Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 28


__ADS_3

Sekali hentakan, Satria membuat angin yang sangat kencang dan mampu menerbangkan. Apa yang ada di hadapannya, tetapi Dewa tertua belum menyerahkan.


Dia kembali menyerang Satria lagi dan lagi, hingga Satria membuatnya kewalahan. Sampai terdesak, namun masih belum mau mengakui. Jika, dirinya kalah.


"Apa masih ingin melawan?" tanya Satria dengan angkuhnya. Sekali sentakan lagi, dia bisa menyumbang Dewa tertua.


"Jangan sombong! Karena, merasa hebat. Setelah menjadi Dewa dengan cara menipu!" Dewa Ketua sangat kesal dan marah kepada Satria, dirinya tidak menyangka. Kalau, bisa tertipu dengan begitu mudahnya. Apalagi, kepada manusia biasa seperti Satria.


"Menyerah! Atau ... aku akan membatalkan perjanjian kita!" kata Satria dengan sorot mata serius.


"Perjanjian?"


"Iya, perjanjian!" balas Satria dengan cepat.


Dewa ketua hanya bisa mendesah, dia tidak memiliki pilihan lain. Jika, terus melawan? Maka, dirinya akan semakin malu dan tentunya. Nama besarnya akan jatuh seketika, membuatnya memilih untuk berdamai dengan Satria.


"Baiklah! Berikan aku perjanjianmu!" balas Dewa Ketua dengan nada yang masih sombong dan tidak mau ditahlukkan.


Satria tersenyum sinis, kemudian menyentuh tubuh Put dan Sis. Tiba-tiba saja, kedua Blogger tersebut mengeluarkan banyak sekali telur.


Kemampuan keluarga Lubis, memang menurun dengan sempurna kepada Satria. Kekuatan Heypersex yang sangat luar biasa dan tidak masuk akal.


Kini, Put dan Sis menjadi lemas. Setelah mengeluarkan banyak sekali telur Blogger, sedangkan Satria menatap Dewa Ketua yang semakin nampak geram dengan apa yang dilakukan olehnya.


"Aku sudah melunasi janji! Dengan ... memberimu! Banyak keturunan!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Satria terbang begitu saja. Sekarang, dirinya adalah Dewa. Tidak ada mahkluk yang bisa melawan kekuasaan dan kekuatannya saat ini.


Sungguh, pencapaian yang sangat memuaskan dan cepat. Membuat Satria ingin melakukan, semua hal yang dulu tidak bisa dilakukannya.


Sedangkan Dewa ketua, hanya bisa menatap kepergian Satria dengan emosi yang tertahankan.


"Aku harus melakukan sesuatu," gumamnya dalam hati.


***


Menjadi Dewa memang sangat luar biasa, apalagi didapatkan dengan begitu mudahnya. Membuat Satria, menjadi orang yang berbeda dalam waktu sekejap mata.


Ketika, dirinya terbang dan mencari keberadaan Hunter H yang merupakan putranya. Tanpa sengaja, ia melihat Jennifer dan Antonio yang tengah berjalan dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Tubuh keduanya yang telah menjadi raksasa, membuat kedua orang tersebut kesulitan untuk kembali pulang dan harus tinggal didunia Albiru.


"Kalian mau kemana?" tanya Satria dengan tenang. Seraya turun perlahan, tanpa berpijak ke tanah.


Jennifer dan Antonio yang melihat kedatangan Satria menjadi terkejut. Terlebih, Satria yang melayang di udara. Membuat mereka saling pandang dan menggelengkan kepala, tidak percaya.


"Aku bisa mengabulkan permintaan kalian! Dengan suatu syarat," kata Satria yang bisa membaca keinginan kedua orang yang berada dihadapannya dengan mudah.


Saat ini, merupakan sebuah kesempatan yang snagat bagus baginya. Untuk menyelesaikan satu demi persatu, misi yang telah dimulai. Dengan mengunakan kedudukannya sebagai Dewa, dia bisa memperalat orang lain dengan mudah.


"Apa yang bisa kamu lakukan? Maaf, kami tidak melayani sebuah kebohongan!" kata Antonio dengan angkuh dan menatap kearah Satria dengan merendahkan.


Apa yang dilakukan oleh Antonio, membuat Satria menatap tajam kearah pamannya Alice itu dan memberikan sebuah kejutan yang luar biasa. Dengan merubah Antonio, menjadi manusia kembali.


Jennifer yang melihat, apa yang Satria lakukan menjadi terpana dan kemudian memohon. Agar, dirinya bisa dirubah juga. Menjadi manusia.


