
Mas Jos izin makan ke ruang makan di lantai satu. Di ujung ruangan sana masih ada Mbak Meta menyisakan sedikit pekerjaan pada dua gadis remaja yang sedang dirias untuk keperluan suatu foto graduation di kampusnya secara virtual.
Tante Angelina dan Karolina makan di ruang kerja Jenna sambil ngobrol dengan akrabnya. Baby Efron pun sudah terbangun. Lucunya dia menangis mencari Jenna. Karena tadi Jenna yang menidurkannya.
" Kamu sudah makan, Jenna! Tante tadi pesan banyak! Di tas itu ada juga boks makan siang juga."
" Terimakasih, Tante. Jenna tadi sudah makan bakso sama suster Fani barengan..."
Tiba- tiba telinga Jenna berdenging, sebab sempat didengar kalau Karolina membicarakan Pandu Samidi. Yah, sih! Telinganya ini yang terlalu sensitif , kalau mendengar nama lelaki arogan itu yang akan membuatnya semakin ilfil.
Hapenya berbunyi. Tumben si papa yang menelpon. Ternyata Pria itu meminta Jenna membawa Karolina, dan Baby Efron pulang ke rumah tepat waktu. Sebab kedua orang tua Karolina ada di rumahnya, di Pasar Minggu.
" Oke, Pa! Iya. Kita mau kemana, sih? satu jam lagi kamu sampai di rumah !"
" Siapa, Jen?" tanya Karolina mau tahu.
" Papa Feri...Kita harus segera pulang. Sebab kita bawa seorang bayi , jadi nggak bagus di luar rumah terlalu lama..."
Tante Angela pamit setelah menyelesaikan makan siangnya. Ada bapak tua, yang merupakan supir pribadinya yang telah menjemputnya wanita itu
Huh, dada Jenna agak lega. Sebab bukan si kutu kurpret yang menjemput si ibunda tercinta untuk pulang ... Bisa kacau dunia persilatan! Kalau Karolina sampai bertemu dengan Pandu Samidi di sini. Sepertinya tadi mereka membicarakan tentang perjodohan begitu!
Jenna telah menggiring rombongan lenong from Bogor itu untuk keluar dari gedung salon untuk masuk ke dalam mobilnya. Segala perlengkapan si bayi yang seabrek banyaknya itu memenuhi bagasi belakang mobilnya. Sampai dibantu oleh Pak Ujang yang harus membawakan tas dan strollernya.
Jenna sampai berpikir keras, bagaimana tadi Karolina naik grab sampai ke tempat ini. Apa dia tidak repot? Padahal dengan bawaannya yang segunung, begitu banyak dan merepotkan.
__ADS_1
" Ayo jalan, Jenna. Apalagi?" bentak Karolina senewen.
" Iya, Nyonya cerewet!"
Dari tadi Suster Fani hanya tersenyum saja melihat kedua saudara sepupu itu saling melontarkan kata-kata ejekan. Namun keduanya tidak marah atau pun tersinggung sedikit pun.
Bahkan saat di villa pun, para pengurus dan para sopir pribadi Pak Damash, selalu menceritakan kehebohan keduanya saat masih kecil sampai beranjak remaja. Ada- ada saja kejadian yang muncul di luar jalur normal umumnya anak - anak perempuan bermain. Dari badan yang babak belur karena naik pohon berbatang kecil yang membuat mereka jatuh. Sampai semua pohon yang sedang berbuah yang ada di kebun villa itu dipetik semua buahnya. Tanpa mempedulikan omelan para Mama mereka. Kalau buah yang masih muda itu akan terasa pahit kalau dimakan.
Jenna dan Karolina hanya bisa tersenyum masam, bila dosa - dosa masa kecil mereka diungkapkan dan kadang dijadikan bahan cerita hiburan para pekerja si Opa. Ternyata yang belum berubah ya, Jenna! Saat ini Jenna masih nggak bisa diam. Aktif kemana pun tanpa rasa capek.
Pemandangan di rumah Jenna terasa agak berbeda ketika mobil Honda Jazz yang dikemudikannya memasuki halaman rumah. Di garasi terlihat ada mobil ayahnya, juga mobil ibunya terparkir di sana. Justru ada tiga mobil berbeda yang terparkir di sisi halaman paviliun yang menjadi tempat tinggal keluarga Mak Isah.
Kini Karolina yang hatinya ketar-ketir, karena dia melihat bukan saja ada mobil milik suaminya. Di sana ada Mercedez Benz yang sering digunakan papanya ke kantor. Juga mobil Alphard hitam milik mertua tercinta.
" Lewat belakang!" bisik Jenna memberi solusi. Sebab dia hanya ingin melindungi baby Efron yang segera digendong suster Fani.
Benar saja, Mak Isah sedang sibuk mengatur jamuan makan untuk para tamu sang majikan. Sementara ART yang lain, sedang membawa baki minuman berisi teh manis dan kue- kue buatan Mak Isah yang baru dikeluarkan dari oven.
Cepat Karolina mengganti baju bepergian dengan gaun yang lebih sopan di kamar tidur untuk tamu. Sedangkan suster Fani mulai menidurkan Baby Efron lagi.
