
Ternyata, selama Satria pergi Victoria telah menggunakan Lubis untuk membantu menjalakan rencananya.
Kemampuan Lubis yang bisa berubah menjadi ular membuatnya dengan mudah menyusup ke area musuh tanpa diketahui.
Namun, Satria tidak bisa memafkan tindakan sang ibu yang terkesan memanfaatkan Lubis. Sedangkan Victoria sama sekali tidak meminta izin padanya.
"Ibu memberi Lubis sebuah misi?" tanya Satria tidak percaya.
Victoria hanya mengagguk kecil dan menampakan wajah yang tidak bersalah sama sekali, hal itu membuat Satria semakin geram dan membuang nafas kasar.
Victoria mengusap puncak kepala Lubis dengan penuh perhatian dan membuat Lubis semakin menyayangi Victoria. Satria bisa melihatnya dengan begitu jelas.
"Kita menunggu Dewa S berbicara, setelah itu ... baru kita akan menjalankan misi lagi," jelas Victoria kepada Lubis dan meminta bocah itu untuk masuk ke rumah terlebih dahulu. Sebab, Victoria harus berurusan dengan Satria serta menyampaikan informasi yang telah dikumpulkan olehnya selama beberapa hari.
Jennifer dan Alice pun mulai mengajukan beberapa siasat untuk menaklukan para Hunter, mereka juga memiliki rencana cadangan. Seandainya rencana pertama tidak berhasil.
Satria menjadi garda terdepan untuk menyerang para Hunter, seperti itulah permintaan Victoria. Sebab, tubuh Satria yang telah menjadi Blogger amat menarik perhatian para Hunter nantinya.
Kemudian Alice menjadi pengalih perhatian dan masuk ke dalam untuk menyerang ketua Hunter, sedangkan Victoria sendiri 'lah yang akan menghancurkan portal.
Jennifer yang merasa tidak dianggap merasa sedirit sedih, tapi setelah mendengar penjelasan Alice. Bahwa dirinya harus berada di area aman dan membantu para prajurit yang terluka.
"Kapan kita akan memulainya?" tanya Satria tidak sabar lagi ingin menghajar para Hunter yang terlah berani membuat onar.
"Malam ini, sebab ... dari informasi yang Lubis katakan. Ketuka Hunter akan melakukan suatu ritual dan membuat pasukan mereka terpecah menjadi dua," jelas Victoria serius. Bahkan, hal ini yang merupakan alasan terbesarnya untuk kembali kediaman Cooper.
Victoria tidak bisa menyerang begitu saja, tanpa adanya bantuan dan rencana yang matang. Terlebih Victoria sangat kenal betul dengan Alice yang memiliki sebuah kemampuan untuk menyerang yang luar biasa.
"Sebuah ritual?" gumam Satria seraya mengusap dagunya berfikir.
Alice pun menjelaskan sesuatu yang ia ketahui tentang agenda para Hunter, setelah berperang atau adanya Hunter yang tumbang. Maka, mereka akan mengadakan sebuah ritual seperti persembahan atau belasungkawa.
Alice juga menambahkan, selama ritual ketua Hunter harus tetap fokus dengan ritual dan konsentrasinya tidak boleh pecah smaa sekali. kalau tidak? Maka, akan terjadi sebuah bencana besar.
__ADS_1
Satria masih belum mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Alice, sampai Jennifer menjelaskan dengan singkat dan padat.
"Intinya, kita datang dan gagalkan ritual Ketua Hunter. Banyak rumor yang mengatakan, kalau para Hunter mendapatkan kemampuan mistis setelah melakukan ritual tersebut."
Bagai mendapatkan angin segar, Satria begitu bersemangat untuk menyerang para Hunter dan mengembalikan perdamaian dunia.
Mereka pun mulai mempersiapkan segala keperluan untuk penyerangan malam ini, Satria meminta beebrapa prajurit untuk berada di bagian belakang dan mengawasi pergerakan Hunter.
Satria memiliki cara berperang seperti Blogger sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Bob dan Put, teringat akan Put membuat hati Satria menjadi lemah.
