
Jenna sampai ke rumah sudah hampir pukul 22.00. Walaupun sudah menelpon orang rumah. Juga ayah dan ibunya. Tetap saja Dokter Arunika tidak bisa tenang. Dia segera memakai jaket tebal di luar baju tidurnya demi menunggu si bungsu pulang ke rumah dalam keadaan selamat.
Suara mobil Honda Jazz yang Jenna kendarai mulai memasuki halaman depan rumah. Saat lampu mobil itu yang menyorot ke jendela kaca depan ruang tamu sudah cukup melegakan hati wanita itu.
" Mama?" seru Jenna kaget ketika naik ke lantai dua, menuju kamarnya dengan tas kerjanya yang digotong di tangan kanannya. Ibunya sudah menunggu di kursi dekat pintu depan pintu kamarnya itu.
"'Kamu nggak apa-apa, Jenna?" tanya wanita itu berusaha tenang.
" Aku baik-baik, Mam! Yang parah Bang Marvin... Dia sampai bonyok dihajar orang - orang suruhan Kak Farhan."
" Sst, kita bicara di dalam kamarmu...Jangan sampai Karolina sampai mendengar hal ini!"
" Tapi aku mau mandi sama belum makan, Ma!"
" Sana cepat mandi pakai air hangat...Nanti Mama suruh Mbak Ayu menyiapkan makanan dan membawanya ke sini!"
Jenna segera masuk ke dalam kamar mandi pribadinya... Kamar tidur Jenna benar - benar apik dan bersih, walaupun tampa hiasan apapun yang menampilkan sisi kewanitaan yang feminim. Kehidupan itulah yang telah diterapkan oleh kakeknya,
sejak Jenna ikut keluarga mereka di Sentul. Jenna menjadi pribadi yang tenang, mandiri dan disiplin. Kata orang Jawa bilang, tidak neko-neko!
Di sela-sela obrolan antara ibu dan anak itu ada jeda dengan beberapa panggilan telepon dari Bang Tedi dan Bang Fendi. Kalau kakaknya itu lebih banyak melaporkan tentang Marvin yang sudah keluar dari ruang operasi. Ada tulang rusuknya yang retak akibat tendangan itu. Sementara Bang Fendi sibuk mencarikan tempat menginap buat Ibu Marvin yang tampak kalut melihat keadaan putra bungsunya itu babak belur dan menjalani operasi yang cukup lama. Wanita tua itu bersikukuh tetap menunggui anaknya yang masih berada di ICU.
" Jenna, kamu besok berangkat kerja sendiri, oke! Pak Sanad diminta Om Bramantyo membantu anak buahnya mencari bukti di lapangan!"
" Ih, Bang Tedi ...Kirain mau ngomong apa! Jenna biasalah berangkat sendiri. Ya, sudah... Nih, ada Mama. Mau ngomong nggak?"
" Bolehlah!" ujar Bang Tedi pasrah.
__ADS_1
Tak lama terjadilah percakapan antara ibu dengan anak laki-lakinya. Biasanya si Mama banyak memberi nasehat untuk putra keduanya itu... Jenna hanya senyum- senyum geli, mendengar suara sang Mama. Mana berani membantah kakaknya yang super cool itu. Ibu Arunika saat berbicara dengan Bang Tedi persis layaknya berbicara dengan seorang remaja yang baru berusia 15 tahun... Padahal umur kakaknya itu sudah hampir 30 tahun. Sudah cukup dewasa dan memegang jabatan tinggi di perusahaan ayahnya. Karena kemampuannya, bukan karena dia anak Feri Darmawan.
" Sana tidur!" perintah ibunya yang akan meninggalkan kamarnya.
" Baru selesai makan, Ma! Masih dicerna ini makanan di lambungku!" ujar Jenna memberi alasan.
" Lebih baik bangun cepat di pagi hari, daripada begadang!" Nasehat wanita beranak tiga yang, semua anaknya sudah beranjak dewasa. Malah si sulung sudah akan memberinya cucu kedua, 5 bulan yang aka datang .
Hampir saja Jenna melantunkan lagu dangdut " Begadang" milik Pak Haji itu yang sangat terkenal itu pada masanya. Tetapi situasi malam ini yang tidak mendukung... Jadi Jenna hanya mengiyakan saja... Daripada tambah runyam kalau dikira membantah ucapan ibunya itu.
Dulu, Pak Feri sangat keras dalam memberi aturan keluarga dan didikan pada kedua anak laki-lakinya itu. Walaupun umur mereka hampir terpaut 4 tahun. Namun kalau dalam hal kenakalan anak-anak dan remaja, Mas Bayu Aji dan Bang Tedi malah selalu kompak.
Dari kecil mereka biasa berkelahi dengan anak tetangga depan rumah. Hanya karena kalah main bola, atau bertabrakan saat main sepeda. Musuhnya pun selalu anak yang sama. Karena anak tetangganya itu selalu merasa dirinya sok jagoan dan mau menang sendiri kalau bermain apapun dengan anak-anak lainnya.
Setelah tumbuh remaja, sang ayah menyekolahkan mereka di sekolah swasta yang cukup bonafid. Karena sekolah itu terkenal dengan aturan yang sangat ketat dan disiplin yang tinggi. Tetap saja kedua kakaknya bisa terlibat tawuran dengan sekolah lain. Ataupun bersitegang dengan anak gank motor dari wilayah lain di sekitaran Jakarta Selatan ini.
***
" Jenna antar Mama melihat keadaan Marvin, ya !" bisiknya setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi. Pak Muh sudah menyerahkan kunci mobil BMW putih milik ibunya. Mana berani Jenna menolak titah sang Ratunda kalau sudah begini. Jadi di oke sajalah!
