
Keadaan menjadi semakin tengang disaat Profesor Ruden menyinggung sikap Satria yang melemparkannya ke suatu tempat yang asing, seakan tidak terima akan hal yang telah terjadi. Profesor Ruden menyudutkan terus Satria.
"Ternyata seperti ini kelakuan seorang Dewa? Katanya akan mengabulkan permintaan siapapun yang meminta, tapi nyatanya ... ."
Buar
Belum sempat Profesor Ruden menyelesaikan sindirannya, Satria melayangkan sebuah serangan yang tiba-tiba.
Kilatan api yang menyambar seperti petir telah menghantam tubuh lelaki paruh baya itu dan membuatnya terpental seketika.
Satria tidak main-main dalam melakukan sebuah serangan, ia memusatkan energinya dan langsung melemparkannya begitu saja kepada Profesor Ruden.
Begitu cara Satria untuk membungkamkan mulut yang membuat darahnya berbesir memanans, sungguh cara yang luar biasa untuk membinaskan seseorang.
"Aku telah memebrikan apa yang kau pinta! Yaitu untuk memiliki Haruna, tapi ... dari dimensi yang lain. Bukan Haruna milikku."
Satria melipat kedua tangannya seraya menatap ke arah Profesor Ruden yang tergelak begitu saja dengan keadaan tengkurap.
Secara perlahan lelaki itu mengangkat kepalanya, sorot mata yang diisi oleh sebuah kebencian dan rasa dendam nampak begitu nyata.
"Uhukkk ... darah!"
Profesor Ruden yang sempat terbatuk dan tidak sengaja mendapati adanya darah yang keluar dari mulutnya begitu tidak percaya akan apa yang tengah terjadi.
Satria benar-benar ingin melenyapkannya, apa yang harus ia lakukan untuk menghindari kegilaan Satria? Sedangkan dirinya kini tengah terluka, dengan sisa tenanga yang ia miliki. Profesor Ruden berusaha untuk bangun.
Tubuhnya terasa sakit seolah baru saja terhempas dari langit dan terjatuh begitu saja ke tanah, bahkan ia bisa merasakan denyut nadinya yang kian melemah .
Apakah sudah waktunya lelaki paruh baya sepertinya kembali ke alam Roh, sedangkan cintanya masih tertinggal di dunia ini.
"Kau memang hebat Dewa S, tapi ... aku tidak akan pernah menyerah untuk bisa mendapatkan Dewi Haruna!" pekik Profesor Ruden dengan lantang.
Lelaki paruh baya itu seperti tengah menantang sorang Satria, tapi dia melupakan satu hal yang paling penting.
__ADS_1
Satria yang sekarang adalah seorang Dewa dan dia bisa melakukan apapun yang diinginkan, tanpa ada yang bisa menghalanginya.
Dengan penuh kepercayaan diri, Satria berjalan perlahan mendekati Profesor Ruden yang sudah pada batasannya.
Tubuh seorang Manusia biasa tidak akan pernah sama dengan seorang Dewa, bahkan masa pemulihannya pun begitu berbeda.
"Aku akan memberikanmu satu kesempatan, kali ini jangan disia-siakan," kata Satria ketika tepat berada di hadapan Profesor Ruden.
Tidak ada raut perasaan iba di wajah Satria, di saat melihat lelaki yang dulu telah banyak mengajarkannya tentang ilmu bela diri dan mantera.
Seakan tidak berbalas budi, apa yang Satria lakukan kepada Profesor Ruden memang kejam. Namun, dia masih memberikan satu kesempatan lagi untuk lelaki paruh baya itu.
Satria tidak ingin Profesor Ruden menjadi ancaman baginya suatu hari nanti, kalau tetap di bairkan berada di dunia yang sama.
Setidaknya, Satria harus menyngkirkan lelaki itu sejauh mungkin. Terbelih perasaan Profesor Ruden yang ingin memiliki Haruna merupakan suatu kesalahan yang fatal.
"Satu kesempatan? Cih! Kau memang sombong!"
Ptofesor Ruden masih saja berbicara dengan nada yang memancing kemarahan Satria, entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu. Dalam keadaannya seperti ini saja dia masih berkata sedemikian rupa.
Satria yang geram pun menendang tubuh tidak berdaya Profesor Ruden, lelaki itu berguling-guling dan berhenti tepat di bawa kaki Haruna.
