Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 82


__ADS_3

Key meninggalkan rumah dengan perasan yang tidak karuan, ia harus memberitahukan tentang Satria kepada seseorang yang tinggal di lereng gunung.


Dengan alasan berburu dan memakan waktu yang cukup lama, Key berangkat dengan memeprcepat langkahnya. Agar tidak kemalaman, walaupun jarak yang memang tidak begitu jauh.


Namun, Key juga harus pulang dengan membawa hasil buruan. Sebelum menemui orang itu, Key memasang beberapa jebakan di setiap jalan yang ia lewati.


Berharap ada binatang yang terjerat ketika ia hendak pulang nanti, padahal Key tidak ingin Lilly sampai bersedih lagi.


"Apa yang akan orang itu lakukan kepada keturunan Lubis? Tidak mungkin aku memisahkan Satria dari Lilly, itu pasti akan membuat Lilly menjadi liar kembali."


Semakin Key memikirkan hal itu, maka ia menjadi pusing sendiri. Untung keadaa matahari saat tidak terlalu menyengat, Key bisa sampai dengan cepat.


Awalnya ia ragu untuk masuk ke sebuah goa yang terdapat di lereng gunung di mana orang itu berada, tapi ia juga penasaran dan ingin mengetahui maksud serta tujuan dari orang itu.


Key pun mencoba memberanikan diri dan masuk ke dalam goa, dengan senjata tombak di tangan untuk berjaga-jaga.


Sebab Key tidak tahu ada binatang buas yang akan menyerangnya di dalam goa yang sepi dan di penuhi oleh sarang laba-laba.


"Apakah kau ada di dalam?" Berkali-kali Key berteriak, tapi belum juga ada sahutan. Sampai ia semakin masuk ke dalam goa dan menemukan sebuah fakta yang begitu mengejutkan.


Key melihat tubuh seekor ular yang melingkar di tengah-tengah goa, bukan hanya itu saja yang membuatnya begitu terkejut.


Namun, kepala ular itu yang seperti manusia. Key mundur dengan perlahan, jangan sampai ia membangkunkan ular besar itu.


Jika hal itu sampai terjadi? Maka pupus sudah dirinya, tapi tanpa sengaja Key menginjak sesuatu dan menimbulkan bunyi.


Ternyata sebuah tulang binatang yang berserakan di tanah membuatnya bergidik ngeri dan teringat akan tabiat buruk sang adik yang suka menjadikan binatang lain sebagai kudapan.


"Apakah dia Ayahnya Lilly?" gumam Key kemudian.


Memang dirinya dan Lilly begitu mirip seperti saudara kembar, tapi perbedaan yang begitu kontras tentu saja menimbulkan perasaan tanya.


Di mana Lilly bisa berubah menjadi siluman Ular, sedangkan dirinya tidak. Ketika Key yang tengah berfikir, ia tidak menyadari kalau telah membangunkan mahkluk ular itu.


"Siapa kau!"

__ADS_1


"Hah!" pekik Key yang terkejut dan berlari sekuat tenanga. Namun tubuhnya sudah terbelit oleh makluk ular itu, semakin ia meronta. Lilitan makluk itu semkin mencekiknya dan Key pun menyera lalu memohon ampun.


"Saya Key! Mohon amuni kelancangan saya! Saya ke sini hanya ingin mencari Pak Pendeta."


Tubuh Key bergetar kuat karena takut, teringat akan niatnya yang ingin mencari orang itu demi mengetahui hal yang sebenarnya membuat Key terdesak.


Setidaknya ia telah menjawab pertanyaan dari makluk ular itu, sebelum berakhir di dalam pencernaan. Hanya itu yang Key pikirkan, tapi diluar ekspektasinya.


Makluk ular yang berwarna keemasan itu melepaskannya dan merbuah bentuk tubuh menjadi manusia normal.


Key begitu takjub dengan apa yang baru saja ia lihat, kemudian menyambungkan keadaan makluk ular itu dengan Lubis dan Lilly.


"Pendeta katamu?"


Key menagguk cepat saat makluk ular itu bertanya, kemudian mahkluk itu mendekat dan Key bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas.


