
"Bolehkah, jika aku ... meminta hak malam ini?"
Sontak saja, pertanyaan itu membuat bola mata Satria bagaikan bola lampu pijar yang terang. Dia menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar olehnya, sebab Alice sempat menolak ajakannya tersebut. Sekarang, wanita itu menginginkan hal yang sangat Satria dambakan setelah sekian lama.
"Tentu saja aku akan memberikan kamu kenikmatan yang tiada Tara dan kita akan terbang ke alam nirwana," balas Satria.
Satria melambaikan tangannya, meminta agar Alice mendekat dan naik ke atas ranjang. Satria mulai melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang lelaki yang perkasa, membuat Alice merasa nyaman berada di atas ranjangnya. Mereka melewati malam yang begitu panjang, dengan penuh kehangataan dan harapan di dalam benak Alice. Jika, bisa mengingat Satria dalam hubungan yang begitu istimewa.
***
Pagi yang begitu cerah dengan sinar matahari yang memberikan kehangatan, membuat Haruna menatap dunia yang berbeda dengannya begitu penuh akan penghayatan, dirinya memang telah menjadi Dewi. Namun, dia belum merasa puas akan hal itu. Hingga, lamunan Haruna di buyarkan oleh suara lelaki yang memanggilnya.
__ADS_1
"Apakah kamu merasa risih berada di sini?"
Haruna tidak membalikan tubuhnya, dia masih duduk dengan nyaman di sebuah kursi yang terletah di samping jendela dan menghadap ke arah laut yang begitu indah.
Dia menghirup aroma teh hangat yang berada di cangkirnya, menikmati pagi yang begitu akan dirindukannya nanti. Ketika, kembali ke dunia Albiru. Sebab, Haruna akan meninggalkan dunia para Manusia dan menetap di dunia Albiru untuk selamanya.
"Kenapa hanya diam?"
Kembali suara lelaki itu bertanya, kali ini. Haruna hanya menatap sekilas Profesor Ruden yang kini duduk di depannya. Tatapan lelaki itu penuh akan tanda tanya, bahkan Haruna bisa merasakan Profesor Ruden yang ingin banyak mengetahui tentang dirinya.
Haruna memberikan jawaban yang membuat lelaki dihadapannya hanya bisa tersenyum manis, membuat dirinya merasa tidak nyaman dengan senyuman penuh kepalsuan itu.
__ADS_1
"Dimana anda harus berada Nona cantik? Jika, bukan di samping Dewa S, bukan?"
Senyuman yang awalnya memuakan itu, berubah menjadi sebuah tanda yang penuh akan maksud yang tersemunyi.
Siapa yang tahan menolak pesona seorang Dewi Haruna, bukan hanya cantik dengan kulit yang putih seperti salju. Matanya yang berwarna emas dan membuat semua lelaki seperti tersihir. Begitu juga dengan Profesor Ruden, dia merasa sangat senang. Kalau Haruna tinggal lebih lama di kastilnya, bahkan akan melayani Dewi itu dengan begitu baiknya.
Namun sayang, Haruna tidak menanggapi apa yang Profesor Ruden kataakan dan memilih untuk bangun dari posisi duduknya, kemudian berlalu begitu saja. Tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada lelkai itu.
Apa yang dilakukan oleh Haruna, membuat Profesor Ruden semakin berambisi untuk mendekati Haruna. Walaupun dia tahu, jika Dewi itu milik Satria. Namun, seolah tidak peduli. Dipikirkan Profesor Ruden hanya di penuhi oleh Haruna.
Entah apa maksud Profesro Ruden mendekati Dewi Hatunay, tetapi hal itu sudah diketahui oleh wanita itu. Membuatnya memilih untuk menjaga jarak dengan lelaki paru baya itu.
__ADS_1
Siapa yang mau dengan kakek-kakek, seperti Profesor Ruden? Jika, lelaki itu tidak memiliki kedudukan apapun di kastil dan anggota keluarga Cooper. Dia bukan siapa-siapa dan tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Dewi Haruna.
"Tunggu tanggal mainnya," batin Pofesor Ruden seraya menatap punggung Dewi Haruna yang telah berjalan menjauh tanpa berkedip sedikit pun.