"Namamu Satria, bukan? Tolong ... buat diriku kembali seperti manusia.


Sedangkan Antonio yang baru menyadari, perunahan dratisnya. Menatap takjub kearah Satria, dia pun ikut memohon dan memuja Satria.


Kedudukan dan kekuatan, bisa membuat semuanya menjadi mudah. Sehingga, berada dibawah kendali dan gegemana tanggannya. Satria benar-benar, sangat menyukai menjadi seorang Dewa.


Satria menatap serius kearah Jennifer dan Antonio, hingga kedua orang itu mengangguk dengan patuh.


"Katakan, apapun itu! Aku bersedia," kata Antonio, seraya memebrikan hormat kepada Satria.


"Aku juga, katakanlah," tambah Jennifer. Lalu, merendahkan kepalannya.


Satria pun segera merubah Jennifer, menjadi manusia kembali. Dia telah berhasil mengambil kesetiak kedua orang tersebut, tinggal memanfaatkannya saja.


Setelah merubah Jennifer, Satria memerikan perintah. Untuk membawanya, bertemu dengan Alice dan menjelaskan. Anak yang dikandung oleh Alice, siapa ayahnya.


Jennifer agak ragu, menjelaskan. Apa yang Satria ingin ketahui, dan meminta penangguhan waktu. Hingga, mereka bertemu dengan Alice.


"Maaf, Satria. Bukan sebaiknya? Jika, anda yang bertanya langung, kepada Alice?" kaya Jennifer dengan hati-hati.


"Baiklah! Ayo kita berangkat!" balas Satria dengan enteng. Dia tidak mempersalahkan, jika Jennifer tidak mau memebritahukan tentang ayah Alice. Karena, nanti dirinya sendiri yang akan bertanya hal tersbeut kepada Alice.


Satria mengakat tubuh Antonio dan Jennifer, kini mereka terbang. Seraya menuju ke tempat, dimana ada Alice.

__ADS_1


Selama diperjalanan, Jennifer yang sudah lama berada di dunia Albiru. Tidak menyia-nyiakan kesempatan langka, bisa melihat semuanya dari atas langit.


Dia semakin kagum, dengan dunia yang didominasi dengan warna bieru tersebut. Sesuai dengan namnaya, hingga dari kejauhan. Terlihat tempat perkumpulan.


"Disana!" teriak Jennifer. Seraya menujuk sebuah banguan dengan ukuran yang snagat besar, sama seprti benteng pertahanan.


Bukan hanya besar, tetapi banguan tersebut snaagt tinggi dan mencapai berberapa tingkatan. Seperti piramida.


Satria membawa Jennifer dan Antonio, untuk turun perlahan di depan gerbang. Dia sangat penasaran dengan tempat tersebut, karena belum pernah masuk ke sana.


"Apa benar, disini tempatnya?" tanya Satria ingin memastikan dan mendapatkan amnggukan kepala dari Jennifer.


"Maaf, Satria. Hamba harus undur diri, karena ... ada yang harus di lakukan," terang Antonio dengan hormat.


Satria menatap Antonio dengan nanar, serta merasakan. Jika, ada sesuatu yang disembunyikan oleh lelaki itu. Nmaun, bukan hal yang berarti dan membuatnya memberi izin.


Sedangkan, dirinya memilih untuk mengikuti Jennifer yang akan membawanya menemui Alice. Hal ini, lebih penting. Daripada, mencari tahu. Apa yang akan dilakukan oleh Antonio.


"Terimakasih, Satria," kata Antonio dengan senyum yang aneh dan pamit undur diri.


"Pergilah! Sebelum, aku berubah pikiran!" balas Satria dan mulai melangkah.


Dia memerintahkan Jennifer, untuk menuntunya. Menuju tempat Alice. Wanita itu denga patuhnya, menuntun Satria.


Mereka berjalan dengan perlahan, menyelusuri bangunan yang sangat luas dan besar tersebut. Satria masih belum mau menyentuh lantai, dirinya lebih suka untuk terbang melayang.


Hingga, mereka berada di depan sebuah pintu yang berukuran lumayan besar dengan beberapa ukiran yang indah di daun pintu yang terbuat dari kayu tersebut.


Sebelum masuk, Jennifer mengetuk pintu dan menunggu. Jawaban dari dalam dengan perasaan yang cemas.


Tok


Tok


"Siapa!" teriak seseorang dari dalam.


"Ini Ibu!" balas Jennifer dengan keras.


"Ibu?" gumam Satria tidak percaya.

__ADS_1


"Pergilah!"


__ADS_2