Tadi Karo di salon sempat berdandan sedikit, dengan make up terbaru keluaran dari produk milik Tante Ismaya. Yang pada tahun ini mengeluarkan eyeshadow series dengan warna-warni alami dengan kesan 'Natural Looks'.
Kehadiran Karolina ternyata sudah ditunggu oleh semua orang yang hadir di ruang keluarga itu. Secara sopan, Karolina menyalami kedua mertuanya, kedua orangtuanya, juga kedua orang tua Jenna. Yang merupakan paman dan bibinya. Satu hal yang dia lewatkan adalah bangku tempat Farhan, tempat suaminya duduk. Tentu saja mata Farhan menahan marah dan kesal karena Karolina sudah tidak menghargainya lagi.
" Silahkan dicicipi kue buatan, Mak Isah!" Ucap Dokter Arunika ramah. Wangi prol tape khas buatan kepala ART di rumahnya ini memang yang paling jempolan nikmatnya.
__ADS_1
Wajah Ibunda Farhan sudah semakin tak sedap dipandang mata. Melihat Karolina disayang dan dilindungi oleh orang tua dan keluarga pamannya. Si Mami mulai merasa takut, setelah Pak Feri meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
"'Selamat sore, semua... Mohon maaf, atas undangan yang sangat mendadak dari saya pada siang tadi... Atas nama papa saya, Adrian Damash, saya yang mewakili beliau untuk membahas permasalahan kedua anak kita yang kita cintai ini."
Ada helaan napas tertahan dari orang -orang yang mendengar suara pria yang tampak sangat berwibawa itu. " Farhan, Karolina. Saya menghadirkan kalian di sini bukan untuk mengadili kalian, atau menyalahkan apa pun yang terjadi dalam permasalahan kalian dalam beberapa bulan ini. Saya hanya mencari solusi buat kalian, agar dapat menyelesaikan persoalan ini ... Nak Farhan, apakah kamu masih mencintai istrimu, Karolina?"
" Masih, Om. Tetapi..."
Pak Feri menatap mata Farhan tajam . " Kenapa? Apa rasa itu sudah berubah? Kalian sudah mempunyai seorang anak, jadi sudah sewajarnya, kalian menjadi pasangan orang tua yang bertanggung jawab... Karolina, masihkah kamu mencintai suamimu?"
" Maaf, Om... Saya sudah kehilangan rasa cinta itu. Setelah Kak Farhan hanya menganggap saya hanya menjadi beban hidupnya... Maaf juga buat Papi dan Mami mertua. Saya sudah banyak bercerita pada Mama Amanda, saya memilih bercerai demi kewarasan mental dan tubuh, saya."
Suara lembut Karolina mengejutkan semua para orang tua yang hadir di sana. Apalagi wajah Mami mertua yang terlihat tidak suka dengan ucapan menantu dari anak kesayangannya itu.
Karolina terduduk tegak, dengan pose terbaiknya. Lama dia menempa dirinya pada latihan modeling sejak dia duduk di bangku SMA kelas 10. Kegiatan itu telah memberinya satu penghargaan pada dirinya pribadi. Tetapi sejak dia berumah tangga, masuk ke dalam sebuah keluarga Hisbillah, yang dipimpin oleh seorang ibu yang sangat otoriter. Sampai semua anak laki-lakinya tidak mampu menentukan kehidupannya sendiri. Selalu diatur - atur menurut kehendak si wanita tua itu. Dengan anggapan dirinyalah sang Ratu Penguasa.
" Karolina? Apa itu yang kamu inginkan, Nak?" bisik Pak Feri lagi pelan.
" Iya, Om. Anak buah Papa sudah memberi informasi tentang wanita lain yang tinggal bersama Farhan di sebuah rumah di kota Serang. Suami saya telah menikahi wanita itu atas izin sang Mami..."
Prang, sebuah cangkir indah jatuh dari tangan Tante Amanda yang gemetaran karena berita itu ... Wajah wanita itu terlihat sangat marah. Dengan bibir gemetar dia menatap wajah besannya itu.
"'Saya tahu dalam keluarga besar Anda, Ibu Haji Komariyah Dian Hisbillah. Seorang suami boleh beristri lebih dari satu. Kalian biasa berpoligami! Tetapi saya tidak terima anak saya dihina seperti ini. Farhan ceraikan Karolina sekarang juga!" Ujarnya terbata-bata.
Farhan terhenyak. Wajah Tante Amanda memerah dengan amat sangat. " Talak Karolina sekarang juga, di hadapannya keluarga ini ! Atau saya laporkan pernikahan kedua ini ke kantor polisi. Karena pernikahan tanpa izin istri pertama bisa diperkarakan. Hukumnya penjara. Sialan kamu Farhan!"
__ADS_1
Belum pernah Farhan mendengar lontaran ucapan kasar dari ibu mertuanya itu. Kini Karolina dikhianati dengan cara seperti ini. Lelaki yang merupakan menantu pertamanya itu menikah lagi diam- diam, tanpa izin dari istri pertamanya.
Farhan terduduk lemas. Tentu dia tidak mungkin mau tinggal di sebuah rumah dengan wanita lain, kecuali dengan istri barunya itu. Wanita yang menggurus semua keperluannya. Tentu juga wanita yang telah dipilih oleh Maminya, yang menurutnya lebih baik dari Karolina!