Mengapa Put pergi, setelah banyak hal yang mereka lewati. Setidaknya Put harus tetap bersama dengannya sampai perang ini usai.
"Put," batin Satria teringat Put.
***
Malam harinya, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Satria beragkat lebih dulu dan Alice serta Victoria mengambil jalan yang berbeda dengan Satria. Tentu saja dengan tugas masing-masing.
Tidak memerlukan waktu laam dengan kakinya yang mampu melangkah jauh, Satria telah sampai di tempat yang dituju.
Satria melihat keadaan sekitar yang nampak remang-remang, sebab para Hunter tidak ingin menggunakan penerangan.
"Tuan S, apakah Anda yakin ... kalau akan maju sendirian?" tanya seorang prajurit kepada Satria.
"Ikuti arahan dan selalu waspada, aku maju dan kalian berada di belakangku sebagai cadangan. Kalau aku mengalami kekalahan," jelas Satria dengan sosot mata yang mencoba mencari celah untuk masuk ke markas musuh.
Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Victoria sebelumnya, bahwa keadaan tempat itu sulit untuk di amati dari jarak jauh.
Satria mencoba maju dengan perlahan dan melumpuhkan beberapa Hunter yang berjaga di beberapa titik tertentu, semuanya ia lakukan seperti rencana mereka.
Untuk bisa masuk ke dalam markas para Hunter yang ternyata sebuah goa yang dulunya tidak terpakai, Satria harus pintar-pintar membaca situasi serta memepertajam indra–nya. Sebab, entah apa yang mungkin saja terjadi.
Satria memberi syarat kepada beberapa prajurit yang ikut dengannya, dengan hati-hati Satria meletakan prajurit itu di atas goa agar mudah memantau keadan sekitar.
__ADS_1
"Kalian bisa melihat lebih jelas dari sini 'kan?" tanya Satria ingin memastikan dan mendapatkan anggukan kepala.
Setalah itu, Satria mulai melakukan kegaduhan di depan goa dengan menyerang beberapa orang yang berjaga di sana.
Sat.
Set.
Seranga yang Satria lakukan begitu cepat dan membuat para Hunter itu tumbang dengan sekali pukulan saja, sampai suara teriakan Hunter yang lainnya menjadi seperti alaram bahaya.
Satria terus menyerang Hunter yang datang, Satria melihat Hunter-Hunter itu keluar dari goa dan terus meneyrangnya.
Dengan gerakan gesik Satria menghindari setiap serang Hunter, kemudian mengarahkan tombaknya ke tubuh Hunter satu per–satu.
Terlalu banya Hunter yang keluar membuat Satria merasa kuwalahan, sampai hampir saja tumbang. Nasib baik para prajurit menyerlamatnya dari serangan dengan menembakkan anak panah dan mengenai para Hunter.
Kesempatan ini tidak Satria sia-siakan, ia terus menyerang tanpa mengenal ampun. Hanya sebentar jeda yang Satria lakukan, setelahnya hanya terdengar suara teriakan dari para Hunter yang tumbang.
"Aaaa ... ."
Satria menghunsukan tombaknya kebagian vital para Hunter dan menyebabkan banyak yang terluka, tanpa mengenal kata menyerah. Satria terus menyerang, sampai sebuah serangan miliknya mampu di hentikan oleh seoranhg Hunter yang baru saja datang.
"Apakah Ayah sudah bosan hidup?"
Tubuh Satria membeku ditempat, ketika melihat sorot mata itu. Sebuah kebencian dan rasa dendam ingin melenyapkan orang lain membuat Satria mengambil langkah mundur.
"Kamu?" ucap Satria dengan pelan. Untuk pertama kalinya ia merasa ketakutan seperti sekarang, bahkan sulit untuk berkata-kata.
"Iya, ini aku. Kenapa?" balas Hunter itu cepat dengan raut wajah tidak bersahabat.
Satria hanya mampu diam seribu bahasa, ternyata pertemuan yang tidak sengaja ini mendatangkan sebuah ingatan yang seharusnya telah dihapuskan.
"Ini tidak mungkin!" pekik Satria diiringi dengan isak tangis, kenapa dirinya begitu lemah? Ada apa sebenarnya?
__ADS_1