Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 79


__ADS_3

Buar


Suara hentaman yang begitu kuat berasal dari jendela, Key segera berlari dan mengaitkan sebuah jimat di atas talang jendela.


Satria melihat apa yang dilakukan oleh Key menjadi penasaran dan akhirnya bertanya, "Apa yang kamu sedang lakukan?"


Key menatap sekilas ke arah Satria, kemudian ia kembali menatap jendela yang telah kembali tenang barulah Key berjalan dengan gontai ke arah ranjang.


Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang sambil menatap langit-langit yang berupa kulit pohon. Rumah yang mereka bangun menggunakan pohon besar yang dilubangi dan ada beberapa bagian bawahnya yang di jadikan seperti ruang.


Key berharap berada di rumah seperti ini bisa menekan perasaan Lilly untuk berubah, namun nyatanya tidak.


Selama masih ada Manusia lain di dunia ini dan akan bertemu dengan mereka. Maka, selama itulah Lilly akan berubah.


Satria mengikuti langkah Key dan duduk ditepi ranjang dengan mata yang masih tertuju kepada pemuda itu.


Dengan perasaan penasaran yang begitu tinggi, Satria menanyakan tentang benda yang Key gantung tersebut.


"Key, benda apa yang kau gantung tadi? Tapi, sepertinya begitu berpengaruh kepada pergerakan Lilly?"


Pemuda itu pun menjelaskan bahwa benda itu merupakan sebuah jimat pelindung yang pernah di berikan oleh seorang pendeta tua, sebelum Lilly menjadikan pendeta tersebut sebagai kudapan.


Satria menelan silvernya kasar setelah mendengar pengakuan dari Key, antara penasaran dan juga merasak takut kepad jelmaan Lilly.


"Kenapa Pendeta itu bisa tertangkap oleh Lilly? Sedangkan dia memberikanmu sebuah jimat?" tanya Satria.


"Itu karena Pendeta itu menjalankan rencana sepertimu tadi, dia menjadi umpat untuk membawa Lilly pergi. Namun, berakhir menjadi sebuah kudapan," jelas Key. Dia masih ingat bagaimana sempat berfikir bahwa seorang pendeta bisa membantunya.


Namun, di saat Key sedang berada di hutan untuk mencari beberapa buah dan berburu binatang. Dirinya mendapati pakaian Pendeta itu sudah berlumuran cairan berwarna merah dan berbau amis.


Tidak ada kerangka tulang atau apapun saat itu, Key hanya menemukan pakaian terkahir dari Pendeta itu saja.


Satria berginik ngeri mendengar cerita Key, tapi masih ada hal yang mengaggunya. Key sempat mengatakan bahwa sering mengajak Lilly bercumbu.


"Key, ada satu hal yang ingin aku ketahui. Setidaknya aku ingin memastikan, bahwa firasatku benar," jelas Satria dengan raut wajah serius.


Key tertarik dengan apa yang baru saja Satria ucapkan dan memilih bangun lalu duduk sejajar dengan Satria.


"Katakan saja, apa itu?" tanyanya dengan penasaran.

__ADS_1


"Apakah kamu bercumbu dengan Lilly dengan keadaannya menjadi seekor ular?"


Key tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Satria tersebut, ia sampai memegangi perutnya yamng terasa keram akibat tertawa.


Bahkan air matanya menetes, merasa pertanyaan itu tidak masuk akal. Tentu saja sikap Key membuat Satria merasa jengkel.


Satria berniat untuk melepaskan kemampuan Heypersexnya, kalau perkiraannya benar. Sebab kemampuan Heypersex begitu dibutuhkannya saat ini.


"Jawab saja! Tidak perlu mengejerk seperti itu!" balas Satria dengan perasan dongkol.


"Oke, oke, aku sudah kelewatan."


Key berusaha keras menghentikan tawanya, sampai ia kembali menguasai diri. Key menatap serius ke arah Satria.


"Aku bercumbu dengan Lilly di saat dia berubah menajdi ular," jelas Key.


Satria mengelus dadanya mendengar jawaban Key, sekarang ia tengah memikirkan sebuah cara agar bisa mendekati Lilly.


Namun, di saat Satria tengah berfiki Key kembali bertanya, "Apakah kamu mau bercumbu dengan Lilly?"


