Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 101. Tersapu Awan Mendung


__ADS_3

Jenna menghabiskan sedikit demi sedikit makan siangnya itu... Sambil jari- jarinya sibuk mengirim laporan pekerjaan itu kepada Mbak Arini lewat notebook miliknya.


Mbak Arini yang menjadi resepsionis di salon cabang Kebayoran Baru itu sangat jarang absen atau izin... Katanya, dia sudah sangat bersyukur masih bisa bekerja di tengah keterpurukan ekonomi akibat wabah pandemi. Sebab Ibu Ismaya tidak menutup usaha salonnya itu.


Mereka para pekerja salon membentuk satu tim, dengan menawarkan jasa pelayanan salon dari rumah ke rumah untuk menerima panggilan dari para pelanggan eklusif. Mereka melakukan pekerjaan dalam tim itu hampir setahun lebih. Sehingga para pekerja salon masih punya sumber pendapatan dari gaji yang mereka terima sebagai karyawan.


Awalnya, Tante Ismaya sudah berniat mencari satu resepsionis lagi, agar bisa bergantian jam kerjanya dengan Mbak Arini. Apalagi pemasukan keuangan salon mulai semakin lancar dan membaik setelah sejak Jenna berhasil mengelolanya dengan cermat.


Segala hal diatur Jenna dengan sangat teliti dan efektif. Laporan keuangan pemasukan salon diterima si Tante setiap tanggal 27. Setelah selesai pembayaran gaji karyawan dan keperluan belanja salon harian dan bulanan.


Tidak jauh dari Jenna duduk, ada sepasang mata dari wanita paruh baya yang terus memperhatikan dengan seksama. Sedikitnya, ibunda Marvin itu pernah mendengarkan cerita anaknya itu. Tentang rasa kekagumannya pada sosok Jenna itu, yang ternyata bukan hanya adik bosnya Marvin di kantor. Tetapi anak bungsu dari pengusaha terkenal Feri Darmawan, dan istrinya Dokter Arunika Fitri Jelita.


" Mari, Bu Marfuah kita makan siang di kantin belakang!" ajak Ibu Arunika.


Wanita itu agak canggung menerima ajakan Dokter Arunika, ibunya Tedi Darmawan. Ibu Marfuah sangat panik ketika mendapat kabar dari Pak Tedi kemarin malam. Kalau anaknya mendapat musibah dan harus dibawa ke sebuah rumah sakit besar di daerah Jakarta Selatan.


Wanita yang tinggal sendirian di sebuah perumahan di daerah Cengkareng itu dijemput oleh salah satu orang kepercayaan Pak Tedi. Jadi dia asal saja memasukan pakaian ganti seadanya di sebuah tas besar bepergiannya.


Wanita itu semakin canggung saat digiring oleh Ibu bos anaknya itu menuju lift. Terlihat jelas perbedaannya, dia hanya mengenakan gaun hijab batik coklat sederhana dan berkerudung bergo hitam. Sedangkan tampilan Ibu dokter Arunika, layaknya wanita sosialita yang akan menghadiri undangan pesta. Dari atas kepala sampai kaki semuanya terpadu serasi. Penampilan Dokter Arunika itu selalu elegan, simple, juga mahal.


" Anak perempuan Ibu Dokter tidak diajak!" tanya Ibu Marfuah sambil menunjuk ke arah Jenna. Gadis itu sejak tadi duduk di sudut ruang tunggu yang mengunakan meja. Guna menyelesaikan semua pekerjaannya.


" Lain, Bu. Anak zaman sekarang! Sudah makan seperti itu, ya. Sudah kenyang ... Nggak kayak kita selalu cari nasi. Kita telat makan saja, langsung besoknya sakit, karena masuk angin..." ujar Ibu Arunika santai.


"Lho, Ibu Dokter bisa juga sakit?" tanya wanita itu tidak percaya.


Ibu Arunika tertawa... " Ya, ampun memang dokter itu robot, ya ? Apalagi saya sudah mengalami faktor 'U' . Jadi gampang capek dan sakit! "


Mereka terus bercakap - cakap dari lift, turun ke lantai lobby lalu berjalan ke arah belakang rumah sakit. Di sana ada tulisan besar, kantin.

