
"Maafkan aku," ucap Satria dengan lirih dan mengangkat tubuh yang kini telah lemah tidak berdaya.
Ternyata serangan Satria sebelumnya telah mengenai Put, entah bagaimana caranya. Satria tidak mampu berkata-kata, ditambah keadaan Put yang terikat dan terdapat banyak sekali luka akibat ulahnya.
Satria merasa heran, kenapa Put tidak melawan atau berteriak sejak awal. Sampai Satria baru menyadari, kalau semua ini merupakan sebuah jebakan.
"Aku tidak apa-apa, tolong ... bawa aku keluar dari sini," pinta Put dengan suara yang lemah.
Satria segera mengangkat tubuh Put dan membawanya keluar dari goa tersebut, setelah itu Satria mengobati bekas luka yang ada di tubuh Put dengan ramuan dari daun-daun yang ia kumpulkan.
Untung saja, serangan Satria tidak mengenai organ vital Put. Sehingga, masih ada kesempatan untuk menyelamatkan nyawa Put.
"Kenapa kamu hanya diam saja tadi?" tanya Satria penasaran.
Dengan keadaan yang terluka dan meraksan rasa sakit yang amat, Put mulai menjelaskan semuanya. Awal dari Key dan Lilly yang telah berubah menjadi Blogger, lalu membiusnya.
Put yang bersemunyi di balik semak tidak sengaja melihat Key dan Lilly yang hendak kabur dari pintu belakang, setelah Satria masuk ke gubuk.
Disaat itulah, Key menyerang Put menggunakan cairan bius dan membuat Put merasa begitu pusing. Sebelum pingsan, Put sempat memanggil nama Satria dan meminta tolong. Setelah itu, kesadaran Put benar-benar hilang.
Namun, di saat Put mulai membuka matanya karena merasakan rasa perih di sekujur tubunya. Put yang tidak bisa melihat dalam keadaan gelap hanya bisa memanggil nama Satria lagi, kemudian ada cahaya yang menyinari keadaan di sekitar dan membuat Put melihat Satria.
"Begitu ceritanya," terang Put kemudian.
Satria hanya diam setelah mendengar cerita panjang dan lebar dari Put, tapi hanya satu hal yang pasti. Kalau Put tidak mengetahui, bahwa dirinya lah yang telah menyerang Put.
Setidaknya, saat ini Satria bisa berpura-pura telah menyelamatkan Put dan menganggap bahwa Put terluka karena kembar terkutuk itu.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja. Luka ini tidak terlalu parah," jelas Satria memulai dramanya.
Put tersenyum lebar dan menarik tubuh Satria agar jatuh kepelukannya, Put ingin mengulang kembali rasa yang begitu menakjubkan itu.
__ADS_1
Namun, Satria menolak dengan lemut ajakan Put. Bagi Satria, pantang mengambil barang bekas. Bahkan, Satria merasa jijik dengan tubuh Put yang telah dicicipi oleh Ruu.
Andaikan saja, Satria tidak memerlukan kemampuan Put. Mungkin ia tidak akan mau bertemu dengan Put selamanya.
"Ada apa?" tanya Put dengan raut wajah yang terlihat kecewa.
Satria berusaha menutupi perasaannya dengan memasang wajah yang terlihat tidak berdosa, ia menujuk bagian tubuh Put yang terluka sebagai isyarat.
Padahal, kalau Put tahu isi hati Satria. Perasaan kecewanya akan berubah menjadi benci, tapi kepiawaian Satria dalam bereting sungguh apik dan tidak bisa di tebak dengan mudah.
"Kamu istirahat dulu, besok ... kita akan mencari jalan keluar. Aku harus menemui Alice," jelas Satria seraya duduk di dekat kumpulan kayu yang dibakar.
Keadaan malam di dunia Albiru saat ini begitu sunyi, entah ke mana para mahkluk yang tingal di dunia yang didominasi dengan warna biru itu.
Namun, ada hal yang lebih penting untuk Satria pikirkan. Tujuannya dan semua rencana yang telah dipikirkannya dengan matang harus terwujud.
