
Selama acara makan - makan itu berlangsung, Jenna malah mencari duduk di samping si Om Jhon. Dia asyik saja, mengambil beberapa makanan yang ada di meja adik bungsu Mamanya itu. Tanpa menyadari kalau dia masih berada di forum resmi sebuah rapat antara dua perusahan besar.
" Salad ini kurang sedap, Om!" bisik Jenna. Setelah dia mencicipi salad milik pria itu dengan sendoknya sendiri.
Dia merasakan salad itu sedikit cair, karena sausnya banyak mendapat campuran dari tepung maizena yang mudah mencair bila bercampur dengan mayones juga susu. Juga terlalu lama ada di suhu ruangan.
Si Om hanya mengangguk- angguk saja, tanda setuju. Pria itu niatnya tidak makan makanan berat setelah makan siang di kantor tadi. Istrinya yang mengirim salad campur yang menurut keponakannya itu kurang enak. Mana dia peduli. Dia tahu lidah Jenna terbiasa mendapat makanan yang segar, sehat dan alami, karena campur tangan si ibu sejak mereka masih kecil.
Rapat dengan Pak Pandu tadi benar-benar menghabiskan energinya, juga membuatnya kepalanya cukup panas! Jadi dia tidak menolak ketika Jenna menawarkan makanan yang baru di makannya dua suap, schotel makaroni panggang dari wadahnya.
Jena tidak tahu, kalau segala tingkah laku dan tindakannya diamati seorang pria dewasa, yang duduk bersama asisten dan orang-orang yang duduk agak menjauh di meja seberang sana.
Pria itu memang sejak beberapa waktu yang lalu sangat tidak menyukai cara gadis muda itu yang sangat dekat dengan Pak Jhon Sagara .Pria yang akan menjadi rekan bisnisnya nanti. Apalagi, si gadis cantik itu tak mempedulikan dirinya, seakan uangnya tidaklah cukup banyak dengan bosnya itu.
Si Abang yang duduk di samping sang Tante mana peduli. Dia asyik menikmati pasta yang diberikan si Tante kepada si keponakannya gantengnya itu. Dia memang sudah melewati jam makan siangnya kali ini, untuk mengejar waktu dari Tangerang ke Jakarta Pusat.
Dulu sekali, Tante Ismaya agak bingung mengapa Jenna dan Karolina memanggil kakaknya itu dengan sebutan, Abang! Padahal dalam keluarga mereka, silsilah Jawa yang lebih mendominasi. Baik dari keluarga besar suaminya maupun dari keluarga Pak Feri.
Seharusnya Tedi mendapat panggilan" Mas" yang berarti kakak laki - laki. Lucunya, kedua gadis dari keluarga Damash itu menolak keras. Sebab wajah sang kakak semakin dia besar, semakin memperlihatkan warisan wajah Eropanya.
Sampai Ibu Arunika juga ikut bingung. Sebab dia merasa dalam keturunan mereka tidak ada nenek dan Kakek ataupun Mbah Buyut yang menikah dengan orang asing. Apalagi yang berasal dari daratan Eropa.
Sampai Oma Frida menyadari, ternyata, almarhum suami pertamanya dulu, yang mempunyai kakek yang keturunan Belanda. Sehingga mewariskan darahnya pada sosok Tedi Dwi Yan Darmawan, sang cucu.
"'Mana ada orang bule dipanggil Mas! " Kekeh Karolina yang tetap nekat memanggil kakak sepupunya itu dengan Abang. Panggilan itu melekat sampai sekarang. Setelah mereka tumbuh dan menjadi dewasa sekarang.
Terkadang timbul rasa iseng pada mereka berdua untuk menggoda Tedi, dengan memanggilnya layaknya menyebut si abang penjual makanan yang mendorong barang dagangannya dengan gerobak yang sering lewat di depan rumah.
__ADS_1
" Itu anak- anak Pak Ferry Darmawan!". Bisik Jordy, sahabat dan rekan kerja Pandu.
Mata Pandu menatap Sahabatnya itu tak percaya. Sebab nama Feri Darmawan sudah sangat dikenal sebagai pengusaha tangguh di tanah air.
Mereka menikmati pasta yang dibawakan oleh Ibu Ismaya Sagara, istri Pak Jhon Sagara. Apalagi saat ini, agak sulit untuk memesan meja di sebuah restoran untuk merayakan kesepakatan ini. Jam buka restoran semakin sore ditutupnya. Tidak menerima makan di tempat. Lebih banyak pesanan dengan online, atau take away saja. Karena penerapan Sosial Distancing yang semakin menguat.
"Lalu hubungan gadis manja itu dengan Pak Jhon Sagara?"