" Pak, bensin full, nih?" ledek Jenna
"'Full, Mbak Jenna! Beres... " Ujar Pak Muh itu membalas salam Jenna yang menunjukkan jempol kanannya.
Perjalanan ke rumah sakit itu lebih cepat dibandingkan jarak ke salon yang ada Kebayoran Baru. Jenna mulai fokus dengan semakin padatnya arus kendaraan menjelang siang hari. Biasanya kendaraan mulai menumpuk di ruas - ruas jalan tertentu, seperti di perempatan jalan atau di dekat lampu merah...Jenna menjadi lebih waspada mengendarai kendaraan roda empat milik ibunya itu.
Justru Ibu Arunika lebih merasa aman dan nyaman bila bepergian dengan anak bungsunya itu. Bila dia diharuskan naik mobil bersama para pengendara mobil wanita lainnya. Apalagi Karolina yang mudah panik dan nervous, bila terhadang puluhan sepeda motor di depannya, di ruas jalan yang sempit.
__ADS_1
Mungkin berkat bimbingan langsung dari kakeknya, sehingga Jenna sangat mahir mengendarai mobil. Bahkan berbagai jenis kendaraan roda empat dari yang manual maupun yang matic. Mungkin kalau si Ibu tahu, pasti akan ketar-ketir hatinya bila Jenna juga mampu mengendarai Jeep sang kakek yang biasanya digunakan untuk bersafari ke hutan raya di Sumatera. Lho, memang harus naik apa ke daerah hutan rimba seperti itu. Naik Lamborghini atau Ferrari?
Bang Fendi Sudah menyambut kedatangan mereka, di loby rumah sakit yang cukup besar ini ...Pria itu memberi penjelasan singkat tentang perkembangan operasi yang dijalani sudah Marvin... Sebab pria itu tahu, Ibu Arunika juga seorang dokter.
Mereka sudah menuju ke lantai tiga, tempat pasien kelas I dirawat... Dari jauh, Tedi melihat kedatangan adik dan Mamanya itu. Langsung Jenna menyerahkan satu kantong berisi pakaian ganti lengkap dengan underwear, perlengkapan mandi dan handuk khusus berpergian.
" Ma, di sana ada Ibunya Marvin. Kita kenalan dulu, yuk!"
" Kita? Mama kali yang kenalan, bukan aku, keles, " ujar Jenna malas.
Dia lebih suka duduk di ruang tunggu rumah sakit ini. Sambil membuka hape dan notebook untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Tante Ismaya sangat tahu cara Jenna bekerja, jadi dia selalu memberi izin bila ada keadaan darurat seperti ini.... Apalagi sejak di dalam mobil tadi, si Mama terus ngobrol dengan adik bungsunya dan istrinya itu. Selain meminta izin dari adik iparnya itu, kalau Jenna tidak masuk kerja hari ini.
Terkadang Jenna suka insecure sendiri dengan keluarga dari pihak si mamanya itu. Dimulai dari kakeknya, Pak Firmansyah Harun. Beliau adalah seorang dokter ahli paru - paru. Walaupun sudah lama pensiun dari rumah sakit untuk menangani pasien. Tetapi beliau tetap berkarya di usianya yang senja dengan ilmunya yang dimilikinya itu.
Pak Firmansyah Harun masih menjadi pembicara dan nara sumber di berbagai seminar kesehatan tingkat daerah dan nasional. Beliau malah aktif sebagai juga motivator untuk memberi penyuluhan kesehatan di berbagai daerah wilayah Indonesia tentang pencegahan penyakit paru-paru.
Semua anak-anaknya pun mengikuti jejaknya Pak Firmansyah dengan mengambil kuliah di jurusan kedokteran. Tentu dengan berbagai spesialisasi pilihan yang berbeda-beda. yang sekarang mereka tekuni sampai saat ini sebagai profesi yang utama.
Termasuk Om Jhon Sagara yang juga beristri seorang dokter ahli kecantikan dan kulit. Tante Karunia Pratistha yang menikah dengan seorang dokter hewan. Kecuali Arunika Jelita Fitri, anak perempuan sulung Pak Firmansyah Harun yang justru menikah dengan seorang pengusaha.
Praktis kalau semua kakak dan beradik itu bertemu di rumah keluarga Firmansyah Harun, yang berada Kebon Jeruk. Tentu yang dibicarakan mereka tidak jauh-jauh dari dunia kedokteran. Sebuah ilmu yang diktatnya penuh dengan bahasa dan istilah yang rumit, dari bahasa latin.
Terkadang Jenna merasa terjebak bila berada bersama anggota keluarga ibunya itu. Seringnya dia mojok sendirian dengan hape kesayangannya... Takut dijadikan objek penelitian, oleh para dokter handal itu dari metode pengobatan terbaru yang baru ditemukan di suatu negara. Huh, menakutkan!
" Dek, makan!" Ujar Tedi sambil meletakkan paper bag berisi makanan dengan logo sebuah restoran fast food terkenal. Hampir dua jam lebih Jenna menyelesaikan pekerjaan itu. Sementara di depan ruang perawatan Marvin. Kedua ibu itu masih terus ngobrol. Ibu Arunika dan ibunya Marvin.
__ADS_1
Tumben ini si Bang Tedi itu baik hati dan tidak sombong! Adiknya dibelikan makan siang dengan berbagai pilihan yang lengkap. Di paper bag itu dua potong fried chicken tight, ada french Fried, satu cup Coca-Cola ukuran besar dan beef burger ukuran sedang.