
"Prof! Apakah mantra-mantra, yang selama ini Ibu ajarkan kepadaku? Merupakan, kemampuan khususnya? Karena, aku sempat berpikir. Jika, semua itu merupakan milik Ayah."
Prosesor Ruden pun menjelaskan dengan gamblang, jika Penus tidak memiliki apapun. Kecuali kesempatan, untuk berada di keluarga Victoria. Ilmu dan mantra yang dipelajari oleh Penus, merupakan milik keluarga Victoria.
Satria yang mendengar hal itu, menatap nanar ke arah ayahnya. Ternyata, Penus tidak sehebat yang ada di dalam benaknya.
Malahan, sang ibu yang terlihat acuh tak acuh dan sederhana. Memiliki banyak kelebihan dan kemampuan yang tersembunyi. Hingga Satria baru teringat akan sesuatu, dimana dia meninggal Victoria bersama dengan Sis.
"Kita harus kembali!" pekik Satria dengan panik.
"Kembali? Kemana?" tanya Profesor Ruden yang belum mengetahui apapun.
Bob yang sudah paham, akan maksud dari yang Satria ucapan. Menghentikan niat Satria dan menjelaskan, jika mereka tidak bisa kembali. Setidaknya, menunggu matahari kembali terang.
Satria sampai melupakan, bahwa sekarang telah malam. Dia mendesah berat dan memilih untuk duduk, entah dirinya bisa menunggu esok pagi atau tidak. Karena, pikirannya terlalu berat mengira segala yang mungkin terjadi.
Penus yang melihat kegelisahan Satria mencoba untuk menenangkan, tetapi apa yang diucapkan oleh Penus. Tidak digubris sama sekali oleh putranya.
"Satria, ibumu tidak akan kenapa-kenapa."
"Eemm," balas Satria dengan malas, menanggapi perkataan Penus dan memilih untuk berpura-pura tidur.
Satria merasakan sesuatu yang sangat buruk, akan terjadi. Hal itu yang membuatnya, tidak bisa tenang. Ditambah, dia meninggal ibunya dengan telur-telur miliknya yang mungkin saja telah menetas menjadi anak manusia.
Bukan takut, kalau Victoria atau Sis akan kesulitan mengurus anak bayi tersebut. Namun, kekuatan yang dimiliki oleh Satria sebagai Dewa tentu saja akan menurun kepada anak-anak itu.
Bob menghampiri Satria dan mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa agak tenang, "Dewa Satria, aku tidak yakin dengan apa yang kukatakan ini bisa membantu? Tapi, yakinlah. Kalau Sis, akan berada di pihak kita."
Satria tersenyum dan mengangguk kepalanya, kemudian mencoba untuk memejamkan mata yang nampaknya telah lelah dipaksa untuk terbuka.
Menjadi Dewa, tidak membuat Satria bisa leluasa. Dia tetap memerlukan tidur dan makan, lalu apa istimewanya menjadi Dewa? Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman.
***
__ADS_1
Matahari di dunia Albiru bersinar dengan terangnya, menerpa dunia yang di dominasi oleh warna biru tersebut.
Kelompok kecil Satria yang diisi oleh Bob, Penus dan Profesor Ruden. Telah melanjutkan perjalanan mereka, bahkan ketika matahari belum nampak dengan sempurna.
Satria yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi, menggunakan kekuatannya dan membuat semuanya terbang bersamanya.
Dia tidak bisa berjalan kaki dengan durasi waktu yang cukup lama, entah berapa hari lagi. Mereka akan sampai, jika berjalan.
Terbang, merupakan pilihan yang paling baik untuk saat ini. Satria pun harus menggandeng tangan Bob, karena lelaki itu tidak terbiasa terbang dan merasa sedikit takut.
"Dewa Satria! Bagiamana cara kita turun?"
Pertanyaan yang Bob lemparan, membuat Satria tergelak. Tetapi dia memilih hanya diam, karena sudah melihat goa. Dimana mereka meninggalkan Victoria dan Sis.
Perjalanan yang memakan waktu beberapa hari, Satria buat menjadi beberapa jam dengan cara terbang. Namun sayang, dirinya masih terlambat.
Dari kejauhan, terlihat beberapa barisan remaja laki-laki dengan postur tubuh yang kuat. Seperti seorang prajurit, tentu saja dirinya bisa mengenali dengan mudah. Siapa mereka.
