
Jenna sudah mendengar, kalau dalam minggu ini, Marvin sudah bisa dibawa pulang dan menjalani rawat jalan. Entah dia dirawat di rumah ibunya di Cengkareng atau tinggal di tempat kostnya di Pancoran. Itu sudah bukan urusannya lagi.
Tante Ismaya semakin banyak memberi Jenna tanggung jawab di salon pusat. Setelah pandemi virus covid mulai menurun, tampaknya para wanita muda mulai giat pergi ke salon lagi. Sekedar untuk mempercantik diri, karena dapat tampil di muka publik. Mereka memerlukan perawatan kecantikan seperti facial, creambath atau luluran. Sampai mencoba berbagai potongan rambut trend gaya terkini. Setelah berbulan - bulan lamanya, banyak jenis pekerjaan di lakukan di rumah atau WFH.
Banyak permasalahan wanita yang mereka konsultasi ke dokter yang bertugas di salon pusat. Dokter Niken yang paling banyak jam praktek konsulnya di salon ini. Dia berpraktek pada hari Selasa, Rabu dan Jumat. Selain hari itu ada dokter Nena Naysila dan Dokter Amalia Lutfhi
Konyolnya, Jenna juga mulai merasakan ada sikap yang berbeda yang ditujukan dokter muda itu terhadapnya. Mungkin wanita itu merasa lebih hebat dari dirinya, karena sudah berhasil menyelesaikan spesialisasinya di usia yang baru berjalan 25 tahun.
Kini penampilan wanita itu yang seumuran dengan sepupunya Karolina itu, lebih banyak bergaya bak emak - emak sosialita yang akan datang untuk menghadiri acara arisan atau kondangan. Saking hebohnya.
Mungkin karena banyak orang yang memberitahukan kepadanya dokter Niken itu kalau Jenna adalah keponakan dari Ibu Ismaya yang mempunyai salon ini. Wanita muda itu tak berkutik! Apalagi Jenna sengaja mengubah jam kunjungannya ke salon ini disesuaikan dengan jadwal praktek dokter itu. Biar wanita muda itu bertindak tidak semaunya sendiri, sebab ada Jenna yang akan mengawasinya.
" Perasaan kamu sangat sensitif ya, Jenna?" Ledek Mbak Lydia suatu hari. Mereka sedang makan di warung nasi yang letak warung itu ada di belakang gedung salon.
Di sana ada sebuah warung nasi dengan makanan khas Sunda. Isi etalase makanannya lebih simpel dari warung nasi pada umumnya seperti warteg. Alias Warung Nasi Tegal.
Ternyata Jenna menyukai masakan di warung itu. Sebab selain menyediakan berbagai jenis pepes khas Sunda itu, jenis masakan sayurannya pun hanya ada dua atau tiga menu saja setiap harinya secara bergantian. Seperti sayur asem, cah kangkung ataupun sayur bening tauge. Yang menarik lagi adalah sambel dadak yang pedas dan mantap.
Wanita paruh baya yang berjualan di warung itu sering dipanggil Ceu Romlah. Dia dibantu anak perempuan dan cucunya berjualan di sana. Dari siang pukul 10.00 sampai pukul 17.00.
" Iya itu dokter Niken. Kok, beda banget dengan dua rekan lainnya, ya?" tanya Jenna.
Mbak Lydia yang sudah sangat akrab dengan Jenna hanya tersenyum. " Merasa takut disaingi, kali?" jawab wanita beranak satu itu.
__ADS_1
" Saingan sama siapa? Kebanyakan para pelanggan salon kan, wanita! Satu - dua orang cowok yang datang. Mereka bukan levelku, Mbak," ujar Jenna menampilkan wajah geli.
Yah, cowok yang datang ke salon itu, pada umumnya mereka bekerja di bidang entertainment yang sangat memperhatikan penampilan, dari kesehatan kulit dan wajahnya yang harus bersih dan glowing. Gaya pria metropolis masa kini yang modern! Tetapi Jenna tidak terlalu suka pria yang terlalu apik atau kemayu seperti itu! Walaupun penampilan mereka masih bergaya maskulin.
" Memang dokter Niken, naksir pasiennya?"
" Bukan begitu, Jenna! Dia sudah tampil all-out. Tetapi banyak orang lebih menyukaimu... Dari mulai para pekerja salon, para OB sampai para petugas parkir!"
Jenna tertawa geli. " Itulah, Mbak Lydia. Soal bersikap baik kepada orang lain, tidak sombong, bersikap sopan dan santun kepada orang lain itu nggak ada sekolahnya! Apalagi sampai harus ambil spesialisasi ke luar negeri!" Ejek Jenna.
Mbak Lydia tercenung. Memang bersikap sopan, ramah atau menghargai orang lain itu berasal dari diri kita sendiri. Mungkin hasil penerapan dari contoh orang tua di rumah sejak dini. Bisa juga ajaran guru - guru di sekolah, dan pendidikan agama. Bahkan sudah menjadi kebiasaan atau budaya bangsa Indonesia yang terkenal sampai ke luar negeri karena keramahtamahannya.
Setelah bertahun-tahun bekerja bersama Ibu Ismaya Sagara, Mbak Lydia menyakini, keluarga dan kerabat pemilik salon itu selalu bersikap baik kepadanya orang lain. Tanpa memandang mereka itu berdasarkan status sosial, pangkat mereka atau kedudukan mereka di masyarakat.