Tatapan wanita cantik itu beruba mengelap, ketika melihat keadaan Profesor Ruden yang sekan menunggu waktu kepergiannya saja.
Dengan penuh perhatian Haruna mengangkat kepala Profesor Ruden dan menaruhnya di atas pangkuannya. Perlahan dia menghapus jejak cairan yang berwarna merah, ingin sekali dirinya marah. Namun tidak bisa.
"Haruna, ingatlah aku," lirih Profesor Ruden dengan tatapan sendu.
Profesor Ruden hanya ingin Dewi Haruna mengingat kembali kenangan yang pernah mereka lalu bersama, sebab Haruna yang pernah meninggalkan sebuah kenangan indah yang tidak akan pernah dirinya lupakan.
Dengan sisa tenanga yang ia miliki, Profesor Ruden menyentuh tangan Haruna dan menautkan. Mengalirkan energi yang dimiliki kepada wanita cantik itu. Brharap secercah ingatan di masa lalu bisa kembali muncul.
Di saat Haruna memejamkan matanya dan merasakan desiran yang aneh masuk kedalam benaknya di saat itulah, ia bisa melihat sebuah protret dirinya di masa lampau.
__ADS_1
"Haruna jangan lari-lari!" teriak seseorang pemuda yang begitu tampan dengan postur tubuh tinggi dan kulit yang putih mengajar Haruna yang masih kecil.
Mereka tertawa bersama di saat pemuda itu berhasil menangkap Haruna, sebuah keadaan yang begitu indah untuk di lihat.
Di saat canda dan tawa mereka yang begitu renyah terdengar, tiba-tiba saja awan menjadi gelap gulita menyelimuti hari yang awalnya cerah dan indah.
Haruna yang merasa ketakutan memeluk pemuda yang berada di sampingnya, keadaan semakin mencekam ketika terdengar lentuma-lentuman petir menyambar.
"Aku takut, Ruu ... takut sekali," keluh Haruna yang mulai terisak. Di saat itulah dia pobia akan kegelapan dan kenangan tersebut membuat Haruna mengingat siapa pemuda yang memeluknya.
"Ruden!" Sentah Haruna dengan membuka matanya lebar, senyuman Profesor Ruden pun mengembang dengan sempurna.
Rencananya berhasil, dia bisa membuat Haruna mengingat dirinya kembali. Kenangan di masa lalu, di saat mereka masih bersama. Sebelum seorang Dewa membawak Haruna pergi untuk selamanya.
Nasib baik Profesor Ruden bisa bertemu dengan malaikat kecil yang telah membawa sebagian dirinya dan cinta yang tulus, kini telah kembali.
"Aku Ruu, kamu sudah bisa mengingatnya?" Profesor Ruden bertanya dengan penuh harapan, satu-satunya alasan kenapa ia masih bertahan hidup hingga sekarang hanya untuk Haruna
Andaikan dia harus pergi, Haruna pun harus ikut dengannya. Seperti itulah janji yang mereka berdua pernah ucapkan.
Di saat Haruna dan Profesor Ruden tengah bernostalgia, Satria datang dan menarik dengan paksa tangan lelaki paruh baya itu.
Tanpa perasaan lagi, Satria mulai muak dengan sikap yang ditunjukkan oleh Profesor Ruden. Dirinya sekaan telah kehabisan kebaikan dan ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat.
"Satrai!" teriak Haruna menghentikan langkahnya, dia menatap sekilas ke arah wanita yang begitu di cintainya itu dan menatap ke arah profesor Ruden yang berada di bawahnya.
Tidak, Satria tidak ingin merasa iba sama sekali. Dia tidak ingin kehilangan Haruna dengan alasan apapun juga. Sekalipun perbuatannya itu kejam, asalkan Haruna masih berada di sampingnya.
"Aku tidak akan memberimu pilihan lagi, ucapkan selamat tinggal pada semua hal yang kau sukai," ucap Satria dengan seringai yang begitu menegrikan dan dia kembali mengirim Profesor Ruden ke suatu tempat di mana lelaki itu tidak bisa kembali lagi.
Haruna menjerit histeris, ketika tubuh Profesor Ruden yang perlahan lenyap begitu saja. Bahkan bayang-bayangnya mulai memudar.
"Ruu ... ."
__ADS_1
---
---