sama seperti kebakaran yang sudah menyambar, sangat sulit untuk di padamkan dengan air dengan mudah.

__ADS_1


Haruna menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menatap Alice dengan sorot mata nanar. Haruna tidak suka dengan apa yang baru saja Alice katakan, dengan tangan di pinggang. Haruna memperkenalkan dirinya dengan angkuh.


"Siapa aku? Apa kamu benar-benar ingin tahu?"


"Aku adalah Dewi Haruna, sang pemikat alam Albiru. Tidak ada yang bisa hidup dengan keselarasan, tanpa adanya aku."


"Tapi sayang, ini alam dunia manusia. Bukan Albiru," balas Alice dengan cepat, seraya melipat tangannya di dada. Dia membalas tatapan Haruna dengan mata yang memiliki sorot serius.


Haruna mengendus kesal, dengan jawaban yang dilayangkan oleh Alice. Dia ingin membalas, ucapan wanita itu. Namun, Haruna urungkan. Karena ada A yang datang dengan langkah ceria, dia tidak ingin putranya Satria itu melihat mereka tengah bersitegang.


"Hallo Tante cantik?" sapa A dengan ramah.


"Hallo Alex, kamu ingin menjenguk ayahmu?" tanya Haruna seraya berjongkok, menyesuaikan tingginya dengan A. Bocah laki-laki itu, berhasil mencuri sebagian hatinya sama persis dengan sang ayah.


"Siapa yang kamu panggil, Alex?" tanya Alice dengan nada tidak suka, padahal dia tahu kepada siapa panggilan itu Haruna sematkan.


Namun, Haruna tidak menanggapi apa yang Alice ucapkan dan memilih berpamitan kepada A. Sebelum berlalu, meninggal ibu dan anak itu.


"A!" pekik Alice dengan geram.


Saat ini, bocah laki-laki itu telah masuk kedalam ruangan ayahnya yang dirawat. A memang sesekali mengecek keadaan Satria, seolah perawatan jaga yang mengecek keadaan pasiennya. Hal itu yang dilakukan oleh A.


Sedangkan Alice memilih menyusul purtanya dengan menghentakan kedua kakinya, sebab merasa jengkel tel;ah diabaikan.


Ketika Alice baru saja masuk, dia melihat Satria telah memangku A. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat, terlebih Satria yang tersenyum manis kepadanya.


"Ayah, Ibu tadi bertengkar dengan Tante cantik," adu A tiba-tiba. Membuat Alice melogo dan wajahnya memerah, antara maru dan kesal dengan mulut lemas putranya itu.


"Oh iya, lalu apa yang Tante cantik lakukan?" tanya Satria yang malahan antusias dengan apa yang baru saja diadukan oleh A.


Dengan penuh semangat, bocah itu menjelaskan dan mempraktekkan reka adengan yang dia lihat. Sungguh menggemaskan, pola dan tingkah A sampai Satria tidak kuasa. Lalu mencium wajah putranya itu dengan ganas.

__ADS_1


"Ayah, hentikan!" pekik A yang merasa geli dengan apa yang sang ayah lakukan.


Seolah tidak mendengar penolakan putranya, Satria terus melakukan hal itu sampai ia merasa lelah. Luka di tubuhnya mulai terasa, kalau dirinya terlalu banyak begerak.


Satria sesekali melirik ke arah Alice, dia juga ingin tahu. Apa yang wanita itu inginkan kepadanya, walaupun Satria sudah tahu dari sang ibu.


"Kenapa kamu tidak menyukai Haruna?" tanya Satria yang masih menggoda A yang sudah turun dari pangkuannya tanpa menatap ke arah Alice.


Terdengar suara ******* yang berat dari wanita itu, Satria yang tahu kegundahan Alice tersenyum kecil dan menggeleng kepalanya.


"Haruna memanggil A dengan panggilan Alex, dia terlalu lancang. A adalah anak kita, sedangkan Haruna bukan siapa-siapa," terang Alice. Dia berharap Satria mau membelanya dan menyalahkan Haruna, tetapi harapan Alice hancur seketika. Setelah mendengar jawaban lelaki itu.


"Alex, jadi Haruna memanggil A dengan panggilan itu. Aku suka."


"Ayah benar-benar suka?" tanya A dengan antusias dan mendapatkan anggukan kepala dari Satria sebagai jawaban dari sang ayah.


A pun bersorak dengan gembira, sebenarnya bocah itu sangat menyukai Haruna sejak pertama kali bertemu. Ada sisi lembut dari Haruna yang tidak dimiliki oleh Alice yang terkesan kasar dan bar-bar.


"Jadi, mulai sekarang A akan di panggil Alex," jelas Satria dengan senyum bahagia.


Sedangkan Alice merasa semakin geram, dia mengeratkan genggaman tangannya. Hingga rencana yang sebelumnya kedua orangtuanya membuat Alice memiliki kesempatan untuk dekat dan bersama dengan Satria, dengan percaya diri. Wanita itu mendekati Satria dan duduk di tepi ranjang, seraya mengusap puncak kepala sang putra.


"Dewa Satria, agar A memiliki keluarga yang utuh?"


"Panggil Alex, Bu!" sela sang putra dan membuat Alice mengagguk kecil, berpura-pura baik.


"Iya sayang, agar Alex memiliki ayah dan ibu tang utuh. Ayah harus menikahi, Ibu," jelas Alice dan menatap nanar kearah Satria, menunggu jawaban dari lelaki itu.


Alex juga menatap ke arah Satria, menunggu jawaban dari sang ayah. Dia ingin kedua orangtuanya tinggal bersama dan mereka akan menjadi keluarga yang sanagt bahagia.


"Ayah mau 'kan menikahi Ibu?" Dengan mata yang polos, Alex bertanya kepada Satria.

__ADS_1


__ADS_2