
Jenna masih berusaha bersikap tetap santai. Padahal di sini dia berbicara dengan sang kakek yang sedang berkobar - kobar semangat juang 45- nya. Melawan ketidakadilan dan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh Ibu Nyai dan para menantu perempuannya, terhadap Karolina Damash.Cucu perempuan pertama yang sangat disayanginya.
" Nih, Opa minum dulu! " pinta Jenna, tangannya mengulurkan sebotol Tumbler berisi air putih hangat. Jenna mulai mengamati keadaan kakeknya itu karena kesehatan jantungnya belum pulih benar. Takutnya emosi pria itu akan membuatnya kembali sakit.
Pria tua itu sangat patuh dengan anjuran cucunya itu. Segera air hangat itu diminumnya untuk menetralkan segala emosinya. Sebenarnya pria itu juga sudah membuat langkah antisipasi terhadap perkembangan yang terjadi, kalau masalah tanah kavling di Parung itu semakin meruncing. Selama yang masih saling cakar - cakaran itu adalah anggota keluarga besar Hisbillah sendiri. Hal itu tidak membuatnya menjadi permasalahan.
Sayangnya, Ibu Nyai bukanlah orang yang mau mengintropeksi dirinya sendiri selama ini. Karena merasa tindakan yang dia lakukan itu selalu benar. Bahkan dia dengan mudahnya selalu mencari kambing hitam pada setiap permasalahan yang muncul di keluarganya. Apalagi sejak goyahnya perusahaan dan yayasan yang dikelola dia dan anak- anaknya. Pemasukan semakin minim, sementara berbagai kebutuhan semakin meroket akibat dampak pandemi yang muncul di pertengahan tahun 2020.
Bahkan wanita tua itu dapat meyakinkan pada semua anaknya, kalau semua kesulitan ekonomi yang mereka alami saat ini, adalah berkat campur tangan keluarga Damash dan Darmawan. Sehingga mereka menanggung hutang yang sangat besar di bank ...
***
" Nanti kamu pulang dijaga Fendi, ya?" Tegas Opa.
" Siapa Fendi itu, Opa?" tanya Jenna bingung.
" Pemuda yang beberapa kali berusaha mengikuti mobilmu, tetapi selalu kehilangan jejak!" jelas Si Opa sambil menyeringai lucu.
" Terus dia ngadu sama Opa begitu?" tantang Jenna konyol.
Pria itu tertawa geli. " Memangnya dia anak kecil! Fendi itu juga
belajar di padepokan Kakek Guru Umar. Jadi dia menilai kamu cukup waspada juga ... Padahal dia baru sebulan ini mengenal seluk - beluk lalu lintas di Jakarta. Ya, terang saja, ada yang lebih lihai, dong ! Tentunya orang yang lahir dan besar di Jakarta, khususnya di daerah Pasar Minggu!" Ledek si Opa lagi.
" Padepokan Kakek Umar?" Gumam Jenna sambil berpikir panjang. Tanpa memperdulikan ocehan si Opa barusan.
__ADS_1
" Iya, dia sudah lama berniat menemui Opa... Setelah Nenek Umi meninggal setahun yang lalu! Barulah para murid meninggalkan padepokan di desa. itu dan mencarinya penghidupan masing-masing."
Jenna termenung... Dia adalah salah satu murid istimewa yang diterima belajar di padepokan milik Kakek Umar itu. Selain hanya datang berguru saat libur sekolah saja, selama dia bersekolah di SMP kelas 7 sampai kelas 9. Kakek Umar juga tidak pernah mengambil murid perempuan untuk belajar di padepokan pencak silatnya milik nya itu. Sebab syarat menjadi murid di sana adalah harus tinggal di sebuah kompleks pemukiman sederhana milik pria itu, di sebuah desa yang berbatasan dengan dua provinsi di Pulau Sumatera itu.
Si kakek Umar pun mau menerima Jenna, karena beliau berkawan baik dengan Pak Adrian Damash. Mereka sama-sama mempelajari ilmu bela diri itu dan saling menghargai.
Kakek Umar juga melihat minat Jenna yang sangat besar terhadap ilmu bela diri asli Indonesia itu. Sayangnya, oleh guru yang membimbingnya itu Jenna hanya diperbolehkan memilih dan mempelajari satu senjata saja sebagai pegangannya dan andalannya.
Akhirnya Jenna memilih untuk mempelajari penggunaan senjata berupa pisau kecil yang sering disebut badik, dalam ujian terakhirnya di padepokan itu.
Ilmu menggunakan senjata tajam itu langsung diturunkan oleh Kakek Guru Umar, yang merupakan warisan dari leluhurnya.
Bahkan pria tua itu sangat bangga karena Jenna punya tekad, disiplin dan cepat menyerap ajaran itu. Sampai sang guru itu menyarankan agar Jenna juga mempelajari ilmu bela diri dari negara yang lain. Untuk menambah wawasan dan kemampuannya itu.Seperti Taekwondo, Karate dan Aikido.
Jadilah Jenna mengikuti berbagai latihan bela diri sebagai ekskul di sekolahnya. Sayangnya Jenna kurang menyukainya. Paling hanya mempelajari dasar-dasarnya ilmu beladiri itu saja, ketika berlatih di berbagai tempat latihan itu. Tak lebih dari 3 bulan lamanya, setelah itu dia keluar dari pelatihan itu karena bosan. Selebihnya dia berlatih kekuatan tubuh dan nafasnya dengan berolahraga sehari-hari, seperti joging, bersepeda sampai berenang.
