Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 107


__ADS_3

"Apakah hanya itu? Bukankah, kau ingin mengetahui sesuatu tentang para Hunter?"


Tanpa sadar H mulai membocorkan informasi yang Satria inginkan, sungguh tehnik yang Satria mampu menipu H.


Satria berbalik badan dan menggelengkan kepalanya pelan, seakan bukan hal itu yang ia inginkan. Padahal, sebaliknya.


"Lalu?" tanya H penasaran.


"Aku hanya ingin mencari Dewi Haruna, ada sesuatu yang harus aku tanyakan padanya," jelas Satria semakin membuat H penasaran dan ingin mengetahui rencana Satria.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya H lagi.


Satria menjelaskan sesuatu yang ia ada-adakan untuk memancing H, Satria membuat cerita palsu dengan mengatakan bahwa ingin menemui putranya yang tinggal dengan Haruna.


H percaya dengan begitu saja apa yang diucapkan oleh Satria dan menanyakan siapa putra Satria dengan Haruna, sebab yang ia tahu. Putra Satria dan Haruna hanya dirinya saja, tidak ada yang lain.


"Siapa dia?" tanya H dengan sorot mata penasaran.


"Aku belum menemuinya, maka dari itu ... aku mencari Haruna," jelas Satria serya melangkah kembali. Seakan-akan ingin meninggalkan H.


"Tunggu!" panggil H.


"Aku adalah putramu," tambahnya dan membuat Satria kembali lagi.


Ada sebuah dorongan yang kuat di dalam diri H untuk mengakui, bahwa dirinya merupakan anak Satria dan Haruna.


H tidak pernah mendapat yang namanya kasih sayang, sekalipun tubuhnya yang amat besar karena memiliki tubuh Hunter. Namun, tidak dengan usia dan masa hidupnya yang masih dibilang terlalu singkat.


Pertumbuhan H dipercepat oleh registrasi dari genetik kedua orang tuanya, terlebih Dewi Haruna yang merupakan Dewi yang mampu mengendalikan kehidupan serta pertumbuhan yang ada di dunia.


"Benarkah itu?" tanya Satria sekaan terkejut, padahal ia sudah mengetahuinya. Melihat keadaan serta apa yang H katakan membuat Satria merasa kalau H mulai memercayai ucapannya barusan.


"Tentu saja, Dewa Ketua yang mengatakan hal itu. Makanya kami akan membangkitkannya kembali," jelas H tanpa sadar telah memberirahukan rencana sesungguhnya yang di lakukan oleh para Hunter.

__ADS_1


Satria mengangguk-angguk dengan apa yang disampaikan oleh H, ia merasa sudah cukup informasi dari H. Sebab, kalau ia terus bersandiwara seperti ini hanya akan menimbulkan kecurigaan untuk H.


Dengan langkah perlahan Satria menghampiri H dan membantunya untuk berdiri kembali, Satria mengajak H mencari Haruna.


Sekali menayung dua–tiga pulau berhasil di lewati, Satria amat cerdik dan piawai dalam menarik perhatian serta simpati orang lain.


"Ke mana kita akan mencari ibumu?" tanya Satria kepada H yang ia papah.


Mereka berdua berjalan dengan perlahan, H hanya diam tidak menjawab apa yang Satria katakan. Sebab, ia memiliki tugas lain.


Satria berusaha menawarkan kepada H untuk beristirahat, dengan alasan kasihan dengan keadaan H yang pasti lelah dan harus merawat luka-luka yang ada di tubuhnya.


"Aku tidak bisa!" balas H menolak keras ajakan Satria dan minta di antarkan sampai ke gubuknya.


Satria tidak membantah dan mengikuti apa yang di minta oleh H yang menunjukan arah ke gubuknya, sebab ingin melakukan sesuatu di sana.


Ternyata para Hunter membangun beberapa gubuk untuk beristirahat di dunia nyata, Satria memapah H sampai ke dalam gubuk dan menadarkan H di kursi.