"'Dia anak kakaknya Pak Jhon. Ibunya adalah Dokter Arunika Fitri Jelita Darmawan. Bro, baca lagi data yang gua kirim bulan lalu! Nama keluarga mereka itu lebih terang dari cahaya matahari di siang ini!"
"Maksud Lo?" tanya Pandu kurang paham.
" Mereka punya latar belakang keluarga yang sangat bagus. Waduh! Lho di Singapura kerja atau ke night club tiap malam. Kalau nggak dapat warning dari sang Ayah. Bakal jadi ayam geprek Lo di sana!"
Agak marah, Pandu mengetok kepala Jordy. Selama dua tahun ini mereka bekerja lebih keras lagi memajukan perusahaan iklan ini, dengan kliennya perusahaan besar dan ternama di Indonesia.
" Huh! Makanya! Tuh muka biar tambah ganteng sedikit pasang senyum. Biasa, kalau kita mau menarik perhatian cewek beri umpan madu! Jangan wajah sangar, kayak tangung bulan."
Sesekali mata Pandu mengamati sikap dan tingkah laku Jenna dengan Pak Jhon Sagara, Ibu Ismaya dan Tedi Dwi Yan Darmawan! Akrab, dekat dan saling menggoda.
" Boleh aku pulang, Om?"
" Lho, pulang aja, Jenna,! Kan ada Bang Tedi!"
" Males, Om. Cucian bajunya banyak. Nanti disuruh bawa ke laundry. Dia lebih suka tidur di apartemennya daripada di rumah Papa!"
Jenna memeluk erat tubuh kekar Om Jhon. Lalu mengecup pipi halus Tante Ismaya dan menonjok kuat- kuat bahu si Abang. Pria itu meringis, walaupun tonjokan itu tidak terlalu kuat, tetapi agak bertenaga. Gadis itu berjalan mulai meninggalkan meja itu.
__ADS_1
" Bu Rully mau bareng pulangnya?" Tawar Jenna manis.
" Boleh, Pak?"
" Boleh, Bu Rully. Silakan..." Ucap Pak Jhon santai. Maklum saat ini dia sudah dijaga pawangnya, Ibu Ismaya sang istri tercinta.
Konyolnya, Jenna tak mempedulikan kedua makhluk pejantan tangguh itu! Jenna berjalan, membuka pintu ruangan besar itu diikuti oleh Bu Rully setelah merapikan berkas- berkasnya dan dimasukan ke dalam tas besar.
" Hati- hati , Mbak Jenna!" seru Pak Radi dan dua pegawai Tante Ismaya lainnya. Mereka semua duduk di dekat pintu keluar ruangan ini.
Pandu dan Jordi berpandangan, kesal. Mereka tidak dipandang sama sekali oleh gadis cantik itu. Malah wanita manja itu masih menyapa para pria yang bekerja sebagai supir atau OB saja!
Padahal penampilan Pandu dan Jordi cukup maksimal siang ini sebagai pengusaha bonafid.
Kemeja terbaik, dasi dengan warna yang serasi, belum lagi sepatu pantofel yang disemir kinclong. Bahkan, Pandu memakai jam tangan mahal
" Om , Jenna biar ikut aku di kantor Denpasar, ya?"
" Minta izin dulu dengan papamu, Tedi. Paling tidak diizinkan!" Seru Pak Jhon meledeknya.
Tante Ismaya tertawa. Jenna akan selalu dilindungi oleh mereka. Walaupun gadis itu berusaha mandiri dan kuat. Bahkan dulu dia tidak diizinkan kuliah di luar kota Jakarta. Ini mau dibawa si Abang ke Pulau Bali. Sedangkan Tedi saja agak kesulitan mengurus keperluan hidupnya saja.
Tanpa sengaja mata Tedi bertatapan dengan Pandu. Dia pernah melihat lelaki itu beberapa waktu yang lalu. Tante Ismaya mengeluhkan susahnya bekerja sama dengan perusahaan iklan milik Pandu tersebut. Nilai yang diminta terlalu tinggi!
Di perjalanan, Bu Rully minta diturunkan di pinggir jalan sebelum masuk area rumahnya dengan alasan mau mampir belanja di sebuah supermarket terbesar di sana. Wanita itu menitipkan tas berkasnya untuk dibawa ke kantor besok.
Sebenarnya, menurut Jenna ini terlalu siang untuk pulang ke rumah. Sebab dia sudah berada di tengah kota , sangat dekat dengan wilayah rumahnya. Baru pukul 17.00.
__ADS_1
Apalagi sekarang jarang mampir ke mall atau nongkrong di kafe lagi. Setelah sebulan ini membantu urusan Om Jhon. Setidaknya urusan dengan perasaan Pandu sudah selesai, dan Jenna dapat kembali ke posisinya yang semula.