
"Prof!" teriak Satria. Dia segera menghampiri lelaki itu dengan secepat kilat, tubuh Profesor Ruden telah penuh akan darah.
"Penus," kata Profesor Ruden dengan suara yang pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Satria. Tangan lelaki itu mengarak ke sisi timur, Satria pun mengikutinya dan melihat sang ayah yang tengah diobati oleh A. Terlihat banyak luka yang Penus dapatkan, pertanda kalau ayahnya ikut berperang juga.
"Ayah, aku akan membuatmu menjadi Dewa!"
Dengan perlahan, Satria mendekati Penus dan menepuk pelan bahu sang ayah yang nampak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Sebab, semua orang telah menyatakan kalau Satria telah tewas terbunuh.
"Satria, kamu baik-baik saja?" tanya Penus dengan perasaan haru, dan memeluk Satria dengan erat.
"Izinkan aku untuk memberikan kekuatan Dewa yang kumiliki kepada Ayah." Satria meminta izin, atau lebih tepatnya meminta persetujuan sang ayah. Agar bisa melakukan transaksi, dimana Satria memberi dan nanti meminta. Begitu cara kejra menjadi Dewa yang Penus. Tiba-tiba saja ada sebuah serangan yang datang secara penuh, kali ini bisa Satria tangkis dengan mudah.
"Akhirnya kamu kembali." Serangan yang baru saja diterima oleh Satria, ternyata dilakukan oleh Dewa Ketua yang memang menunggu kedatangannya kembali.
Dengan penuh kepercayaan diri, Dewa Ketua mendekati Satria. Dia telah meminta kekuatan yang lebih dari Dewa Roh dan meminta, supaya Satria tidak bisa membunuhnya. Jika bukan seorang Dewa, maka tidak ada yang bisa membunuhnya.
Namun sayang, hal itu sudah diketahui oleh Satria. Setelah menatap ke arah Dewa Ketua, pandangan Satria ditujukan kepada sang ayah yang terlihat gusar.
"Mungkin, aku tidak bisa membunuhmu. Tapi ... Dewa Penus bisa." Satria mengucapkan hal itu dengan tenang dan menyentuh tubuh ayahnya, lalu mengalirkan energi yang dimiliki kepada lelaki itu untuk menjadi Dewa.
Dewa Ketua ingin menggagalkan rencana Satria, dia langsung menyerang dengan kekuatan penuh. Tetapi semuanya telah terlambat, Satria yang telah mengetahui niatnya memasang perisai pelindung dan melakukan tugasnya dengan baik.
Tubuh Penus dipenuhi oleh energi dan cahaya dari Satria, dia bisa merasakan kekuatan yang sangat luar biasa di dalam tubuhnya. Lelaki itu tidak bisa berkata apa-apa, disaat Satria telah menyelesaikan transfer energi.
Kini Penus telah memiliki kekuatan seperti Dewa, Satria pun melepaskan perisainya dan tersenyum kearah Dewa Ketua. Lalu membiarkan sang ayah yang akan bertarung, sedangkan dirinya akan menonton dari kejauhan.
"Jangan kecewakan aku, Yah." Sebelum menjauh, Satria sempatkan diri untuk menepuk pelan bahu ayahnya.
__ADS_1
Penus hanya bisa melongo, nyawanya masih belum kembali utuh. Tiba-tiba saja Dewa Ketua menyerangnya tanpa memberikan jeda sama sekali.
"Aku tidak perduli, siapa yang akan melawanku. Entah sekalipun Dewa dari langit atau bumi." Dewa Ketua amat kesal dan terus melakukan penyerangan kepada Penus, tetapi hanya di ditangkis dengan mudah oleh lelaki itu.
"Ayo, lawan kau!" bentak Dewa Ketua.
"Lawan dia, Yah!" teriak Satria.
Penus menatap kearah Satria sekejap dan dia melihat putranya menganggukkan kepala kecil, membuat Penus meregangkan otot-ototnya dan menatap tajam kearah Dewa Ketua. Seolah Penus tengah bersiap-siap.
Dewa Ketua yang melihat gaya Penus merasa jijik, dia meludah ke samping dan membalas tatapan tajam Penus dengan sorot mata merendahkan.
Sat
Set
Serangan demi serangan terjadi dengan begitu cepat, seking cepatnya sangat sulit untuk melihat pergerakan mereka. Seperti kilatan petir yang menyambar, bahkan mata manusia biasa merasa sakit. Ketika melihat serangan demi serangan yang Dewa Ketua lakukan dengan Penus.