"Anda—" Ternyata pendeta yang ia cari telah berada dihadapannya saat ini, makluk ular tadi merupakan jelmaannya saja.


Key semakin bertanya-tanya di dalam hatinya, siapa lelaki yang menyebut namanya dengan Pendeta itu dan mencari keberadaan keluarga Lubis.


"Iya, aku adalah pendeta yang kamu cari. Apakah Lilly telah berubah menjadi ular?"


Diamnya Key membuat sang pendeta menepuk pelan bahu pemuda itu dan mengajaknya menuju suatu tempat.


Key hanya bisa menurut, sampai mereka berdua berada semakin dalam goa. Keadaannya semakin gelap dan Key menjadi takut. Hingga dari kejauhan Key bisa melihat ada sebuah cahaya yang terang.


"Tempat apakah ini?" guamamnya dan masih bisa sang pendeta dengar.


"Ini adalah dunia Albiru," jelas Pendeta.


Key begitu takjub dengan hamparan pemandangan yang begitu luas dengan dominasi warna biru, ia tidak pernah tahu ada jalan lain dari goa tersebut.


Andaikan ia mengetahuinya lebih dulu, mungkin saja Key akan mengajak Lilly untuk tinggal di dunia yang begitu indah itu.


Kembali teringat kepada Lilly, Key menatap serius sang pendeta dan menjelaskan tujuannya mencari lelaki itu.

__ADS_1


"Jadi, kamu sudah menemukan keturunan Lubis?" tanya pendeta itu seraya mengusap dagunya.


"Iya, dia bernama Satria dan telah menggunakan kemampuan Heypersexnya sampai membuat Lilly melahirkan anak yang mereka beri nama Lubis," jelas Key dan menunggu apa yang akan di lakukan oleh sang Pendeta itu.


Key tidak ingin ada yang menyakiti Lilly, karena baginya sang adik adalah separuh nyawanya. Menjaga dan melindungi Lilly sama saja dengan menyelamatkan hidupnya sendiri.


"Baiklah, aku akan kembali dan membawa Lilly. Kamu bisa tinggal dulu di dunia ini seraya menungguku kembali," jelas pendeta itu ingin berlalu.


Namun, tangannya sudah di cekal oleh Key. Ia mengerutkan keningnya dan menatap kearah pemuda yang bermata coklat itu dengan tatapan penuh akan tanda tanya.


Tertidur di dalam goa dan melingkar seperti ular membuat tubuhnya menjadi kaku, bisa saja ia menyerang Key dan melenyapkan pemuda itu.


"Anda tidak boleh pergi, sebelum menjawab pertanyaanku dulu," pinta Key dengan serius.


Dia tidak ingin ditipu oleh lelaki paruh baya yang mengaku sebagai seorang Pendeta dan berniat ingin menolongnya.


Sulit bagi Key mempercayai siapapun, sebab tingkat kewaspadaannya yang begitu tinggi. Semua orang bisa dicurigai sebagai musuh, kecuali sanga adik.


"Baiklah, jika hal itu bisa membuatmu tenang," balas sang pendeta seraya menunggu reaksi dari Key


Pemuda itu mengatur nafas terlebih dahulu, lalu merangkai kata-kata yang tepat di dalam benaknya sebelum meluncur begitu saja.


Setelah merasa cukup tenang, Key mulai memberikan pertanyaan yang paling mudah bagi sang pendeta. Tapi, bisa mewakili semua hal yang ingin ia ketahui.


"Siapa nama anda?"


"Hanya itu saja?" tanya sang pendeta yang ingin memastikan kesungguhan Key.


Pemuda dihadapannya itu mengangguk dengan penuh keyakinan dan membuatnya terpaksa menyebutkan nama yang tidak boleh diketahui oleh Satria.


"Panggil saja aku Ruu," jelasnya.


"Ruu?" gumam Key mengulangi kalimat itu.


Key merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh lelaki paruh baya itu dan menayakan hal lainnya.

__ADS_1


"Anda berasal dari marga apa?" tanya Key. Sebuah Marga dibelakang nama seseorang menjelaskan tentang garis keturunan, hal itu menjadi pegangan untuk Key dalam menilai lelaki yang menyebut namanya dengan Ruu itu.


"Cooper!"


__ADS_2