Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Cheper 6


__ADS_3

Put yakin, jika Satria tidak akan melakukan hal buruk. Karena, mata birunya yang menyiratkan sesuatu tentang dunia Albiru.


"Apa kamu bisa berjalan kembali?" tanya Put dan mendapatkan anggukan kecil dari Satria.


"Maafkan apa yang kedua orang tuaku katakan, ya? Mereka begitu, karena ... ."


Put tidak bisa melanjutkan ucapannya, ingatan di masa kelam. Bagaikan mimpi buruk untuk seluruh keluarga Blogger. Mereka yang bisa selamat, hanya karena meminum ramuan khusu pengecil dan bersembunyi. Hingga, perang tersebut selesai.


"Kenapa? Apakah, ada manusia lain di sini?" tanya Satria penasaran. Setidaknya dia bisa tetap waras, jika bertemu dengan makhluk yang sama dengannya.


"Kenapa? Apakah, kamu merasa kesepian?" Put malah berbalik bertanya dan membuat Satria tersenyum manis. Hal itu, membuat wajah Blogger tersebut memerah seketika.


Satria yang melihat perubahan warna di wajah Put pun menjadi takut dan bertanya, " kamu kenapa? Apa aku menyakitimu?"


Satria merasa cemas, kembali mendekati Put dan memegangi tangan Blogger yang besar itu yang hampir sama besarnya dengan pondasi rumah.


"Aku ... zing," ujarnya dengan menutupi wajahnya.


"Apa itu, zing?" tanya Satria penasaran.


Namun, Put tidak menjawab dan malahan berlari menjauh. Satria di buat bingung, dan menatap makhluk besar tersebut yang meninggalkan sendirian.


Satria mencoba memperhatikan keadaan sekitarnya lagi, dia bisa menyimpulkan. Jika, benar-benar berada di tempat yang berbeda dengan dunianya.


Transmigrasi yang terjadi dengan pelataran lemari, telah membuatnya terjebak dalam dunia yang aneh. Satria melihat sebuah buah yang berukuran sebesar mobil. Terletak begitu saja di atas tanah, warnanya merah pekat.


Karena, penasaran. Satria pun mendekati buah tersebut, jika ada Put. maka, ukuran buah itu sama dengan telapak tangan Blogger tersebut.


"Apakah, ini bisa di makan?" gumam Satria penasaran. Lalu mengambil sebuah ranting yang seukuran kakinya, dan menusuk ke arah buah tersebut.


Bruss


Tiba-tiba saja, keluar cairan menyengat dan lengket. Bahkan, mengenai tubuhnya, Satria mengusap wajahnya yang terciprat cairan tersebut.


"Apa ini!" pekik Satria dan tidak lama kemudian Put kembali.


Tubuh Blogger itu sangat besar, sekali dia melangkah. Maka Satria kaan tahu, karena tanah yang dipijak akan bergetar.


"Apa yang kamu lakukan dengan itu?" tanya Put penasara, terlebih melihat wajah dan tubuh Satria yang sudah di penuhi cairan buah tersebut.


"Aku lapar, apakah ini bisa dimakan?" tanya Satria dengan polos.

__ADS_1


"Hahahaha ... kamu ini!"


Put malahan tertawa dan mengejek Satria, lalu menunjuk ke buah Harum yang merupakan makanan untuk para cacing tanah.


Satria menjadi kesal, dan merajuk. Ditambah kakinya yang terasa berdenyut sakit. Keadaanya belum sembuh, di tambah kelaparan. Dia bisa mati secara perlahan.


"Aku tidak tahu! Aku hanya lapar!" balas Satria dengan wajah cemberut.


"Hey, Blue. Jangan marah, aku bisa bantu carikan makan yang enak," terang Put dan meletakan telapak tangannya. Berharap, Satria mau naik.


"kamu tidak ingin mengerjai ku, bukan?" tanya Satria ingin memastikan.


"Tidak blue," jawab Put dengan bersungguh-sungguh.


Satria tersenyum kecut, setelah menyadari panggilan yang Put sematkan kepadanya. Namun, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Terpenting, dia bisa makan dan bertahan hidup untuk saat ini. Lalu, mencari jalan keluar.


Satria naik ke atas telapak tangan Put dan Blogger itu pun mulai berjalan, entah kemana. Satria tidak tahu. Akan tetapi, di dalam benak Satria. Dia terus mengingat-ingat kejadian yang baru dialami.


Terakhir kalinya, dia masuk ke dalam lemari dan terhisap. Lalu, terpental begitu saja. Jatuh ke tanah dan Satria memikirkan, bagaimana dia bisa kembali.