" Jangan sedih...Nek Umi meninggal terkena covid tahun lalu ....Dia sudah meninggal di rumah ketika para muridnya sedang mengusahakan mobil untuk untuk membawa wanita itu dibawa ke rumah sakit di kota , " ujar Si Opa menguatkan.
Sekarang Jenna bersiap-siap untuk pulang kembali setelah menyelesaikan acara makan malam bersama. Efron tadi tidur siang lebih nyenyak daripada biasanya. Mungkin karena di tempat ini lebih tenang dan tidak banyak orang.
" Jenna! Ini Fendi!" panggil Opa Damash.
Jenna sedang mengamati Suster Fani yang sedang menyuapi Efron. Perjalanan pulang ke rumah, paling lama hanya 60 menit dari rumah Opa ini. Namun kalau Efron kelelahan karena dibawa bepergian jauh, biasanya akan langsung tidur. Sampai terbangun lagi di tengah malam karena mau pipis. Jadi Suster Fani berinsiatif untuk memberi makan lebih dahulu pada anak asuhannya itu. Apabila sudah tidur di jalan nanti tidak perlu dibangunkan lagi karena perutnya telah terisi.
" Saya Fendi Baharuddin!" ujar Pria itu sopan.
__ADS_1
Dia berdiri di depan Jenna, menangkupkan tangan kanannya di dada kiri, sambil menganggukkan kepalanya. Jenna yang merasa tidak enak. Dalam berbagai aturan, seharusnya dia yang menghormati lelaki itu . Kalau sama - sama belajar ilmu beladiri di satu padepokan, dia adalah kakak seperguruannya. Dalan hal usia pria itu sepantaran dengan usia Bang Tedi dan Marvin... Mungkin di antara 28 tahun sampai 30 tahun.
Mungkin karena dia diperkerjakan di rumah ini oleh Opa Damash, jadi Jenna adalah cucu majikannya yang wajib dihormati. Pria berotot itu membawakan semua barang - barang keperluan Efron untuk dimasukkan ke dalam bagasi Honda Jazz Jenna. Sementara pria itu bersiap-siap dengan mobil sejuta umatnya itu. Jenna pamit pulang kepada Opa dan Omanya itu.
Sebenarnya di kompleks itu masih tersisa kavling yang cukup luas untuk dibangun beberapa rumah untuk para anak dan cucu Damash. Termasuk jatah Pak Feri, putra sambungnya. Tetapi Pak Feri malah membeli rumah neneknya, Ibu dari Oma Frida yang di Pasar Minggu. Katanya sebagai kenang - kenangan... Sebab di rumah itu dulu, yang sekarang menjadi bangunan paviliun tempat keluarga Mak Isah tinggal. Feri kecil menyaksikan perjuangan ibunya sebagai single parent, berjualan sembako di pasar sambil membawa dirinya yang masih balita, juga melayani para pembeli di tokonya yang sederhana.
" Mbak, Si Om Gagah itu menjaga kita, ya?" tanya Suster Fani tiba-tiba.
Tanpa sengaja Jenna melihat mobil Kak Fendi itu yang ada di belakangnya, dari spion mobil sebelah kanan. Jenna mengemudikan mobil itu masih cukup stabil, di bawah kecepatan 80 km perjam. Mungkin kalau dia membawa penumpang yang usianya lebih dewasa, akan dicobanya jalan Tol Jagorawi arah ke Jakarta yang saat itu dalam keadaan lengang. Jenna akan memacu mobil itu laksana berada di sirkuit Mandalika, yang merupakan tempat balapan motor terbaru di tanah air.
" Alhamdulillah!" seru Fani ketika mobil merah itu memasuki garasi rumah. Efron masih terlelap lagi. Mbak Ayu segera datang dan mengendong bayi gemoy itu untuk dibawa masuk ke dalam rumah.
Jenna melihat Mbak Ayu yang cukup kuat itu saja harus berkeringat membawa Efron masuk. Di dalam ada Pak Feri yang langsung menyambut Efron dan segera dibawanya menuju lantai atas, ke kamar bayi.
" Opa, sehat, Jenna?" tanya Pak Feri ketika melihat Jenna meletakkan beberapa barang milik Efron di atas meja kabinet.
" Sehat, Pa! Darimana Opa tahu soal tanah di Parung yang bermasalah itu, ya?"
" Biarkan saja! Opa itu pasti banyak mendapat laporan dari orang Pemda atau rekan-rekan bisnisnya, " kata Pak Feri santai.
" Pasti Ibu Nyai menyangka ada kaitannya dengan kita, deh..."
" Sudahlah! Kita ikuti aturan dan perintah Opa saja! Fendi yang akan menjagamu dari jauh... Kalau untuk Mamamu dan Karolina biar disiapkan supir khusus untuk mereka bepergian ke mana pun." Ucap Pria itu tenang.
Sampai malam Jenna masih termenung dari jendela kamarnya... Situasi seperti ini yang membuatnya tidak nyaman... Kalau Opa Damash sudah bertindak, tentu beliau sudah mendapatkan informasi yang akurat tentang peristiwa yang sedang terjadi di sana.
__ADS_1