Satria pun mulai memejampakan matanya, setelah memastikan kalau Put terlelap. Masih ada hari esok yang harus ia jalani.
***
Matahari mulai menyinari seluruh tempat yang dilewati, sinarnya yang terang dan menghangatkan membuat Satria perlahan terbangun.
Tidur di atas tanah yang gersang dan kotor, membuat tubuhnya terasa kaku dan tidak enak. Seraya merenggangkan otot-ototnya, Satria menatap ke arah Put yang ternyata sudah bagun lebih dulu.
Satria bisa melihat Put yang seperti sedang termenung dengan tatapan yang menadah ke atas, seolah tengah berharap akan sesuatu.
"Kamu sedang berdoa?" tanya Satria pelan dan membuat Put menatap ke arahnya sekilas seraya tersenyum.
"Dunia ini semu, tidak ada keabadian di dalamnya. Sekalipun, engkau seorang Dewa. Masih terjerat akan kodrat kehidupan."
Satria mengerutkan keningnya, setelah mendengar pertanyaan Put tersebut. Memang, apa yang baru saja Put ucapkan tidak bisa dibantah.
__ADS_1
Seorang Dewa pun bisa berpindah alam dan tidak bisa menghindari kondratnya, sama seperti Dewa Ketua yang kalah dalam pertarungan dan harus berada di alam Roh.
Namun, bukan hal itu yang menjadi pertanyaan di dalam benak Satria. Melainkan, kenapa Put membahas hal itu sekarang.
Mungkinkah Put sudah menyadari, kalau saat ini Satria bukan seroang Dewa lagi? Atau ... telah terjadi sesuatu kepada Put sampai membahas masalah itu.
"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Satria ingin memastikan keadaan dan kewarasan Put masih dalam keadaan normal. Sebab, Satria merasa takut dengan keadaan Put yang sulit untuk diterka.
"Aku akan menemanimu, hanya ... sebatas bertemu dengan Alice. Setelah itu, aku akan pergi," jelas Put seraya bangun dari posisi duduknya dan diikuti oleh Satria.
Keadaan Put demikian membuat Satria semakin curiga, kalau kembar terkutuk telah meracuni atau mencuci otah Put.
Satria memapah Put yang belum pulih sempurna, walaupun tubuh Blogger yang Put miliki amat cepat dalam menyembuhkan luka. Tapi, Satria masih tidak bisa membiarkan Put berjalan sendiri.
Mereka berdua kembali masuk ke goa dan mencari jalan menuju ke dunia nyata, selama perjalanan Put hanya diam saja membuat perasaan Satria menjadi tidak nyaman.
"Jalan mana yang akan kita pilih?" tanya Satria kepada Put, ketika mereka berada di persimpangan jalan.
Put menujuk sebuah jalan yang terdapat sebuah tanda, melihat hal itu membuat Satria tidak banyak bertanya lagi kepada Put dan terus berjalan.
Untung keadaan di dalam goa aman, tidak ada Ruu atau kembar terkutuk di sana. Sebenarnya Satria trauma berada di dalam goa lagi, setelah semua kejadian yang dialaminya. Namun, tidak ada pilihan lain. Hanya goa ini yang menghubungkan jalan menuju ke tempat yang mereka inginkan.
Sampai sebuah cahaya muncul terang, Satria memeprcepat langkah dan mereka bisa melihat hamparan laut yang begitu luas.
Untuk pertama kalinya Satria berada di tempat ini, ia tidak menyangka kalau goa tadi benar-benar membawanya ke dunia nyata.
"Mulai saat ini, kita akan mengambil jalan yang berbeda."
Satria menatap Put yang mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia dengar, Satria menggenggam erat tangan Put yang ingin pergi.
Bagaimanapun keadaannya, Satria tidak akan melepaskan Put. Setidaknya, sampai tujuan yang ia inginkan telah tercapai.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Put?" tanya Satria yang berusaha menahan amarah di dalam dirinya. Namun, Put hanya diam tidak mau menjawab.