
"Kamu tidak akan pernah aku lepaskan!" kata Satria dengan seringai yang memberikan.
Satria menekan tubuh yang penuh akan lendir itu dengan kedua tangannya agar tidak bisa kabur, Satria tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
"Uhuk, uhuk ... aku bisa mati, Sat!" pekik Ruu yang mulai kehabisan nafas karena kukungan yang Satria lakukan.
Namun, seolah tuli. Satria tidak menggubris sama sekali apa yang dikatakan oleh Ruu sampai suara seseorang yang amat ia kenal terdengar.
"Lepaskan dia, Satria!"
Sontak saja mata Satria tertuju pada sosok wanita cantik yang tengah melayang-layang seperti seorang hantu, dia adalah Dewi Haruna.
Sepertinya keberuntungan tengah menghampiri Satria, di mana ia bisa mendapatkan dua mangsa yang amat berharga.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?' tanya Satria memancing kemarahan Haruna.
"Kalau begitu, aku akan menggunakan kekerasan!" balas Haruna dan langsung menyerang Satria.
Namun, semua serangan Haruna tidak berdampak signifikan terhadap Satria yang sudah meng–update kekuatannya.
Dengan satu tangan Satria membalas seranga Haruna dan tangannya yang sebelahnya ia gunakan untuk mencekam kuat tubuh Ruu.
Hingga Satria berhasil mengalahkan Haruna dengan sekali serangan telak dan wanita itu terpental dengan keadaan yang mengerikan.
Tubuh Haruna mengalami luka-luka dan kini tidak bisa banyak bergerak, sepertinya ada bagian tulang yang tergeser akibat hantaman yang kuat dari senjata Satria.
"Satria," kata Haruna dengan suara yang lirih seraya menatap ke arah Satria yang semakin mendekat.
Sebenarnya Haruna pergi ke dunia nyata untuk mencari keberadaan Ruu, setelah kalah dari Put. Haruna ingin Ruu membantunya.
Namun, bukannya mendapatkan sebuah bantuan. Haruna malahan mendapatkan sebuah kekalahan yang begitu menyakitkan.
Kembali tubuhnya mengalami luka dan Haruna harus menahan rasa sakit yang amat perih untuk kedua kalinya.
"Aku telah memberikan rasa nyaman dan kenikmatan padamu, Haruna! Tapi ... kamu malahan membuangku? Cih! Sekarang, apalagi yang kamu inginkan?"
Satria memprovokasi Haruna untuk membuka mulutnya dan Satria akan mendapatkan informasi dari wanita itu.
Namun, tiba-tiba saja datang sebuah serangan mendadak dan membuat Satria yang tidak siap terkena telah serangan itu.
Mata Satria terbelalak, setelah melihat siapa pelakukan. Dengan tubuh yang sudah terjatuh akibat serangan sebelumnya, Satria mulai berdiri dengan perlahan.
"Jangan sakiti, Ibuku!" pekik H. Ya, pelakukan dari serangan itu adalah putra Satria sendiri.
__ADS_1
Entah bagaimana H bisa sampai ke tempat Satria, tapi sepertinya Satria harus mundur. Sebelum menyakiti H.
"Aku tidak akan menyakiti, seseorang yang baik," balas Satria dan menatap Haruna tajam.
H menatap ke Haruna yang tengah terluka cukup parah dan terus merintih, tapi setelah H kembali menatap ke arah Satria. Namun, sang ayah telah menghilang.
"Satria!" teriak H dengan suara yang begitu nyaring karena merasa kesal akan sikap Satria yang malahan kabur.
"Dasar! Pengecut!" celetuk Ruu yang masih berada di tangan Satria.
Karena kesal akan apa yang diucapkan oleh Ruu, Satria mempererat cengkramannya dan membuat Ruu berteriak kesakitan.
Satria tersenyum puas mendegar jeritan Ruu yang bagaikan nyanyian yang indah baginya, kemudian Satria mempercepat langkahnya agar segera sampai ke tempat pertemuan yang telah mereka janjikan sebelumnya.
Hingga, langkah Satria kembali berheti secara tiba-tiba. Setelah mendengar suara seseorang yang tengah berbicara, nampaknya mereka merupakan Hunter.
"Di mana Tuan H?" tanya salah–seorang Hunter.
"Aku juga tidak tahu! Coba kita ke gubuknya," ajak Hunter yang lainnya.
Mereka pun segera bergerak, Satria tidak bisa mengikuti mereka. Sebab, tidak ingin berhadapan dengan H. Satria memilih meneruskan perjalanannya dan menyampaikan informasi yang sudah ia peroleh, terlebih Satria harus menyiksa Ruu terlebih dahulu.
Tidak memerlukan waktu lama, Satria telah berada di gerbang kediaman keluarga Cooper. Terlihat seorang prajurit yang membukanya gerbang.
"Di mana Ibu Victoria dan Jennifer?" tanya Satria prajurit tersebut dan diarahkan untuk menuju ke halaman belakang.
"Bagaimana dengan misi kalian?" tanya Satria seraya memilih untuk duduk di tengah Alice dan Put.
Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaannya membuat Satria merasa ada sesuatu yang aneh dengan semua orang.
"Kalian kenapa?" tanya Satria kemudian.
"Kenapa? Kamu pikir kami ini—"
"Alice! Tenang!" pinta Jennifer menahan emosi Alice yang membuncah, hingga Alice memilih untuk pergi begitu saja.
Put melihat Alice yang demikian ikut berlalu dan menyempatkan diri menepuk pundak Satria pelan, seakan menguatkan Satria.
Satria menatap wajah Jennifer dan Victoria yang nampak begitu serius, bahkan melihat tingkah Alice dan Put membuat Satria semakin merasa tidak nyaman.
"Satria, berikan dia!" Jennifer menunjuk ke arah Ruu yang berada di tangan Satria.
Dengan berat hati Satria menyerahkan Ruu kepada seorang prajurit yang Jennifer perintahkan, kemudian membawa Ruu pergi.
__ADS_1
Kini Jennifer menatap tajam ke arah Satria dan meminta penjelasan akan peryataan Satria yang bukan lagi seorang Dewa.
"Ibu, aku ingin menceritakan hal ini padamu. Tapi, setelah kehilangan Antonius ... aku tidak ingin kamu merasa khawatir dengan keadaan dunia yang tengah kacau," jelas Satria memberitahu yang sebenarnya, bahwa dirinya berbohong demi membuat Jennifer tetap bisa berfikir positif.
"Sat! Caramu salah! Kamu telah membuat kami berharap lebih padamu!" Jennifer benar-benar kecewa dengan apa yang telah Satria lakukan, walaupun niatnya baik. Namun, dengan cara membohongi semua orang itu merupakan sebuah kesalahan yang fatal.
Satria menatap Victoria yang langsung membuang muka darinya, seolah menyatakan ketidaksukaannya membuat Satria hanya bisa membuang nafas panjang.
"Lalu, kenapa Ayah membunuh Ibuku?"
Satria terkejut dengan apa yang di tanyakan oleh Lubis, haruskah ia mengakui semuanya? Bahwa telah membunuh ibunya Lubis. Tapi, Satria tidak ingin membuat Lubis membenci dirinya.
"Jawab, Ayah!" pekik Lubis yang sudah tumpah dengan air mata.
"Bukanlah namun sudah tahu? Ketika aku membakar rumah dengan ibumu di dalamnya!" jawab Satria dengan penuh penekanan.
Semua orang terdiam, Victoria tidak henti-hentinya menggeleng kepalanya. Setelah mendengar pengakuan Satria tersebut.
"Aku masih kecil waktu itu, Yah! Aku tidak mengerti apa-apa!" teriak Lubis.
Jennifer mengajak Lubis untuk masuk, sebab takut bocah itu hilang kendali. Sedangkan Victoria melipat kedua tangannya di dada dan mendekati Satria.
Hanya Victoria yang diberi amanat oleh yang lainnya untuk menghadapi Satria, sebab ia adalah ibunya Satria.
"Kenapa? Ibu mau menghukumku?" tanya Satria dengan ******* yang berat.
"Lubis sudah tahu, kalau aku telah membunuh ibunya! Tapi, waktu itu dia hanya diam dan mau saja aku bawa pergi," jelas Satria tidak habis pikir dengan sikap Lubis yang baru marah sekarang. Kenapa waktu itu tidak, hal itu yang ada dibenak Satria.
Victoria pun menjelaskan bahwa Lubis masih kecil, walaupun tubuhnya begitu besar. Namun, tidak ubahnya seperti bocah.
Satria yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam seribu bahasa, Satria baru ingat. Waktu itu Lubis baru berusia berapa jam saja, tapi tubuhnya memang mengalami perubahan yang begitu segnifikat.
"Aku minta maaf, Bu," kata Satria dengan lirih.
Victoria tersenyum dan memberi nasehat kepada Satria agar tidak pernah untuk berbohong lagi, apapun alasannya.
Satria pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk cepat, kemudian Satria menjelaskan informasi yang telah ia peroleh kepada Victoria.
"Jadi, maksudmu Profesor Ruden merupakan Ruu yang merupakan seorang siluman ular?" pekik Victoria tidak pernah percaya dengan apa yang disampaikan oleh Satria. Sebab, Victoria amat mengenal siapa Profesor Ruden.
"Kenapa? Ibu tidak percaya? Kalau dalang dibalik kekacauan ini adalah Ruu, atau yang kita kenal dengan Prosesor Ruden selama ini," jelas Satria. Namun, Victoria hanya diam dan menyuruh Satria untuk beristirahat terlebih dahulu, sebab besok pagi ada yang akan dirinya tunjukan.
Satria mengikuti perintah sang ibu dan memilih menuju ke danau yang berada tidak jauh dari kediaman keluarga Cooper, melihat semua keadaan yang terjadi selama ini membuat Satria sedikit tertekan.
__ADS_1
Ditambah perubahan Alice dan Put kepadanya, belum lagi Lubis dan bagaimana dengan H nantinya? Apakah H akan membenci dirinya, sebab ingin mencelakakan Haruna.
"Apa yang harus aku lakukan setelah ini?" batin Satria.