"Tidak mungkin," gumamnya dan akhirnya mereka turun dengan perlahan.
Dia sangat yakin, bahwa Sis menggunakan kemampuannya. Untuk mempercepat proses pertumbuhan, anak-anak Satria.
"Dewa Satria!"
Setelah memijakkan kaki di tanah, tanpa banyak berbicara. Satria langsung menghampiri Victoria, dia menatap dingin ke arah sang ibu yang sempat menyebut namanya dengan pelan.
"Apa arti dari semua ini?"
Victoria diam seribu bahasa, tidak mampu memberikan jawaban dari pertanyaan itu. Dia hanya menatap ke arah Sis, seolah meminta bantuan. Namun, wanita tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sis sudah memperingatkan Victoria, tentang apa yang akan terjadi. Kalau mereka mempercepat pertumbuhan anak-anak Satria, tetapi ambisi dan rasa balas dendam yang dimiliki oleh Victoria. Membuatnya gelap mata.
"Katakan!" bentak Satria dengan suara yang menggelegar.
__ADS_1
Apa yang Satria lakukan, membuat yang lain tersentak dan menatap ke arahnya. Begitu pun dengan barisan remaja, dimana hampir semuanya memiliki mata yang sama dengan Satria. Yaitu, berwarna biru.
Entah apa yang ada dipikiran Victoria, sampai berani membuat Satria marah. Walaupun dirinya merupakan ibu kandung Satria, tetapi dia memiliki batasan yang tidak boleh di lewati.
"Ibu hanya ingin membuat sebuah pasukan! Ibu akan melawan Dewa Ketua!"
Akhirnya, Victoria mengungkapkan keinginannya dan penyebab dari segala tindakkan yang telah dia lakukan.
Satria mendesah berat, dia menyayangi ibunya. Tetapi, tidak bisa membiarkan wanita itu melakukan kesalahan yang bisa berujung pada peperangan.
"Kenapa, Bu?" Terdengar nada kekecewaan, dari apa yang baru saja Satria ucapankan. Bahkan, matanya nampak sendu. Ketika melihat ke arah sang ibu.
"Kenapa? Kamu bertanya kenapa?" Victoria menatap acuh tak acuh ke arah Satria, tanpa disadari air matanya jatuh begitu saja.
"Asalkan kamu tahu, Sat! Sejak lama, Ibu ingin melakukan hal ini. Tapi ... tidak memiliki kesempatan!" terang Victoria.
Tentu saja, apa yang baru diucapkan oleh wanita itu. Menimbulkan tanda tanya besar dibenak semua orang, apa yang membuat Victoria melakukan hal tersebut.
Hingga Penus mendekati Satria dan Victoria, dia mencoba menenangkan keadaan yang sepertinya dalam situasi yang tidak baik.
"V! Aku tahu, jika kamu menginginkan banyak anak. Tapi ... apa yang akan kamu lakukan sekarang? Ini tidak baik."
Victoria berdecak, merendahkan. Nasihat yang disampaikan oleh Penus, dia amat muak dengan kemunafikan yang lelaki itu lakukan.
"Tidak baik? Apakah dengan hidup mengorbankan orang lain itu, bisa dikatakan baik? Hah! Jawab!" pekik Victoria dengan segala kekecewaan yang selama ini dia pendam seorang diri.
Siapa yang tidak menginginkan dunia Albiru, apalagi Victoria merasa sangat nyaman di dunia tersebut. Akan tetapi, selama masih ada Dewa Ketua. Maka, tidak akan mudah tinggal di dunia Albiru.
Dewa Ketua merupakan pondasi paling besar, di dunia Albiru. Bahkan, Dewa Ketua yang mengatur hampir keseluruhan dari apa yang ada di dunia Albiru dan memiliki wewenang tersendiri. Siapa dan apa yang boleh berada di sana.
Hal itu, yang membuat Victoria berambisi. Ingin menyerang Dewa Ketua dan menjadi Satria sebagai pemimpin dunia Albiru, tetapi apa yang dia inginkan. Sepertinya, mendapatkan penentangan.
"Hentikan semua ini, Bu! Sebelum, ada pertumpahan darah," jelas Satria dengan nada dingin.
__ADS_1
"Biarkan! Ibu akan tetap menyerang Dewa Ketua! Ada atau tanpa dirimu, sekalipun!" balas Victoria dengan kilatan kemarahan.
"Semuanya sudah terlambat!"