__ADS_1


Selama mereka makan, Ibu Marfuah berkali - kali menutup matanya . Takut berhalusinasi.... Ternyata semua anggota keluarga Darmawan, sudah turun tangan untuk membantu Marvin yang mengalami musibah dikeroyok oleh sekelompok orang tak dikenal.


Sesekali Ibu Marfuah memuji dalam hati. Betapa mulia wanita yang berprofesi sebagai dokter ini. Tidak sungkan ngobrol dan makan bersama dirinya yang hanya ibu rumah tangga biasa. Walaupun Marvin selalu mengirim uang bulanan yang cukup kepadanya. Bu Marfuah masih mencari kesibukan untuk mengisi waktu luang di rumah. Dia menerima pesanan kue atau cake ulang tahun dari para tetangganya.


Wanita paruh baya itu telah dapat menilai, kalau gadis seperti Jenna terlalu tinggi untuk digapai oleh anaknya. Sepertinya ada jurang pemisah yang sangat besar, yang memperlihatkan perbedaan di antara keduanya.


Marvin hanyalah seorang pekerja kantoran biasa. Apalagi sikap Jenna terlalu biasa, tidak memperlihatkan ada perhatian rasa khusus terhadap anaknya itu. Bahkan Jenna tidak menengok keberadaan Marvin yang masih terbaring lemah di ruang ICU.


Gadis itu yang terlihat bersahaja itu berasal dari keluarga kaya dan terhormat. Semua anggota keluarganya mengenyam pendidikan tinggi. Mereka mempunyai kehidupan yang makmur dan status sosial yang tinggi di masyarakat.


Sejak tadi dokter Arunika yang merupakan ibu dari Tedi Darmawan, bos anaknya itu terus menemaninya... Tidak ada rasa sungkan atau merendahkan. Sampai beberapa kali Dokter Arunika berkonsultasi pada para dokter rumah sakit ini yang menangani operasi Marvin... Selain untuk memastikan kalau keadaan Marvin cukup stabil dalam masa pemulihan pasca operasi.


" Nanti Ibu Mar, tinggal di rumah Bibi saya yang tidak jauh dari sini... Biar pulang pergi - dijemput Pak Sanad ." Kata Dokter Arunika lagi.


Ibu Arunika tidak setuju ibu Marfuah yang sejak semalam terus berjaga di depan ruang ICU ini. Tanpa tempat yang memadai untuknya beristirahat atau tidur


Tedi izin kembali ke kantornya. Setelah ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya sendiri. Sebab ayahnya sedang meninjau perusahaan cabang yang ada di Semarang.


Bergantian Pak Sanad, Fendi dan Gunawan menjaga Marvin yang masih dirawat di ICU karena mengalami luka serius, ada pendarahan dalam. Apalagi Keadaan Ibu Marfuah sudah tua.


Kakak perempuan Marvin tinggal bersama suaminya di Pontianak dan Ambon. Jadi mereka tidak bisa datang ke Jakarta. Selain para suami mereka terikat dengan tugas dan pekerjaannya. Mereka juga memerlukan dana yang besar untuk pulang-pergi yang harus menggunakan pesawat terbang. Karena jarak yang cukup jauh. Jadi mereka hanya berkirim kabar dan video call dengan ibunya itu untuk memperlihatkan keadaan Marvin.


Jenna tadi hanya menyalami Ibunya Marvin sebentar dengan senyuman ramah. Tetapi mulai sibuk sendiri. Jenna kurang nyaman berada di dekat wanita yang sedang bersedih atau menangis. Takutnya dia bersikap kurang sopan atau kurang hormat dengan wanita itu.


Sampai dia dan ibunya pamit pulang. Setelah urusan untuk Bu Marfuah untuk beristirahat dan menginap telah diselesaikan. Wanita itu terus mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan semua bantuan yang diberikan oleh keluarga Darmawan.


" Jenna nanti kita mampir ke rumah Bibi Santi, ya?" ujar Wanita itu setelah pamit.


Mereka menuju ke rumah Bibi yang tidak jauh dari lokasinya dari rumah sakit itu. Hanya berjarak 1 km saja. Di rumah saudara ibunya itu, ada sebuah bangunan besar berlantai dua yang dijadikan rumah sewa atau tempat kost. Bangunan itu ada di depan rumah induk.