"Blue, ini buah Tetum. Kamu bisa memakannya," terang Put dan menyerahkan buah yang berbentuk seperti terong dengan warna biru.


"Kenapa?" tanya Put heran.


"Aku tidak bisa menggigitnya, Put! Mulutku kecil! Dan, buah ini. Besar!" terang Satria.


Put baru menyadari hal itu dan menghancurkan buah Tetum, lalu memberikannya ke pada Satria yang sudah diletakannya ke atas tanah.


Put memerphatikan Satria yang mulai memakan buah Tetum, dia sampai merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Agar bisa, memperhatikan mata Satria.


"kamu tidak makan?" tanya Satria yang sebenarnya, merasa risih dengan tatapan Put yang nagat mengintimidasi dirinya.


Put hanya menggelengkan kepalnya cepat, dia menjadikan tanganya sebagai sandaran dan menatap kearah Satria.


Seolah, seperti majikan yang memeprhatikan binatang peliharanya yang tengah makan. Satria benar-benar, merasa tidak nyaman. Hingga, tersedak.


"Uhuk, tolong! Air!" teriak Satria seraya memukul dadanya yang terasa sesak.


Put yang melihat keadaan satria, seegra mengeluarkan botol minumannya dan meletakan air yangada di dalam benda tersebut di atas daun. Agar Satria bisa minum.


"Aaahhh ... terimakasih," kata Satria yang merasa lega dan melanjutkan makannya. Dia sangat menikmati, buah Tetum yang rasanya sangat manis dan ukurannya sang sangat besar. Mungkin akan memerlukan beebrapa waktu untuk menghabiskan.

__ADS_1


Di saat Satria dan Put tengah asik berdua, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan. Put yang menyadari akan adanya bahaya besar, segera meraih tubuh kecil Satria dan berlari menjauh.


Tubuh Satria terombang-ambing di tangan Put yang besar, dia merasa buah Tetum yang baru saja dimakan akan keluar.


"Ueek."


Benar nyatanya, Satria muntah. Bagikan naik kereta ekspres, Satria mengamai mabuk perjalanan. Namun, ketika matanya menatap sesautu yang janggal. Dia mempertajam penglihatanya tersbeut. Memastikan, jika ia tidak sedang berhalusinasi.


"Alice!" pekik Satria.


Dia melihat Alice uyang tengah berada di atas Blugon yang hampir membunuhnya dan terus bergerak dengan cepat. Berkali-kali Satria mengucek matanya, meyakinkan. Jika, apa yang dilihatnya tidak salah.


Hingga, Put berhenti di sebuah pohon besar dan bersemunyi. Lalu, menyuruh Satria untu duduk di dahan besar pohon tersebut.


"Jangan berisik," pinta Put dan Satria mengagguk kecil, tanda paham.


Duar


Kembali terdengar, suara ledakan yang keras. Bhakan, tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Satria memeprhatikan keadaan sekitar dan melihat sebuah benda yang ukurannya sebesar kastil. Namun, bisa bergerak.


Tentu saja, itu merupakan hal yang aneh menurutnya. Akan tetapi, ketika Put berbicara. Satria baru mengetahui sebuah fakta yang snaagt mengejutkan.


"Mereka, pemburu di sini! Kamu jangan pernah sampai tertangkap!"


Satria tidak percaya dengan begitu saja apa yang Put katakan, dia hanya memilih diam. Sampai keadaan kembali tenang dan benda tersebut telah berjalan menjauh.


Put kembali membawa Satria pulang ke rumah, banyak hal yang sudah Satria temukan dan mulai diperlajarinya.


Jika, Alice bisa ke dunia ini. Maka, dia bisa kembali pulang. Bahkan, Satria telah merancangkan sesuatu. Untuk bisa mengikuti Alice tanpa ketahuan, dan menemukan cara kembali.


Namun, ada hal yang masih menganggu pikirannya. Yaitu, Put. Kata zing yang Blogger itu katakan. Masih belum dia ketahui artinya.


"Kalian baru kembali?" tanya Sis. Katika, Put dan Satria baru kembali.


"Iya, Ma," jawab Put dengan nada pelan.


"Jangan peranh keluar lagi! Para pemburu kembali!" perintah Bob.


Sedangkan Satria mematung seketika, jika Put tidak boleh keluar. Bgaiaman, dia bisa menjalakan rencana yang baru saja muncul dalam otaknya.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Satria.

__ADS_1


__ADS_2