
Ketika, mata Satria sudah mulai terbuka dengan perlahan. Dia sudah berpindah tempat, ternyata cahaya tadi. Merupakan pembuka sebuah portal, kedunia lain.
Namun, naasnya. Satria berada di dalam keadaan yang sangat sulit. Membuat dirinya belum siap, dan tiba-tiba saja. Sebuah anak panah terbang dan menuju ke arahnya.
"Satria!"
Terdengar lagi, suara terikan seseorang. Satria menatap anak panah tersebut dengan nanar.
"Aku belum siap untuk mati!"
Dengan mudahnya, Satria menghidari anak panah tersebut. Keadaan disekitarnya, sungguh mengerikan. Saat ini, Satria tenagh berada di sebuah perang.
Namun, ia tidak mengetahui. Dimana dan tempat apa, yang ada di hadapnnya. tetapi, bisa dilihat dengan jelas.
Jika, banyak sekali kaum Hunter yang tengah bertarung dengan pedang dan juga anak panah. Hal itu, membuat Satria menyadari satu hal yang pasti.
Kalau, dirinya berada di dunia Albiru.
"Satria!"
Lagi dan lagi, namanya di panggil. Membuat satria tersadar dan seegra mencari asal suara tersebut dan matanya menangkap sosok tersebut.
__ADS_1
Dengan terpopoh, seorang Blogger mendekati Satria dengan tubuhnya yang sudah dipenuhi oleh darah dan juga lupa. akibat berperang.
Entah bagaimana bisa, kaum Hunter menyerang Blogger. Padahal, selama ini. Mereka hidup damai dengan tidak seling bersinggungan.
Namun, ketika Satria kembali kedunia Albiru. Dia malaahn mendapati keadaan yang sangat mengenaskan. Seperti sekarang.
"Bob! Ada apa ini?" tanya Satria dengan sorot mata serius.
Bruk
Tubuh Bob terjatugh dan menggetarkan tanah, dimana Satria berpijak. Ukuran Blogger yang besar tersebut. Ditambah berat badannya yang luar biasa, tentu saja. Mampu menguncangkan tanah.
"T–to–ol–lo–ng!"
Satria peranh berhutang budi, kepada keluarga Bob. Dia tidak bisa menerima keadaan Blogger tersebut yang di serang dengan membabi–buta.
Hingga, Satria memutuskan. Untuk ikut menyerang Hunter, dia mengambil anak panah yang sempat menuju ke arahnya.
Sebelum maju, Satria mengucapkan kata-kata terakhir kepada Bob. Blogger tersebut telah tewas dengan sebuah anak panah yang terhunus, tepat kejantungnya dari arah belakang.
Satria mulai mengayunkan anak panah yang, akan dijadikan olehnya sebagai tombah dan untuk menyerang para Hunter.
__ADS_1
Ada sekita sepuluh Hunter yang ada disana, sedangkan Blogger. Hanya ada satu, yaitu Bob. Tentu saja, Bob kalah telak.
Apalagi, dengan Satria yang seroang diri dan tubuhnya yang kecil. Sudah bisa dipastikan, lelaki itu juga akan tewas.
"Hahaha ... kamu mau apa?" tanya seorang Hunter yang melihat kedatangan Satria yang seolah tidak memiliki ketakutan sama sekali.
"Hey! Lihat! Ada makhluk kurcaci!" ejek Hunter yang lainnya, seraya menunjuk ke arah Satria.
"Evalus!" teriak Satria dan mengarahkan jari telunjuknya ke Hunter yang mengejeknya tersebut. Serta, Satria lanjutkan ke Hunter yang lainnya.
Mantra pertama yang Satria pelajari dan sudah dikuasa dengan baik oleh dirinya, ternyata mantra tersebut bisa dijadikan senjata yang mematikan untuk menyerang para musuh dengan lebih efesen.
Dengan cepat dan mudahnya, Satria menjatuhkan satu–persatu para Hunter tersebut terjatuh dan dengan percaya dirinya Satria menaiki tubuh Hunter tersebut.
"Besar sekali, nyalimu!" kata seorang Hunter yang mendekati Satria, dia merupakan Hunter yang terakhir. Tubuhnya, tidak terlalu besar dengan seperti Hunter yang lainnya.
Namun, Satria bisa merasakan sebuah energi yang sangat kuat yang Hunter itu pancarkan. Bahkan, Satria meyakini. Jika, Hunter tersebut merupakan ketuanya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Satria dengan sorot mata yang tajam. Seolah, siap untuk menghadapi Hunter yang terakhir yang berada di hadapannya tersebut.
"Kematianmu!"
__ADS_1
-