Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 51


__ADS_3

"Hahaha ... kalian harus takut! Aku lah Dewa Ketua yang abadi dan tidak akan pernah mati."


Dengan percaya dirinya Dewa Ketua mengatakan hal itu, kini perubahannya telah sempurna. Kekuatan tanpa batas yang diminta olehnya telah dikabulkan.


"Ayo kita serang bersama-sama," ajak Penus dengan tatapa masih lurus ke depan.


Namun, Satria hanya diam. Ini merupakan keadaan yang tidak menguntungkan baginya dan bisa membahayakan, karena Dewa Ketua yang telah berubah menjadi seekor monster.


Tiba-tiba saja Penus maju menyerang, tanpa aba-aba. Membuat Satria terdiam ditempat, dia tidak bia berbuat banyak. Kekuatannya telah disalurkan sebagian kepada sang ayah. Kini dirinya hanya berharap, kalau ayahnya bisa mengalahkan Dewa Ketua.


Keadaan yang tidak menguntungkan, dirasakan oleh Penus. Setiap serangan yang dilakukannya, tidak berarti apa-apa untuk Dewa ketua yang telah berubah menjadi Monster.


Tubuh yang dipenuhi oleh sisik tebal dan berduri, belum lagi sayap yang besar serta lebar. Sekali kepakan bisa menghembuskan angin yang sangat kencang.


Jangankan untuk menyerang, mendekat sekalipun sangat sulit untuk dilakukan oleh Penus. Lalu, bagiamana dia bisa mengalahkan Dewa Ketua.


"Apakah ini?" pekik Penus yang melihat cahaya yang terang yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya, kekuatan yang sangat dahsyat. Datang diwaktu yang tepat, tetapi dia belum mengetahui kekuatan apa yang tengah meningkat didalam tubuhnya.


Disaat Penus kebingungan dengan apa yang terjadi kepada tubuhnya, Satria memejamkan kedua matanya dan merasakan energi yang berada ditubuh sang ayah.


Sebuah kekuatan yang sangat besar dan langka yang bisa di turunkan kepada sang pewaris yang masih memiliki darah keturunan, hal itu yang Satria rasakan.


Dia semakin yakin, kalau ada kekuatan yang sangat besar di dalam tubuh ayahnya. Tetapi belum keluar sepenuhnya, karena sang ayah yang terlalu lama tinggal di dunia manusia dan kehilangan kemampuan intelektual.


"Luar biasa!" teriak Penus tiba-tiba. Dia merasakan kekuatan yang lebih besar daripada yang ditransfer oleh satria sebelumnya, kini tatapannya menjadi tajam. Seperti seekor burung elang yang sedang melihat ular, dia pun terang dengan tinggi dan menargetkan Dewa ketua sebagai mangsanya.

__ADS_1


Kini Penus bisa terbang dengan bebas, setelah kekautannya yang meningkat dan mampu mengimbangi kekuatan Dewa Ketua.


Tentu saja hal itu membuat Dewa Ketua merasa tidak senang dan semakin gencar melakauakn serangan, tidak ada jeda. Mereka saling menerang dan melemaprkan energi yang dimilki.


Buar


Dor


Saura lentuman demi lentuman terdengar sangat kerasa dan nyaring, seperti perayaan kembang apa ditahun baru. Bahkan kilatan cahaya yang berwarna mengerikan terus-menerus terlihat. Penus dan Dewa Ketua mengeraghkan semua kekuatan yang dimilki, demi memangkan pertarungan ini.


Bukan hanaya sebagai adu gengsi atau ingin memilki dunia Albiru, tetapi untuk menjadi Dewa yang paling terkuat dan berkuasa. Itulah tujuan keduanya, tanpa mereka sadari. Jika hal itu salah dan bisa mengundang kemarahan dari Dewa di aras Dewa. Yiatu, Dewa Tertinggi.


"Menyerahlah, manusia!" teriak Dewa Ketua yang mulai merasa kelelahan. Tubuh yang berubah menjadi monster, memiliki kelemahan. Hal itu baru Dewa ketua sadar, ketika energinya terus menurun.


Bruk


Suara tubuh Dewa Ketua yang tumbang dan menghantam tanah, dia berguling-guling beberapa kali. Sampai berhenti dengan keadaan yang sudah dipenuhi oleh luka dan darah segar, tubuh bagian dalam ikut terluka di tambah bagian luar yang tak luput dari serangan.