Lama-lama, soal ketidaksukaan Dokter Niken kepada Jenna mulai jadi pembicaraan para pekerja di salon itu bila keduanya tidak datang ke salon. Mereka justru membela Jenna yang sangat bertanggung jawab dengan tugasnya itu. Tetapi wajah manis dokter Niken akan semakin cemberut bila bertemu muka dengan keponakan Ibu Ismaya itu. Apalagi, gadis muda itu sangat dipercaya mengelola salon yang cukup besar itu. Malah Dokter Niken saat mendengar fakta tentang Jenna dipercaya juga memegang salon cabang yang di Kebayoran Baru, wajahnya mendengus kesal.
Marvin sendiri ditempatkan di rumah Karolina di Sentul. Sebab Ibu Marfuah masih tetap bersikeras untuk menjaga anaknya itu sampai pulih kesehatannya, kalau bisa sampai bekerja kembali di kantor. Jadi Karolina dan teamnya pun sering ada di Sentul termasuk, si Efron.
Untungnya, di Sentul ada rumah sakit besar yang bisa dijadikan rujukan untuk Marvin melakukan kontrol kesehatan paska operasinya itu. Jadi jarak tempuhnya menjadi lebih dekat dan cukup aman .
Sampai mereka dikejutkan dengan kedatangan rombongan keluarga Farhan Hisbillah ke kediaman Damash di Sentul. Mereka datang menjelang sore hari. Saat itu Karolina sedang berada di rumah Jenna, di Pasar Minggu. Di Sentul hanya ada Opa Damash, Oma Frida dan beberapa asisten rumah tangga. Sedangkan Om Danang dan istrinya sedang mengunjungi wisuda anak bungsunya yang kuliah di Malang Jawa Timur.
" Pak, ada keluarga Pak Farhan Hisbillah yang datang!" lapor salah satu petugas keamanan.
__ADS_1
Pria tua itu sudah mendengar soal pengeroyokan Marvin, yang dulu ditempatkan di pabrik anaknya di Bogor sebagai pengawas keuangan.
Setiap sore, ibu Marfuah dan Oma Farida suka ngobrol di teras belakang. Sementara Marvin juga berada di sana untuk menikmati udara di luar kamarnya. Di sana ada seorang perawat yang ditugaskan menjaga dan merawat Marvin selama masa pemulihan tersebut.
Dua kendaraan roda empat mulai memasuki halaman depan yang diarahkan oleh satu petugas keamanan. Petugas yang lain langsung memberikan laporan kepada Bang Tedi yang sangat menjaga privasi kompleks perumahan keluarga Damash ini.
Dari mobil Inova yang paling depan, keluarlah Ibu Nyai Dian Komariah Hisbillah, bersama dua menantu perempuannya. Dari mobil Avanza keluaran 5 tahun yang lalu , Farhan keluar dengan dua anak muda lainnya.
Segera Ibu Marfuah berjalan dari halaman belakang, dari tempat Marvin duduk bersantai menikmati udara sore yang sedikit sejuk dan hangat. Wanita itu berusaha menyambut kedatangan Ibunya Farhan, yang anaknya bersahabat Marvel cukup lama. Sejak mereka bersekolah di SMA di Jakarta dan berkuliah di satu jurusan yang sama di salah satu kampus swasta terkenal di Jakarta Barat.
Rumah Pak Sungkono, ayah Karolina kosong. Tetapi ada dua orang penjaga rumah itu yang segera keluar. Begitu juga dengan seorang ART, yang sedang menyiapkan minuman untuk mereka.
Plak! Sebuah tamparan dilayangkan ibu Marfuah ke pipi Farhan. Pria itu sangat terkejut. Maksud hati ingin menyalami ibunya Marvin itu. Farhan mendapat hadiah istimewa dari wanita yang dulu sangat menyayanginya. Sama seperti ibu itu menyayangi anaknya sendiri.
"Kurang ajar, kamu Farhan! Baru sekarang kamu muncul. Mau lihat apa anakku sudah mati atau belum karena perbuatan kamu yang konyol itu ?"
" Maaf, Bu!"
" Sudah saya perkirakan, hanya begitu saja, cara kamu membalas persahabatanmu dengan Marvin. Kalau tidak ada keluarga Damash dan Darmawan yang menolongnya... Anak saya sudah mati ...Kalian ternyata sangat jahat, ya!"
Ibu Marfuah mulai menangis tersedu-sedu. Segala ketabahannya sejak menunggui anaknya yang sedang menjalani operasi. Semua kepasrahan dan doa permohonan kepada Allah SWT agar anaknya segera disembuhkan. Beberapa kali Marvin mengalami masa kritis, karena sulit bernafas akibat tendangan kuat di dadanya... Baru kini si pelaku utama itu muncul dengan wajah innocent itu.
Wajah Ibu Nyai Dian Komariah merah padam melihat anaknya ditampar dengan kuat oleh wanita yang menurutnya dibawah level martabat keluarganya. Tetapi dia tak berani membalas. Hanya menatap sangat geram.
__ADS_1
Mata wanita mendelik ketika Pak Damash dan istrinya datang. Tadi mereka di antar oleh satu orang petugas keamanan untuk duduk di teras belakang. Bukan lagi diterima di ruang tamu utama di kediaman Adrian Saputra Damash lagi .
Padahal di kompleks milik pribadi Adrian Damash itu terdapat tiga rumah besar bergaya Eropa modern yang berdiri angkuh di sana. Rumah itu masing -masing dihuni oleh Pak Damash sendiri, dengan kedua ruang milik anak- anaknya. Tanpa Feri Darmawan. Bukan sekedar menunjukkan kalau keluarga mereka kaya dan terpandang di daerah tersebut ini. Malah sejak lama keluarga mereka sangat dihormati oleh sebagian penduduk di wilayah ini.