Satria mengangkat bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan Key barusan, seraya mengusap dagunya tengah berfikir keras.


Mendengar penjelasan Key membuat Satria tersenyum kecut, ia tidak bisa membayangkan bercumbu dengan Lilly dan menyetuh tubuh berlendir itu.


Membayangkannya saja membuat Satria merasa geli, tapi dipikir lagi. Bagiamana cara membuat Lilly tenang dan tidak menaci kudapan, menambah perasaan tidak nyaman.


"Mau ke mana kamu?" pekik Key yang melihat Satria ingin beranjak.


"Menemui Lilly," balas Satria cepat.


Key menatap tidak percaya punggu Satria yang telah berada di depan pintu. Ia yakin sekali kalau Satria akan bernasib seperti beberapa orang yang telah menjadi kudapan Lilly.


Key tidak memiliki kekuatan apapun untuk menghalanginya, memikirkan keadaan seperti saat ini saja Key sudah tidak bisa berkata-kata.


"Semoga berhasil," Key berdoa untuk Satria.


Satria yang masih bisa mendengar ucapan Key mengangkat tangannya dan menaikan jempol, ia tidak tahu rencananya akan berhasil atau tidak sebelum mencobanya.


Satria kembali menuju kamar yang sebelumnya, entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa Lilly ada di sana. Sebab ada bau tubuhnya yang mash teringgal, kamar pertama kali dirinya berada disini.

__ADS_1


Perlahan-lahan Satria mendorong pintu dan terdengar suara decitan, Satria mengedarkan penglihatannya. Sampai matanya menangkap sosok yang di cari tengah berada di atas ranjang.


Tiba-tiba saja silvernya yang ditelan dengan kasar terasa pahit, tidak seperti sebelumnya yang terasa asin.


Mungkinkah sudah waktunya ia akan kembali ke alam roh dengan cara menjadi hidangan siluman. Memikirkan hal itu membuatnya menjadi tidak semangat.


"Siapa itu?"


Suara yang begitu lembut menyapanya, ingin sekali Satria berteriak dan lari. Tapi ia tidak akan melakukann hal itu saat ini.


Dengan langkah yang pelan, Satria mendekati ranjang di mana Lilly terbaring dengan posisi yang menantang.


Andaikan saja tubuh Lilly kembali seperti Manusia, kemungkinan besar Satria akan naik ke ranjang dengan suka rela.


"Aku Satria," terang Satria dengan susah payah.


Menggoda Dewi begitu mudah dan mahir ia lakukan, tapi tidak saat ini. Apakah Satria telah terkena karma? Sebab mengantung dan memermaikan perasan Haruna dan Alice.


Sampai berada di posisi terjepit seperti ini, setidaknya ia harus tetap hidup demi mencari Dewi Haruna dan membuat perhitungan dengan wanita itu.


Sebab, hanya Haruna yang bisa mengembalikan kekuatan Dewanya kembali seperti semula. Selama ia belum bisa bertemu dengan Haruna, maka selama itu pula akan menjadi Manusia biasa.


"Duduklah Satria, apa yang kamu inginkan?" tanya Lilly dan langusng melilit tubuh Satria dengan tubuhnya.


Benar apa yang dikatakan oleh Key, hanya tubuh Lilly yang menjadi ular. Sedangkan kepalanya tetap Manusia, Satria menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Satria mulai melancarkan aksinya dengan menarik pelan kepala Lilly agar mendekat, ia membisikan sesuatu yang membuat siluman itu tertawa.


"Apa kamu yakin?" tanyanya dengan tersipu.


"Tentu saja, kamu begitu cantik dan memikat sejak pertemuan pertama kita," terang Satria.


Ya, walaupun menjadi Manusia. Bukan berarti Satria kehilangan kemampuan dan jurus untuk menaklukkan wanita.


Sekalipun kekuatan Heypersexnya tidak seperti sebelumnya yang bisa menghasilkan anak dalam sekejap mata.


Namun, kemampuan Heypersex masih bisa digunakan dalam keadaan bercinta seperti ini. Selama senjatanya masih utuh.


"Baiklah, lakukan apapun yang kau suka," bisik Lilly tepat di telinga Satria.

__ADS_1


__ADS_2