__ADS_1


Di bagian lantai atas, ada sepuluh kamar yang disewakan. Setiap kamar mempunyai kamar mandi di dalam. Juga sudah lengkap dengan berbagai perabotan. Ada AC, WiFi dan kulkas mini. Jadi penyewa hanya cukup datang hanya membawa koper berisi pakaian saja.


Di lantai bawah, hanya ada lima kamar sewa. Masing-masing kamar itu terdiri dari dua kamar tidur, ruang dapur mini, kamar mandi dan sedikit ruang terbuka untuk menjemur pakaian. Ditambah Water heater, AC dan kulkas mini.


Bibi Santi sudah menyiapkan satu kamar sewa yang sudah diberi berperabot lengkap, layaknya tinggal di hotel. Biasanya kamar itu memang diperuntukkan untuk kost mahasiswa magang, tamu atau keluarga pasien yang memerlukan tempat bermalam dengan harga yang tidak terlalu mahal.


Bibi Santi sudah cukup berumur, dia mengelola tempat itu setelah suaminya meninggal. Dari penghasilan sewa- menyewa itulah si Bibi yang merupakan adik ipar dari Pak Firmansyah Harun hidup dan membiayai pendidikan anak-anaknya sampai mereka lulus, bekerja dan berumah tangga. Dia juga memperkerjakan satu keluarga untuk mengurus kamar-kamar kost tersebut.


"Ini cucu Bibi, sudah hilang atuh wajah Sundanya, ya!" Ujar Wanita itu kepada Arunika.


" Ya, Nek... Maklum anak blasteran, jadi agak beda, gitu!" Ledek Jenna terhadap wanita yang bisa disebut juga neneknya itu.


" Blasteran apa, Jenna? Sunda, Jawa sama Minang, kok! Kita nggak ada keturunan Indo... Adanya Indonesia!" Sahut Ibu Arunika mengoreksi. Maklum Bibi Santi masih berbicara dengan logat sundanya yang fasih. Padahal sejak si Bibi yang menikah dengan Adik Pak Firmansyah dan tinggal puluhan tahun di Jakarta. Tetap saja cara bicaranya tidak berubah.


"Ini sangat melelahkan, Jenna! " keluh ibunya itu. Saat kendaraannya yang dikemudikan Jenna menuju arah pulang.


Jenna mengangkat alisnya. Lelah? Nggak salah! Sejak di rumah sakit, para dokter pun menyambut kehadiran Ibunya dengan sopan dan ramah... Padahal mereka hanya berdiskusi di sebuah ruangan yang yang kantor pimpinan para dokter bedah di rumah sakit itu.


Mereka banyak memberi penjelasan dari berbagai tindakan setelah operasi itu. Belum lagi perjalanan menuju ke rumah Bibi Santi, si ibu hanya duduk manis di samping dia mengemudi. Sesekali dia menelpon rekan kerjanya di klinik.


Si Ibu mulai merasakan ketidaknyamanan, dengan sikap diam Jenna selama perjalanan pulang.. Bibir Jenna masih manyun, ketika si Ibu berhenti di lapak martabak kesukaan anggota keluarganya. Sesekali Jenna hanya menghembus napasnya kesal. Dia tidak mau turun dari mobilnya... Akhirnya Ibu Arunika yang keluar dari mobil dan memesan tiga loyang martabak telur spesial.


Begitulah kalau Jenna sudah ngambek! Dia yang capek membawa kendaraan yang bertenaga besar ini, belum lagi menyelesaikan laporan yang tertunda. Eh, bukanya mengucapkan terimakasih. Malah dia ibunya sendiri yang bilang capek! Huh, tadi pagi siapa yang ngotot ingin menjenguk Marvin ?


" Jenna!"


Anak gadisnya itu keburu pamit dan naik tangga menuju kamarnya. Biasanya dia sudah nggak mau keluar kamar bila sudah lelah seharian di jalanan.


Berkali -kali, wanita itu menatap tiga dus martabak itu ya g diletakkan Mak Isah di atas meja makan. Wanita itu sudah menyiapkan makan malam, sebelum dia kembali ke rumahnya di paviliun depan. Biar nanti Mbak ayu yang merapikan meja dan mencuci piringnya. Ruang makan yang luas itu kembali sunyi. Padahal baru saja terdengar azan Isya berkumandang....

__ADS_1


__ADS_2