"Dewa P," jelas Satria dengan singkat.
Jennifer hanya tersenyum kecil dan memilih berbalik badan, dia harus mengumpulkan kembali pasukannya. Karena mereka sepetinya tidak diperlukan lagi dan memilih untuk mundur, serta menunggu introspeksi terbaru.
Ketika Jennifer menjauh, kini Victoria yang mendekati Satria. Wanita itu sampai menyentuh bahu Satria dengan pelan, keadaanya sudah lebih membaik daripada sebelumnya. Setelah diobati oleh A, dia merasa harus menjelaskan apa yang terjadi.
"Sat, Ibu minta maaf. Mungkin, Ibu tidak baik dan terkesan egois. Tapi ... Ibu hanya ingin kembali hidup di dunia Albiru, sedangkan Dewa Ketua tidak menerima manusia biasa di sini."
Satria menggenggam tangan ibunya yang terlihat sedih, dunia Albiru sangat indah dan memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Satria juga merasa sangat nyaman tinggal di sini, bahkan memang sulit untuk menghap[us atau meninggalakn dunia yang didominasi warna biru itu.
__ADS_1
"Doa kan ayah, agar menang melawan Dewa Ketua. Lalu, Ibu bisa tinggal disini untuk selamanya," jelas satria dengan nada serius. Matanya masih menatap nanar pertarungan yang masih berlangsung, belum ada yang terlihat lelah di antara keduanya.
Tiba-tiba saja, Victoria memeluk Satria dari arah samping. Hal itu membuatnya agak tersentak, tetapi tidak melakukan penolakan yang dilakukan oleh sang ibu. Satria hanya diam sampai Victoria melepaskan pekukannya dan memilih berllau. Meninggalkan Satria, wanita itu pergi mengikuti yang lainnya.
Perang antar Dewa sudah beberapa kali terjadi, durasai waktu yang diperlukan yang cukup lama untuk mengakhiri pertarungan tersebut. Kekuatan para Dewa sangat besar dan tidak bisa diprediksi, bagi mereka yang tidak ada kaitan dengan perang itu memilih untuk menjauh, menghindari serangan yang mungkin saja terkena diri mereka.
"Menyerahlah!"
"Tidak akan!"
Teriakan demi teriakan dilakukan oleh Dewa Ketua dan Penus, kekuatan yang hampir sama. Membuat keduanya merasa kawalahan, belum ada yang mau mengalah ataupun bisa menang dengan mudah.
Sampai Dewa Ketua mengeluarkan energi aneh, terlihat dengan jelas ada cahaya yang snaagt terang muncul dari sebelah tangan kanannya.
Satria yang masih memperhatikan hal itu, segera menyadari. Jika itu merupakan serangan energi yang bisa meledak, dengan kecepatan tinggi. Dia menarik tubuh ayahnya untuk menghindari serangan mematikan yang akan dilakukan oleh Dewa Ketua.
"Aaaa!"
Suara teriakan penuh akan rasa sakit, terdengar pilu ditelinga Satria dan Penus. Mereka melihat energi yang tidak terkendali dari dalam tubh Dewa ketua, entah perjanjian apa yang telah dilakukan oleh Dewa Ketua sebelumnya. Namun, ada harga yang memang harus dibayar.
"Aku belum kalah!" teriak Dewa Ketua dengan nyaring. Tubuhnya berubah secara perlahan, dia menjadi seekor monster yang sangat besar dan memiliki sayap besar serta lebar.
Tentu saja, hal itu membuat Satria dan Penus harus bersiap sedia dengan bagian terburuknya yang mungkin saja akan mengorbankan salah-satu dari mereka berdua.
"Hahaha ... kalian harus takut! Aku lah Dewa Ketua yang abadi dan tidak akan pernah mati."
Dengan percaya dirinya Dewa Ketua mengatakan hal itu, kini perubahannya telah sempurna. Kekuatan tanpa batas yang diminta olehnya telah dikabulkan.
__ADS_1
"Ayo kita serang bersama-sama," ajak Penus dengan tatapa masih lurus ke depan.
Namun, Satria hanya diam. Ini merupakan keadaan yang tidak menguntungkan baginya dan bisa membahayakan, karena Dewa Ketua yang telah berubah menjadi seekor monster.