"Aw!" pekik Dewa Ketua dengan nada yang pilu. Dia belum pernah merasakan, rasa sakit yang begitu menyiksa. Selama menjadi Dewa, dia merasa nyaman dan tidak pernah merasakan bagian tubuhnya sakit atau terasa perih. Setelah berubah menjadi seekor monster, Dewa ketua merasakan rasa sakit itu.


"Apa artinya ini?" Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Dewa ketua berusaha untuk bangun kembali. Walaupun tertatih dan rasa sakit yang amat besar, Dewa ketua ingin meneruskan perterungan ini.


Namun, keinginannya hanya tinggal sebuah keinginan yang tidak akan pernah terjadi. Penus datang dan mengunuskan sebuah pedang, tepat dilehernya. Seketika, kepada Dewa ketua terpenggal. Darah memucah dengan deras, seperti keran bocor.


Kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Dewa Ketua, yaitu bertransmigrasi menjadi monster dan meninggalkan tubuhnya yang Dewa. Tentu saja hak itu berakibat sangat fatas, karena tubuh Dewa berbeda dengan Monster.

__ADS_1


Dewa bisa hidup kembali dan tubhnya akaan kmbali utuh, kecuali roh yang akan menuju ke alam roh. Sedangkan seekor Monster, bisa lebur dan rusak. Bahkan kematian yang tragis sudah menjadi suratan takdir seekor Monster.


Ingin menjadi kuat dan tidak terkalahkan, tetapi berujung kepada kematian yang sangat mengerikan. Hukum alam sudah tertulis sejak makhluk hidup di dunia, dimana ada kekuatan. Maka, ada kelemahan. Semuanya memiliki dua sisi baik dan buruk, sebagai penyeimbang dari sebuah keharmonisan hidup.


"Aku akan membuat rohmu tidak bisa berekarnasi lagi!" Geram Penus dan memotong-motong tubuh Dewa Ketua yang telah tidak bernyawa, sampai menjadi potongan yang kecil.


Belum puas dengan apa yang dilakukannya, Penus meminum darah musuhnya dan tertawa dengan aneh. Satria yang melihat apa yang dilakukan oleh sang ayah sudah melampaui batas. Mmebuatnya harus melakukan aksi lelaki itu dengan secepatnya.


"Ayah, hantikan hal itu!" teriak Satria dengan nada tinggi.


Penus berbalik badan dan menatap kearah Satria dengan tatapan tajam dan penuh akan energi negatif, hal itu dirasakan oleh Satria yang dengan cepat merespons gerakan ayahnya yang ingin menyerang.


"Aku Satria, putramu," jelas Satria yang merasa was-was, terlihat ayahnya sudah mulai kehilangan kendali pada kekuatan yang dimiliki. hingga ingin menyerangnya.


Kekuatan yang hebat dan besar, harus diseimbangi dengan kemampuan diri yang memadai. Kalau tidak, maka kekuatan itu yang akan mengendalikan orang segalanya.


Bahkan, bisa meregut segala-galanya. Satria telah menyadari hal itu, sesaat melihat bola mata ayahnya yang telah berubah. Tidak ada lagi belas kasih dan kasih sayang di dalamnya, yang ada hanya ambisi untuk membunuh dan menguasai dunia.


Dengan secepat kilat, Penus melakukan serangan. Namu, bisa Satria hindari. Dia tidak mungkin melawan ayahnya, tetapi kalau dia hanya menghindar. maka dirinya akan terancam dan terbunuh.


Satria pun berfikir keras, mencari cara untuk menyadarkan ayahnya. Akan tetapi, otaknya buntu. Dia tidak bisa berfikir dengan jernih, kalau terus menerima serangan dari Penus yang tidak ada henti-hentinya.


"Ayah!"


Berulang kali Satria memanggil nama ayahnya, namun tidak digubris oleh lelaki itu. Kini hanya mereka berdua yang bertarung, yang lainnya sudah tidak ada di sana. Langit yang mulai menghintam, disebabkan cahaya matahari yang telah padam. Membuat Satria terdesak, hingga tanpa senjata melepaskan kemampuan Heypersexnya.

__ADS_1


__ADS_2