"Silahkan, terimakasih telah membantu sampai ke sini," jelas H seraya memejamkan matanya. Luka yang terdapat pada tubuhnya amat sakit dan perih, belum lagi dirinya harus menuju tempat ritual. Setidkanya H memiliki tugas penting, yaitu menghalangi Satria untuk mengagalkan ritual tersebut.


Tiba-tiba saja H merasakan ada yang menyentuh luka-lukanya dan hal itu membuatnya memekik kesakitan.


"Aw! Apa yang kau lakukan?"


Ternyata Satria memeriksa luka-luka H dan berniat untuk mengobatinya, "Apa kau memiliki daun penawar?" tanya Satria.


H mengangguk pelan dan menujuk ke arah rak yang berisi beberapa kendi yang terbuat dari tanah liat, tempatnya menyimpan beberapa ramuan.


Satria menuju ke arah rak yang di tunjuk oleh H dan membuka kendi tersebut satu persatu seraya mencium aromanya. Ketika daun penawar yang ia cari telah di berada di tangannya, Satria mulai membalut luka H.


Apa yang Satria lakukan menimbulkan perasan aneh dalam diri H, dia tidak pernah di perlakukan seperti demikian.


Dewa Ketua yang membesarkannya sekalipun tidak pernah memberikan perhatian seperti yang saat ini Satria berikan kepadanya.

__ADS_1


Dengan lemah–lembut serta penuh perhatian Satria menyapukan ramuan daun penawar kebagian-bagian yang perlukan, setelah selesai Satria berpamitan kembali kepada H.


"Aku akan pergi mencari Haruna, jaga dirimu baik-baik," jelas Satria.


H hanya diam, bibirnya kelu untuk berbicara. Hanya lelehan air mata yang mewakili perasaanya saat ini, entah mengapa ia membelok begitu saja dari perintah yang diberikan kepadanya untuk menghapuskan Satria.


Ternyata ikatan antara ayah dan anak tidak bisa di hilangkan begitu saja, sebenci apapun H kepada Satria. Tetap saja, Satria adalah ayahnya.


"Tunggu!" seru H dalam hati seraya menatap punggung Satria yang telah menghilang di balik pintu.


Satria terus melangkah tanpa melihat ke belakang lagi, ia menangis dalam diam. Mau bagaimanapun juga, hati Satria lemah melihat darah dagingnya menderita.


Namun, ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan. Pertama-tama, Satria harus membawa tubuh Put yang ia yakini masih hidup, sebab serangan yang dilakukan oleh H hanya membunuh tubuh Blogegrnya Put tidak dengan Rohnya.


Setelah itu, Satria harus membantu Alice yang mungkin saja telah bertarung dengan para Hunter yang lain.


Dengan tangan yang mengempal kuat, Satria bertekad untuk melenyapkan Dewa Ketua dengan bentuk rekarnasi seperti apapun.


"Dewa S," panggil Alice membuat Satria terkejut. Dia berfikir Alice telah berada di arena perang, tapi malah berkeluyuran.


"Apa rancana kita berhasil?" tanya Satria kepada Alice yang tengah mengunggagi kadal raksasanya.


Alice menjelaskan semuanya, bahwa ritual para Hunter telah di mulai. Alice memerintahkan Brongsi, pedang miliknya yang bisa berubah menjadi makluk yang siap menyerang tanpa merasakan rasa takut ataupun sakit.


Apa yang di sampaikan oleh Alice membuat Satria berubah rencana, ia akan menuju ke tempat ritual dan menggagalkannya. Sedangkan Alice ia perintahkan untuk membawa tubuh put kembali ke rumah.


Alice mendengar permintaan Satria tidak bisa menahan diri, ia merasa cemburu dan tidak suka dengan adanya Put.


"Kenapa aku harus melakukan hal itu? Apa pentingnya Put bagimu, Sat?" tenya Alice dengan sorot mata menahan perasaannya.


Satria mendesah berat, di saat genting seperti ini Alice malahan tidak bisa di ajak kompromi. Sampai Satria menjelaskan, bahwa Put tengah mengandung.


Bagaikan di sambar petir, hati Alice menjadi getir. "Mengandung? Anak siapa?" tanya Alice.

__ADS_1


__ADS_2